Tak Setuju AHAD Diganti MINGGU? Jika ini Sejarahnya ?

166

BAHAS BERITA, LOMBOKim.com – Meskipun di kalender banyak tertulis nama hari Minggu sebagai sebutan hari setelah Sabtu dan sebelum Senin, tapi tidak sedikit, masih banyak lidah yang menyebut hari itu tetap bernama Ahad. Contohnya almarhum Papuk saya. Semoga Allah meridhainya.

Masih teringat di benak Saya bahwa sampai beliau meninggal, Saya tidak pernah mendengarnya mengucapkan kata Minggu menyebut hari pertama (Ahad) dalam makna bahasa Arab itu. Saya dan beberapa teman pun masih sering melafalkannya. Contoh ketika sahabat Saya ingin mudik menemani istri tercinta ke Jawa tanggal 30 Desember besok.

“Sabtu, pamit dulu ke Wakan, Ahad insyaAllah langsung ke Jawa, doakan selamat bang,”pinta Karomi, nama sahabat ini masih menyebut hari Ahad, meskipun di kalender tertulis Minggu.  Saya tidak akan membahas kapan dia balik ke Lombok, karena tulisan ini hanya membahas sejarah hari Ahad diganti menjadi Minggu. Paham. InsyaAllah.

Akhina fillah Ustadz Moh. Toha dalam artikelnya di moslemtoday.com mengupasnya secara tuntas. Judulnya Kronologis kata AHAD diganti MINGGU. Ia meracik tulisannya dengan banyak caption
(👉 )Alkisah; “Sebelum Tahun 1960, tak pernah dijumpai nama hari yg bertuliskan MINGGU selalu tertulis hari AHAD. Begitu juga penanggalan di kalender tempo dulu, masyarakat Indonesia tidak mengenal sebutan Minggu,” tulisnya.

Selengkapnya, tanpa diedit inilah tulisan yang kami kutip yang bersumber dari  moslemtoday.com.

👉Kita semua sepakat bahwa kalender atau penanggalan di Indonesia telah terbiasa dan terbudaya utk menyebut hari AHAD di dalam setiap pekan (7 hari) dan telah berlaku sejak periode yg cukup lama.
=> Bahkan telah menjadi ketetapan di dalam Bahasa Indonesia.
=> Lalu mengapa kini sebutan hari Ahad berubah menjadi hari Minggu?
=> Kelompok dan kekuatan siapakah yang mengubahnya?
=> Apa dasarnya ?
=> Resmikah dan ada kesepakatankah?

BACA JUGA  Meletku..!!! Ada Dusun Influencer, Dusun Orong Gelumpe Siap Mulai?

👉 Kita ketahui bersama bahwa nama hari yang telah resmi dan kokoh tercantum ke dalam penanggalan Indonesia sejak sebelum zaman penjajahan Belanda dahulu adalah dgn sebutan :
1. Ahad (al-Ahad = hari kesatu),
2. Senin (al-Itsnayn=hari kedua),
3. Selasa (al-Tsalaatsa’ = hari ketiga)
4. Rabu (al-Arba’aa = hari keempat),
5. Kamis (al-Khamsatun = hari kelima),
6. Jum’at (al-Jumu’ah = hari keenam = hari berkumpul/berjamaah),
7. Sabtu (as-Sabat=hari ketujuh).

👉 Nama hari tersebut sudah menjadi kebiasaan dan terpola di dalam semua kerajaan di Indonesia.

=> Semua ini adalah karena jasa positif interaksi budaya secara elegan dan damai serta besarnya pengaruh masuknya agama Islam ke Indonesia yang membawa penanggalan Arab.

👉 Sedangkan kata MINGGU diambil dari bahasa Portugis, Domingo (dari bahasa Latin Dies Dominicus yang berarti “Dia Do Senhor”, atau HARI TUHAN KITA).

=> Dalam bahasa Melayu yang lebih awal, kata ini dieja sebagai Dominggu dan baru sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kata ini dieja sebagai Minggu.
Jadi, kita pasti paham siapa yang dimaksud TUHAN KITA, bagi yg beribadah di hari minggu.

👉 Bagaimana ini bisa terjadi?
=> Ada yang mengatakan dengan dana yang cukup besar dari luar Indonesia, dibuat membiayai monopoli pencetakan kalendar selama bertahun-tahun di Indonesia.
=> Percetakan dibayar agar menihilkan (0) kata AHAD diganti dengan MINGGU.
=> Setetah kalender jadi, lalu dibagikan secara gratis atau dijual obral (sangat murah).

☝Dampaknya adalah:
=> Masyarakat Indonesia secara tak sadar, akhirnya kata Ahad telah terganti menjadi Minggu di dalam penanggalan Indonesia.

🙏 Pentingkah?
Jawabannya :
Sangat Penting untuk upaya mengembalikan kata Ahad .

👉 Bagi umat Islam adalah penting, karena :
=> Kata Ahad mengingatkan kepada nama Allah SWT yg Maha Ahad sama dengan MahaTunggal/ Maha Satu / Maha Esa.
=> Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan
=> Kata Ahad dalam Islam adalah sebagai bagian sifat Allah SWT yang penting dan mengandung makna utuh melambangkan ke-Maha-Esa-an Allah SWT.

👌 Oleh karena itu :
=> Mari kita ganti MINGGU menjadi AHAD.
=> Apabila dalam 7 (tujuh) hari biasa disebut SEMINGGU, yang tepat adalah disebut dengan SEPEKAN, dan bukan minggu depan, tapi pekan depan.

“Semoga hari ini penuh berkah buat kita dan keluarga. Amin Ya Robcbal ‘Alamin,” tutupnya dalam artikel yang sangat masuk akal itu.

BACA JUGA  UKM Bidang Automotif, Cara Memulai dan Membesarkannya

====
Penulis membahas hari Ahad diganti Minggu dan mengutip sumber diatas, tak berniat ingin menjadikannya sebagai propoganda atau memaparkan isu yang terkait paham SARAkah namanya?.

Karena khawatir saja “pake banget” sejarah ini disebut “hoax” karena sesuai yang disampaikan Rocky Gerung, yang  menjadi mandat bagi penulis untuk itu lo, (terkait bangsa kita kali ya) atau apa saja yang disebut kehilangan akal sehat atau menjadi pesan bagi Saya untuk tetap menggunakan “akal sehat”.

Penulis membahas hari hari Ahad diganti Minggu, hanya menambah iklan terkait proposal Saya untuk sebuah kegiatan yang semoga esok bisa terwujud. Nama kegiatannya adalah “AHAD ARTIKEL” sejenis Kopi Darat (Kopdar) Komunitas atau bolehlah disebut ILCnya generasi muda yang bakalan update termuat di dutarinjani.club. Bahasan,cara dan pelaksanaanya, kita tunggu tahun 2018 berakhir.

Ide ini juga tidak terlepas dari inspirasi karena pelangi potensi yang bersinar di balik “Rinjani Muda” Nama Kabinet BEM UGR priode ini. Ditambah dengan semangat muda Kepala Biro Humas UGR dalam kopi-kopi diskusi membahas petuah,pesan dan kiprah para tokoh.

Semoga melalui menteri-menteri terkait di BEM UGR setuju rencana itu bisa terwujud. Colek Kemitraan Nusa Tenggara Institute, Organisasi-Organisasi Mahasiswa, serta para awak media penebar gagasan dan terapan (mz/suararedaksi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.