Soal Corona & Gunung Merapi, Surat Dari Editor Kompas Ini Nyentuh Banget

216

BAHAS BERITA, LOMBOKim – Siang ini, jam di kedatangan surat dengan isi terlampir sekitar pukul 12.47. Sebuah email berjudul Surat dari Editor Kompas.com menyapa. Isinya membahas soal corona dan berbagai hal terkait pristiwa baru – baru ini di tanah air. Isinya menyentuh banget.

“Hari ini, saya dan sebagian dari kita sudah #dirumahaja untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah. Kita memasuki pekan ketiga untuk upaya baik memutus rantai penyebaran virus corona,” paragraf pertama di surat itu.

Ada lanjutan pertanyaan di surat itu “Apakah rantai penyebaran Covid-19 terputus?” Lalu diulas “Jawabannya, Tidak sepenuhnya memang. Terlihat dari kurva jumlah kasus positif Covid-19 masih naik dari hari ke hari dan belum melandai seperti setiap hari diupdate pemerintah,”.

“Lantas, apakah upaya kita bersama memutus rantai penyebaran virus corona dengan #dirumahaja sia-sia?” lanjutnya.

Jawabannya, “Saya merasa tidak sia-sia juga. Kita perlu upaya lebih gigih lagi, lebih disiplin lagi, lebih serentak lagi dan lebih terkoordinasi untuk hasil yang lebih baik mengatasi Covid-19,”.

Agar tak terlalu banyak kosakata yang dihabiskan, berikut lengkapnya sambungan dari email yang semoga saja menghasilkan apa yang semoga menjadi tujuan email tersebut, demi edukasi bersama. Berikut lengkapnya.

—STAR—
Karena itu, usulan sejumlah daerah untuk melakukan karantina wilayah perlu kita dukung dengan persiapan matang. Banyak satuan lebih kecil di daerah sudah menerapkan dengan kearifannya sendiri-sendiri.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah tengah berkoordinasi untuk memungkinkan hal ini. Peraturan Pemerintah tengah disiapkan agar segala sesuatunya bermanfaat baik untuk melindungi warga dari bahaya, bukan sebaliknya.

Pekerja migran memadati terminal bus di perbatasan Uttar Pradesh dekat New Delhi, India, pada 28 Maret 2020. Pemerintah Uttar Pradesh telah menyediakan 1.000 bus untuk pekerja migran yang hendak pulang ke desanya, tapi jumlahnya tidak mencukupi. Ratusan di antara pekerja itu lalu memutuskan pulang jalan kaki karena tidak ada transportasi yang tersedia. Situasi ini terjadi di hari keempat India menerapkan lockdown, yang berlangsung selama 21 hari sesuai instruksi Perdana Menteri Narendra Modi.(STR/EPA-EFE)

Pengalaman banyak negara yang menerapkan karantina atau lockdown membuat kita punya referensi untuk menerapkan aturan yang sesuai dengan kekhasan masing-masing daerah. Dalam pekan ini, semoga langkah lebih efektif untuk mengatasi Covid-19 bisa diambil, dijalankan, dan dampaknya signifikan.

Oya, apa kabarmu sepekan lalu? Menerapkan hal-hal baru terus-menerus selama dua pekan pasti ikut mengubah perilaku juga. Perilaku hidup bersih, misalnya.

Selama dua pekan ini, kamu pasti lebih peduli kesehatan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kamu pasti lebih mengenali tubuhmu sendiri karena intensitas perhatiannya meningkat.

Kamu juga pasti lebih sadar soal perlunya menjaga jarak fisik dengan orang lain saat harus keluar rumah untuk kebutuhan mendasar seperti belanja kebutuhan pokok dan alat-alat kesehatan dasar.

Semua ini tentu baik. Tidak hanya karena upaya kita bersama melawan virus corona, tapi untuk menjaga kesehatan kita secara keseluruhan.

Terkait bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah, kamu pasti mendapati satu titik di mana kebosananan memuncak. Lumrah alias manusiawi sekali. Saya dan banyak teman saya mengalaminya juga.

Saat kita sanggup mengatasi titik kebosanan itu, kemampuan kita mengatasi kebosanan berikutnya akan naik tingkatnya

Sambil meningkatkan kemampuan mengatasi bosan sambil tetap di rumah dan mempraktikkan hal-hal baik untuk melandaikan kurva, saya bantu update beberapa berita pekan lalu.

Seperti kita ketahui, berita duka datang dari Rumah Sakit Slamet Riyadi, Solo. Ibunda Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo (77) meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker sejak 4 tahun lalu.

Mendapati kabar duka itu, Presiden Jokowi yang berada di Bogor, Jawa Barat lantas menuju Solo untuk pemakaman ibundanya. Sekitar satu jam kemudian, Presiden Jokowi tiba di rumah duka.

