Sinopsis Novel Habib Palsu Tersandung Cinta Karya Ubay Baequni

119

Sambungan – Habib Haedar Mubarrok Bin Abdurrrahman Bin Abdullah Bin Alwi  Assegaf adalah santri muda yang sangat di istimewakan di lingkungan pesantren tempat mereka nyantri. Maklum saja predikat Gus atau Habib dipondok memang  dipandang berbeda dengan yang lainnya. Maksudnya Seorang yang dipanggil dengan sebutan Gus biasanya anak Kyai yang punya pesantren besar dan berpengaruh.

Sedangkan Habib adalah seorang yang masih ada hubungan darah dengan baginda yang mulia Muhammad SAW. Jadi wajar saja kalau setiap santri yang dekat dengan Habib Haedar seperti Abdul Ghani, Gus Fauzi, dan Habib Umar serta sahabat lainnya ikut di istemewakan di lingkungan pondok tempat mereka nyantri.

Disamping itu juga Habib Haedar termasuk salah satu santri yang cerdas di pesantren. Hal ini terbukti ketika Ustadz Imran menyuruh para santri menghafal kitab Al-fiyah yang syairnya terdiri dari seribu bait. Dengan lancar dan fasihnya Habib Haedar melantunkan bait-bait syair yang dihafalnya. Tidaklah heran seandainya Abdul Ghani teman akrabnya tiada henti-hentinya mengagumi Habib Haedar, Begitu pula santri yang lainnya. Bahkan ustadz dan pimpinan pondok pun terkagum-kagum padanya.

Habib haedar memiliki kebisaan unik untuk mengisi waktu luang bersama teman-temannya. Nimbrung (berkumpul) setiap hari diwarung koprasi pondok, apabila aktivitas pondok telah selesai dilaksanakan. Ngobrol-ngobrol sambil nubruk (minum teh dengan gula batu) dan yedet (merokok)  hampir setiap hari digelar dikonplek pondok, biasanya habis isya sampai larut malam.begitulah hari-hari berikutnya.

Hari semakin beranjak remaja,bulan dan tahun pun semakain dewasa. Tanpa terasa hari-hari dipondok semakin mendekati ujung usia, tiba saatnya ujian madrasah. Para santri semakin giat menyiapkan hapalan ataupun materi yang akan ditempuh bersama pad saat ujian berlansung. Pada saat seperti ini habib haedar dan teman-temannya jarang berkumpul, paling seminggu sekali mereka bertemu.

Kini tiba saatnya ujian berlangsung, semua santri serentak melebur dalam soal-soal yang diberikan asatizd. Namanya juga ujian dan otak manusia berbeda-beda, ada saja diantara santri yang tidak bias menjawab soal-soal yang diberikan.namun habib haedar tak pernah merasa kesulitan dalam menjawab soal, baginya soal yang diberikan masih standar.

Hari demi hari telah berlalu, maka sampailah para santri pada penghujung ujian. Selesailah kepenatan para santri membedah dan menguras isi otak. Sudah waktunya santri bersantai dan menunggu hasill ujian. Sambil menuggu hasil ujian para santri dihibur dengan acara  perlombaan seperti lomba volly, sepak bola, catur, cerdas cermat, pidato dan pentas seni. Semuanya digelar ala santr. Minggu selanjutnya pengumuman hasil ujian pun dipajang dipapan Aula dan liburan pun segera dimulai. Kemudian setelah itu para santri boyongan kerumah masing-masing dan mereka bisa beristirahat lebih tenang.

Waktu liburan sudah genap, berarti liburan ini telah memenuhi syarat untuk para santri kembali kepondok. Abdul Ghani teman akrab Habib Haedar segera kebali kepondok dan rupanya kegiatan pondok sudah kembali normal seperti biasa. Jadwal-jadwal kegiatan pengajian terpanpang didepan kantor pusat. Bulan demi bulan menapaki waktu dipondok, tak terasa sudah hampir empat bulan berjalan. Kini ta’zir masal yang digelar setiap malam jumat didepan masjid pondok menghebohkan suasana dan  menebarkan ketegangan para santri. Pasalnya malam jumat kali ini yang mendapatkan Ta’zir bukan hanya santri biasa, akan tetapi ada dua santri dari golongan Habib. Padahal sudah menjadi rahasia umum kalau Habib dipondok kebal ta’zir. Biasanya kalau ada salah satu santri dari kalangan Gus atau Habib yang melanggar aturan pondok, langsung ditangani oleh Mbah Yai selaku pinpinan pondok. Tapi kali ini lain. Prosesi penta’ziran ditangani oleh para Asatizd. Mereka sudah jenuh dengan fenomena monoton itu. Bagi mereka yang melanggar hukum (aturan pondok) akan kena sanksi, siapapun orangnya tak terkecuali para Habib dipondok.

