Zakat Fitrah dan Instrumen Kebahagiaan Di Hari Raya Idul Fitri

305

LOMBOKim.com – Jika di hari-hari biasa, mungkin tidak sedikit saudara-saudara kita yang kekurangan makanan. Tapi pada hari raya Idul Fitri yang penuh kemenangan setelah sebulan penuh berhasil menyelesaikan puasa ramadhan boleh dibilang tidak ada kata “lapar”. Semua berbahagia, yang kaya, yang miskin, yang petani, yang pejabat, semua ikut merasakan kemenangan.

Salah satu instrumen untuk mewujudkan kebahagian di hari raya Idul Fitri adalah dengan membayar zakat fitrah. Zakat fitrah disyariatkan untuk membersihkan jiwa orang yang melaksanakan puasa sekaligus meringankan beban orang-orang fakir untuk mencukupi kebutuhan Idul Fitri.

Perintah untuk menunaikan zakat fitrah mulai diwajibkan pada bulan ramadhan tahun ke 2, yang bertepatan sebagi tahun diwajibkannya puasa ramadhan. Menurut sebagian besar ulama zakat fitrah hukunya wajib. Hal ini didasarkan hadist dari Ibnu abbas, “Rasulullah saw. Mewajibkan zakat fitrah pada bulan ramadhan kepada seluruh umat islam sebesar satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum bagi hamba sahaya dan orang merdeka baik laki-laki maupun perempuan dan baik anak kecil maupun dewasa”.

Meskipun hadist di atas menunjukkan pada jenis makanan tertentu yang merupakan makanan pokok daerah Arab, bukan berarti kita yang tinggal di daerah luar Arab harus mengeluarkan zakat fitrah seperti jenis makanan tersebut, melainkan disesuaikan dengan makanan pokok daerah masing-masing. Andaikan makanan pokok berupa beras di Indonesia maka jenis makanan itulah yang dikeluarkan.

BACA JUGA  Status WA "Hujan dan Rindu" Emang apa Hubungannya?

Besaran zakat fitrah yang dikeluarkan adalah satu sha’ setara dengan 2,304 kg per orang di bulatkan menjadi 2,5 kg per orang. Dikutip dari badan Amil Zakat Nasional besaran zakat fitrah di indonesia diukur dalam beras atau makanan pokok lainnya sebesar 2,5 kg.

Menurut pendapat beberapa ulama selain dengan makanan pokok, zakat fitrah juga dapat dibayar dengan uang yang setara dengan satu sha’ gandum, kurma atau beras. Nominal zakat yang dikeluarkan disesuaikan dengan harga beras atau makanan pokok yang berlaku di daerah masing-masing.

Orang yang diwajibkan membayar zakat fitrah adalah orang yang mempunyai kelebihan harta dari dari kebutuhan pokoknya minimal satu sha’ kurma, gandum, atau beras. Orang yang tidak memiliki kelebihan harta tidak diwajibkan mengeluarkan zakat.

Selain mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri, muzakki (orang yang berzakat) juga harus mengeluarkan untuk isteri dan anak-anaknya yang masih kecil dan tidak punya harta.

Ada perbedaan pendapat tentang zakat fitrah anak yang sudah dewasa. Anak yang sudah dewasa menurut mazhab Hanafi dan Maliki, muzakki tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah atas mereka meskipun mereka masih menjadi tanggunganya dan belum bekerja.

Sebab anak yang telah akil baligh, seorang ayah tidak memiliki kekuasaan atas mereka. Sementara mazhab Syafi’i dan dan hambali menyebutkan bahwa sang ayah tetap wajib memberikan zakat fitrah kepada mereka jika mereka belum mampu menafkahi dirinya karena belum bekerja.

Kapan waktu mengeluarkan zakat fitrah?

Perihal waktu mengeluarkan zakat fitrah ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Menurut jumhur ulama waktu diwajibkanya membayar zakat fitrah adalah sejak matarahari terbenan di akhir bulan Ramadan, karena waktu itulah yang disebut dengan waktu fitrah (terbuka). Oleh karena itu orang yang meninggal setelah terbenamnya matahari pada akhir ramadan wajib dikeeluarkan zakat fitrahnya.

Melakukan pembayaran zakat fitrah lebih awal dari waktu wajibnya, menurut mazhab Syafi’i di perbolehkan sejak awal bulan ramadan. Sementara mazhab Maliki dan Hambali di bolehkan maksimal tiga hari sebelum Idul Fitri. Sedangkan menunda pembayarannya menurut imam Syafi’i dan Hambali tidak diperbolehkan tanpa uzur.

Berbeda dengan pendapat tiga mazhab lainya, ulama mazhab Hanafi mempunyai pandangan yang berbeda. Menurut imam Hanafi waktu wajib membayar zakat fitrah adalah sajak terbitnya matahari pada Idul Fitri. Zakat fitrah menurut pandangan imam Hanafi merupakan ibadah yang berhubungan dengan fitrah. Keterkaitan ini mempunyai makna khusus yang menunjukkan waktu pembayarannya. Namun apabila seseorang membayar zakat fitrahnya pada awal bulan Ramadan hukumnya boleh.

Disamping itu mazhab Hanafi juga memperbolehkan pembayaran zakat setelah sholat Idul Fitri, karena di dalam zakat fitrah terdapat makna tolong menolong. Oleh karena itu menurut mereka keterlambatan membayar zakat tidak bisa menggugurkan kewajiban untuk membayarnya.

BACA JUGA  Arti Mimpi Berada di Keramaian Orang

Adapun mengenai bayi yang lahir sebelum terbenanya matahari, ulama sepakat wajib dikeluarkan zakat fitrah baginya dan orang yang meninggal sebelum matahari terbenam tidak wajib zakat.

Singkatnya ada beberapa waktu dan hukum pembayaran zakat fitrah: 1) waktu yang di wajibkan yaitu setelah terbenanya matahari di akhir ramadan hingga datangnya waktu sholat subuh pada hari raya idul fitri, 2) waktu yang di perbolehkan yaitu sejak awal hingga akhir ramadan, 3) waktu paling utama setelah sholat subuh pada hari raya idul fitri hingga khotib naik mimbar, 4) waktu makruh yaitu setelah sholat idul fitri, 5) waktu tidak di bolehkan yaitu menunda-nunda pembayaran zakat hingga terbenamnya matahari di hari idul fitri. Bagi kita, perbedaan pendapat waktu pembayaran zakat tidak perlu terlalu dipersoalkan.

Masing-masing punya landasan. Tinggal kecenderungan kita mengikuti ulama yang kita anggab ijtihadnya paling rasional dan logis. Semoga ulasan singkat ini bisa membukakan mata hati kita untuk untuk selalu peduli terhadap sesama. Untuk berbuat baik kita bisa melakukannya kapan saja tidak perlu harus menunggu saatnya wajib berzakat tiba. Wallahu’alam bilshawab. (Hudori Rahman)

Leave A Reply

Your email address will not be published.