Mempraktikkan seruan menghindari kerumunan untuk mencegah penyebaran Covid-19, Jokowi meminta para menteri dan mereka yang berduka mengirim doa saja dari tempat masing-masing sambil melaksanakan tugas-tugas negara.

Pemakaman Eyang Noto lantas dilakukan sangat sederhana, minim kerumunan dan menerapkan standar pencegahan penyebaran virus corona di antara yang hadir.

Selesai pemakaman, sekitar pukul 15.00, Presiden Jokowi kembali ke Istana Bogor untuk tugas-tugas negara mengatasi pendemi covid-19.

Turut berduka cita mendalam, Pak.

Pekan lalu, diputuskan juga soal Ujian Nasional 2020 yang dibatalkan. Keputusan diambil pada 24 Maret 2020 sebagai implementasi dari social distancing karena Covid-19 yang belum ada tanda-tanda mereda. Keputusan yang baik dan memerlukan langkah lanjutan untuk implementasinya.

Keputusan baik lain terkait covid-19 adalah pemerintah menangguhkan cicilan selama satu tahun untuk tukang ojek dan sopir taksi.

Namun, sekali lagi, implementasinya jadi soal. Keputusan saja tidak membuatnya terimplementasi. Cerita tukang ojek ini salah satunya. Semoga hari-hari ini, keputusan ini terimplementasi dengan baik sehingga upaya mengurangi kekhawatiran sungguh mewujud.

Pekan lalu, ditegaskan juga soal tidak akan ada lockdown. Instruksi Presiden Jokowi ditegaskan lagi oleh Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo.

Namun, pemerintah tengah menyiapkan peraturan pemerintah untuk dimungkinkannya karantina wilayah. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD menjadi penjuru untuk keputusan ini.

Sambil menanti bagaimana upaya bersama kita untuk lebih efektif mengatasi sebaran Covid-19, mari kita dukung upaya pemerintah lewat aparatnya.

Kita mendapati, aparat kepolisian kesulitan mengimbau sampai membubarkan kerumunan yang membandel. Diperingatkan untuk mencegah penularan Covid-19, massa malah tertawa.

Kalau kamu mendapati temanmu seperti itu, tolong diingatkan ya. Peringatan itu tidak hanya untuk temanmu itu, tetapi untuk orang lain yang kemungkinan tertular dari temanmu itu.

Selain berita duka yang membuat perasaan kita pilu, ada juga berita gembira terkait upaya kita bersama mengatasi covid-19. Di Malang, Jawa Timur, semua pasien Covid-19 sembuh. Ketiganya mendapatkan pengobatan yang baik dan memiliki imunitas tubuh yang mampu melawan virus.

Kabar baik berikutnya adalah dimasifkannya rapid test di beberapa tempat. Dengan tes ini, data pasien dan peta sebaran yang mengikuti akan memudahkan upaya penanganan.

Di awal, mungkin kita akan tercengang dengan melonjaknya jumlah pasien. Namun, ini menjadi lebih baik lantaran isolasi lebih terukur dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Terakhir, Gunung Merapi meletus. Letusan dengan kolom sekitar 5 kilometer ke atas ini membuat hujan abu di radius 15-20 kilometer arah barat daya sekitar Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah.

Tidak ada korban jiwa karena letusan ini.

Kabar baik yang kita harapkan dari sebaran abu Merapi adalah menjadi kesuburan bagi bumi. Semesta yang melingkupi kita tengah mencari keseimbangan baru lewat berbagai peristiwa akhir-akhir ini.

Salam seimbang,
Wisnu Nugroho

—END—


Karena surat tersebut, Saya menjadi ingat tentang sebuah kerisauan terkait penanganan-penanganan yang sepertinya masih belum mengenal psikologi dan karakter masyarakat yang ditangani, akibatnya muncullah tawa.

Tentang minimnya tanggapan karena kurangnya musyawarah terkait suara-suara rakyat yang mengandai karena dibumbui hasil dari “mereka” mencari informasi sendiri yang bertebaran soal bagaimana negara-negara atau daerah – daerah di luar asal tulisan ini muncul.

Negara – negara dan daerah – daerah yang sukses mencegah virus tersebut berkembang. Hingga menghasilkan sebuah harapan “Semoga anggaran penanganan yang tidak tepat di masing – masing daerah itu, termasuk di daerahku, bisa belajar dari cara penanganan yang tepat, “agar anggaran itu enggak sia-sia aja”

Agar pula tak ada study banding di kemudian hari yang cenderung menjadi alasan untuk menghabiskan anggaran. Akhirnya, Semoga ulasan terkait saran – saran rakyat di media sosial juga didengar. Agar surat yang diakhiri salam seimbang tersebut benar-benar bermanfaat dan berkah.

Agar yang menciptakan virus dan yang membasmi virus, Ridha bahwa dampak dari virus ini segera berakhir. Berakhir dengan keselamatan, diantaranya sama-sama belajar menerima hikmah karena Kullu Syaiin Maziah. Wallahua’lam.

Comments are closed.