Satu-persatu para santri yang melanggar maju berbaris, lima seksi keamanan siap mengeksekusi para pelanggar. Salah satunya memegang guntig yang siap memangkas rambut-rambut mereka. Kepala pondok maju kedepan memberikan arahan dan nasihat kepada hadirin dan para santri yang terbukti melanggar.

“Ini adalah pelajaran bagi kalian, kami berharap kalian bias mengambil hikmah dari semuanya. Baik yang melaggar ataupun tidak, yang di depan kalian adalah contoh prilaku santri yang tidak semestinya ditiru.” Selanjutnya eksekusipun dimulai, satu persatu rambut mereka yang melanggar dipotong asal-asalan. Kini tiba giliran dua Habib, sesaat sebelum dipotong terdengar teriakan suara dari kerumunan santri, menghentikan sejenak proses eksekusi. “Tunggu…!” suara itu melengking ditengah hiruk-pikuk keramaian.

“Apakah kalian akan menyakiti Nabi, dengan menghukum saudaraku ini, Habib Hasan dan Habib Hilmy!” Gus Haedar merebut gunting dari tangan ustadz Faisol yang menjadi eksekutor.
“Ana Haedar Mubarrok menjamin pada malam ini tidak ada hukum gundul untuk dua saudaraku.”

Ketegasan suaranya mencengakram suasana. Dihadapan para ustadz dan santri, habib haedar memaparkan berbagai dalil dan hadis tentang etika penghormatan terhadap Habaib. Para ustadz dan kepala pondok pun tak berani membantah perkataan Habib Haedar.

Minggu selanjutnya setelah kejadian tersebut, nama Habib Haedar harum dan bersinar dikalangan Habaib dan para santri, bahkan kejadian malam itu terdengar sampai ke telinga pinpinan pondok. Sang pinpinan pondok pun merasakan suatu yang sangat berbeda pada santri yang satu ini. Kebanggaan terhadap habib haedar sangat luar biasa dimata sang pinpinan. Habib Haedar patut menjadi tauladan bagi santri yang lainnya.

Kehidupan Habib Haedar yang begitu ekslusif membuat dirinya bersinar bagai mutiara. Tidak jarang para Habib datang ketempatnya hanya untuk berdiskusi dan meminta pendapat kepadanya tentang masalah yang sedang dihadapinya.

Melihat berbagai masalah yang terjadi dipesantren habib haedar berkeinginan untuk mendirikan Jama’ah Habaib. Dan ternyata setelah sampaikan kepada para Habib dipondok banyak yang setuju terhadap idenya. Selanjutnya rapat pun digelar dengan mengundang seluruh Habib muda dipondok yang terdiri dari berbagi golongan diantaranya: golongan bin Yahya, Al-Kaf, Al-Haddad, Al-Idrus, Asseggaf, Alwy dan yang lainnya. Dan hasil rapat memilih Habib Haedar sebagai katuanya.

Setelah berdirinya Jama’ah Habaib, Habib Haedar semakin berwibawa dan terpandang dimata Habaib muda dipondok. Prioritas utama Program jama’ ini adalah pengajian internal Habaib, diskusi dan silaturrahi antar golongan. Program ini oleh para Habib tidak kalah pentingnya dengan program pesantren yang sudah ada sebelumnya. Hingga pada akhirnya kelompok ini dikenal didalam maupun diluar pesantren.

Seiring dengan perjalanan waktu, pamor Habib Haedar terus berjaya. Namun ketika kejayaan itu datang badai masalah pun melanda. Habib Haedar diisukan diam-diam menjalin hubungan asmara dengan Umi Layla Al-Jufri yang cantik dan menawan, dambaan setiap Habib muda yang pernah mengenalnya. Akan tetapi setiap kali kabar itu disampaikan pada Habib Haedar, dia tidak pernah konflin dengan terhadap berita yang didengarnya. Bahkan, Habib Haedar menanggafi biasa-biasa saja.

“Wajar akhi..biarkan saja mereka beranggapan seeperti itu. Gak usah dipikirkan, yang penting kan tidak melampaui batas. Toh semuanya masih mengikuti aturan. Demikian penjelasan Habib Haedar kepada teman setianya Abdul Ghani.

