Wisata Hutan Mangrove di Keruak, Mungkinkah Hanya Impian Saya

131

KERUAK, LOMBOKim – Saya adalah Mahasiswa Universitas Mataram (Unram) yang berdomisili di Kecamatan Keruak. Tepatnya dimana, tunggu teman – teman pemacu Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) yang tergabung di LOMBOKim.com memuat profil saya yah. Aku, kasih tau siapa saja yang membaca tulisan ini, terutama untuk pembaca yang dari luar Lombok. Kalau yang dari LOmbok mungkin sudah tau, apalagi yang dari Keruak.

Bahwa, Hutan mangrove atau yang biasanya dikenal sebagai hutan bakau banyak tersebar di Kecamatan Keruak seperti di Desa Tanjung Luar, Pijot dan Ketapang Raya. Namun dari waktu ke waktu tidak pernah terlihat adanya upaya pemanfaatannya, baik yang dilakukan oleh pemerintah desa maupun oleh masyarakat sendiri.

Salah satu hutan Mangrove dengan viuw laut & bebukitan yang cukup Indah.
Foto : Susi Susanti (LOMBOKim)

Di sisi lain juga banyak kawasan mangrove yang sudah berubah fungsi seperti di Tanjung Luar. Padahal apabila dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, hutan mangrove bisa memberikan dampak ekonomi yang besar. Salah satu bentuk pemanfaatan hutan mangrove yang bisa dilakukan adalah menjadikannya sebagai tempat wisata.

Tapi bukan sekedar tempat wisata pada umumnya, melainkan tempat wisata yang memuat unsur edukasi. Di kawasan hutan mangrove dapat disediakan conservation area atau lahan konservasi dimana tempat ini sangat cocok sebagai tempat praktik untuk mengenal mangrove lebih dekat.

Pihak pengelola juga dapat menyediakan alal-alat dan Standard Operational Procedure (SOP) penanaman mangrove bagi pengunjung untuk melakukan kegiatan konservasi yang bisa menyelamatkan dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya konservasi. Disinilah sebenarnya letak poin plusnya, karena kebanyakan tempat wisata yang dibangun saat ini hanya berfokus ke penyediaan spot foto.

Untuk pembangunan tempat wisata dengan konsep seperti ini memang membutuhkan modal yang besar dan waktu yang tidak singkat, oleh sebab itu dibutuhkan koordinasi dari banyak pihak seperti pemerintah desa, pihak swasta, akademisi dan tentunya dari masyarakat setempat. Kerjasama diantara pihak-pihak tersebut haruslah seimbang serta dilaksanakan secara efektif dan efisien. Semoga (YUNITA)

Comments are closed.