Sudah Galau Petani Tembakau Tambah Galau Dampak Corona

177

Ahad Artikel, LOMBOKim – Masalah kualitas? tembako virginia Lombok memang sudah tidak diragukan lagi, besarnya modal sebagai biaya produksi tembako seolah bukanlah halangan bagi para petani tembako, khusunya para petani tembako di wilayah kecamatan sakra, sakra timur, sakra barat, keruak dan jerowaru.

Peluang usaha pertanian di komoditas tembako memang sungguh menjanjikan bagaimana tidak? Harga tembako kering saja bisa mencapai 4-5 juta per kwintal. Sungguh menjanjikan memang, Selama ini petani tembako mampu menyekolahkan anaknya dari jenjang SD sampai tingkat perguruan tinggi dari hasil penjulan tembako.

“Keuntungan dari menekuni usaha tembako oven (tembako virginia) sudah banyak hasil yang saya dapatkan, mulai dari mampu memenuhi biaya sekolah kedua anak saya sampai tingkat perguruan tinggi, tidak hanya itu saya bisa membeli sawah, membangun oven tembako itu juga berasal dari hasil tembako,”tutur Mamiq Joh (6/4/2020)

Keuntungan yang begitu besar seolah membuat para petani tembako engan untuk berpaling dari komoditas ini. Sampai saat ini tembako masih menjadi komoditas andalan di sektor pertanian akibat dari kualitas dan harga jual yang begitu tinggi.

Iming-iming mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan tembako justru di tahun 2019 harga tembako yang anjlok menyebabkannya mengalami kerugian.

“Tidak hanya saya yang mengalami kerugian namun semua petani tembako di Lombok Timur mengalami kerugian akibat dari murahnya harga beli tembako di tingkat petani. Walau dibeli dengan harga murah kita hanya bisa pasrah,” ungkapnya

Hal ini disebabkan karena jumlah produksi tembako Virginia Lombok yang begitu besar dan para petani belum bisa mengolah tembako Virginia secara mandiri diperparah komoditi tembako Virginia Lombok hanya dijadikan komoditi ekspor barang setengah jadi.

Bagaimana dengan tahun ini, tahun 2020, akankah petani tembako di Lombok mampu mendapatkan keuntungan??

Melihat kebijakan pemerintah dalam siaran pers kementrian keuangan republik Indonesia.(Jakarta, 13/09/2019). Pemerintah metetapkan rencana kebijakan cukai hasil tembako tahun 2020. Maka mulai tanggal 1 januari 2020, pemerintah menetapkan kenaikan tarif cukai dengan rata-rata sekitar 23% dan menaikan harga jual eceran (bandrol) dengan rata-rata sekitar 35%. Tentu kebijakan ini akan berimbas lansung pada penyerapan perusahaan rokok yang akan berdampak pada petani tembako.

Bukan hanya itu, masih masifnya penyebaran virus corona covid-19 yang sudah mewabah di seluruh dunia, menyebabkan banyak Negara menerapkan sitem lockdown. Sehingga membuat banyak sektor yang terkena dampak akibat dari merebaknya virus corona covid-19. Dalam proses pemulihan ekonomi, tentu akan membuhkan waktu yang cukup lama utuk bisa normal kembali.

Akhirnya sambil menghela nafas, minum kopi dan menyedot batangan hasil petani tembakau, kamipun berujar “Sudah Galau dari Tahun sebelumnya, Pengusaha Tembakau kini Tambah Galau lagi Dampak Corona” (Lalu Haris Indarawan for Forum Diskusi Ahad Artikel, LOMBOKim )

BACA JUGA  Gila..!! Gini To Perjuangan Pejabat Pemrov NTB, "Catatan Ekspedisi Rarak Rongis - Matemega - Marente"

Leave A Reply

Your email address will not be published.