Disamping itu juga isu miring tentang Habib Haedar yang tidak kalah menariknya Sang Habib sengaja mendirikan Jama’ah Habaib supaya dia bisa dekat dengan Umi Layla Al-Jufri. Begitulah isu yang berkembang di lingkungan pesantren. Namun Habib Haedar tetap tegar menghadapi masalah yang menerpanya.

Dengan berjalannya waktu, isu miring tentang Habib Haedar terus berkembang. Kini Habib Haedar diisukan lagi, pernah melamar Umi Layla kerumahnya, akan tetapi dari pihak keluarga Umi Layla menolak lamaran Habib Haedar. Hal itu dilakukan karma nasab Habi Haedar masih diragukan keabsahannya. masyarakat yang mendengar berita tersebut merasa heran. Tidak lama kemudian para pengurus pondok dan orang-orang yang tidak sependapat dengan Habib Haedar membuat tim penyidik.

Hal ini dipicu oleh keraguan pengurus pondok terhadap Habib Haedar yang pernah mempermalukan mereka didepan umum dan dia  mengakui bahwa dirinya merupakan bagian dari Habaib. Tim penyidik ini mencari informasi sedalam-dalamnya identitas habib haedar dan keberadaan tempat tinggalnya. Setelah tim penyidik mendapatkan alamat lengkap Habib Haedar yaitu Jl. Kapten Damsur Gg. Cemara no. 36 Surabaya, tim ini kemudian melanjutkan penelusuran ke alamat tersebut. Setelah tim penyidik sampai dirumah Habib Haedar bertemulah mereka dengan kedua orang tuanya.

Kemudian tim penyidik  meminta keterangan kedua orang tua Habib Haedar terkait nasab anaknya itu. Ternyata orang tua Habib Haedar tidak tahu-menahu prihal anaknya yang mengakui dirinya keturunan Habib, yang mereka tahu adalah anaknya bernama Haedar Mubarrok bukan dari keturunan Habib atau orang terpandang. Penyelidikan pun berhenti setelah tim mendapatkan bukti yang bias menguatkan laporannya kepada masyarakat dan pimpinan pondok. Tetapi tak cukup rasanya bila informasi itu masih bersifat abstrak, tim penyidik pun membawa kedua orang tua habib haedar dengan tujuan khalayak umum bisa bertanya langsung kepada mereka agar lebih yakin kalau Habib Haedar itu bukan keturunan Habib.

Sampai di pondok, tim penyidik mengumpulkan para pengurus pondok beberapa perwakilan dari santri golongan Habib termasuk Habib Haedar untuk tanpa mengetahui terlebih dahulu maksud dan tujuan mereka berkumpul, diantara mereka ada juga santri biasa. Di depan umum tim penyidik memaparkan hasil penyelidikannya dengan menjelek-jelekkan nama Habib Haedar dan orang tua Habib Haedar pun membisu tanpa kata.

Habib Haedar telah berbohong  kepada semua orang, dia penipu ulung, dia  menggunakan predikat Habib untuk mendapatkan pengaruh dan dengan mudah melancarkan aksinya untuk mencapai tujuan yang diiginkan.

Tidak terima dengan penjelasan tadi, Habib Haedar pun membela dirinya dan angkat bicara, semua yang disampaikan tadi tidaklah benar adanya, semuanya fitnah. Habib Haedar mencoba meyakinkan khalayak umum kalau dirinya bukanlah seorang pembohong. Tapi apa daya kedua orang tua Habib Haedar angkat bicara kalau apa yang dikatakan oleh tim penyidik itu benar. Habib Haedar pun diam tersipu malu dan menundukkan kepalanya setelah semuanya jelas berangsur-angsur para santri membubarkan diri.

Sekarang teranglah bahwa sepandai-pandainya kita meyimpan bangkai pasti akan tercium baunya. Sehari setelah kejadian itu Habib Haedar pun menghilang dari pondok tanpa sepengetahuan siapapun. Keinginannya untuk mengajak Umi Layla ke pelaminan kandas di tengah jalan. Semua orang tidak tahu dimana dia berada, bahkan Abdul Ghani teman akrabnya pun bingung memikirkannya.

4.2      Analisis struktural novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” Karya Ubay Baequni

Analisis struktural merupakan suatu langkah di dalam  memahami makna secara keseluruhan karya sastra yang dibangun atas makna-makna yang membentuknya seperti yang dikemukakan oleh A.Teeuw bahwa analisis struktural merupakan langkah awal pekerjaan pendahuluan bagi para analisis sastra

Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya, secara bersama membentuk kebulatan yang indah. Struktur karya sastra juga mengarah pada pengertian hubungan antar unsur yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi secara bersama-sama membentuk satu kesatuan yang utuh.

Untuk memahami struktur novel Habib Palsu Tersandung Cinta Karya Ubay Baequni ada baiknya akan dianalisis terlebih dahulu, sehingga apa yang diharapkan oleh pengarag dapat difahami. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menganalisis unsur-unsur intrinsiknya. Untuk itu, berikut akan dijelaskan secara rinci mengenai unsur-unsur tersebut sebagai berikut.

4.2.1    Tema

Tema  merupakan ide atau pokok permasalahan dalam sebuah cerita. Hal ini sesuai dengan pendapat Yakub Sumarjo, yang mengatakan, bahwa “Tema adalah pokok pembicaraan di dalam sebuah cerita. Cerita bukan hanya berisi rentetan kejadian yang disusun dalam sebuah bagan, tetapi susunan bagan itu sendiri harus mempunyai maksud tertentu. Pengalaman yang harus dibeberkan dalam sebuah cerita harus mempunyai permasalahan” (1984: 57).

Tema pada umumnya terdiri dua bagian, yaitu tema utama (mayor) dan tema tambahan (minor).

1. Tema Mayor

Tema mayor merupakan  makna pokok cerita yang menjadi dasar gagasan  utama karya sastra (novel). Berangkat dari teori tersebut di atas, Novel Habib Palsu Tersandung Cinta Karya Ubay Baequni menceritakan tentang kehidupan seorang santri muda dari kalangan rakyat biasa yang miskin, bukan keturunan orang kaya atau terpandang namanya Haedar Mubarrok (Habib Haedar), Namun ia sangat cerdas dan berbakat, baik dikalangan sesama santri maupun dikalangan pengurus pondok tempat dia menuntut ilmu agama (Pesantren).

Kecerdasannya melebihi teman-teman sesama santri di pondok, dengan kecerdasannya ia mampu merubah namanya menjadi luar biasa dan berwibawa, yaitu Haedar Mubarrok bin Abdurrahman bin Abdullah bin Alwy Assegaf sekaligus menjadi sorotan, panutan para Habib dan teman-temannya yang lain. Dengan predikat Habib dan Ketua Habaib yang digelarnya dia bersinar dan berpengaruh dikalangan pesantren tempat dia nyantri.

Namun badai masalah datang menerpa kehidupan haedar ketika akan melamar dambaan hatinya yaitu Umi Layla Al-Jufri yang taat, cantik dan cerdas serta menjadi sorotan utama Habaib muda yang masih lajang. Masalah yang dihadapi diluar dugaan Habib Haedar. Umi Layla yang dicintainya seharusnya menjadi pendamping,  justru berbalik arah tidak mau dipersunting oleh Haedar sebelum dia menjelaskan tentang kebenaran silsilah Nasabnya, kekasihnya itu masih meragukan silsilah nasabnya yang masih kabur.

Ternyata setelah di identifikasi dia bukanlah keturunan Habib tetapi keturunan orang biasa yang hanya memanfaatkan gelar Habib sebagai topeng untuk melancarkan aksinya. Terbongkarnya kepalsuan Haedar pertama kalinya dari pihak keluarga Umi Layla yang curiga dan menemukan kejanggalan atas dirinya. Sehebat-hebatnya orang menyembunyikan bangkai pasti akan tercium pula baunya.

Novel ini mengisahkan tentang penyalahgunaan jabatan, wewenang, dan gelar demi keuntungan pribadi semata tampa memperdulikan persatuan dan persahabatan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Tunggu…!” suara itu melengking ditengah hiruk pikuk keramaian. Aku sepertinya akrab dengan pemilik suara itu, aku langsung masuk menerobos masuk kebarisan depan. Jadi penasaran siapa gerangan yang menghentikan para ustadz. Semua mata tertuju pada satu sosok di depan yang baru saja melontarkan suara lantang. Ternyata Gus Haedar, yah…tak salah lagi, ia memang Gus Haedar yang kukenal. Sedang apa dia? Dan mau apa dia?
“Apakah kalian akan menyakiti nabi, dengan menghukum saudaraku ini, Habib Hasan dan Habib Hilmy!” Gus Haedar merebut gunting dari tangan Ustazd Faisol, yang menjadi eksekutor. (H.P.T.C, 2010: 79)

BACA JUGA  Berkandang Miris, Potret Ternak Kerbau Di Desa Ketangga Jeraeng Bikin Bapper

Seketika itu para santri dan pengurus pondok tak terkecuali kepala pondok ikut meraskan ketegangan, Ustazd Faisol sebagai eksekutor pun spontan kaget, karena baru pertama kali ada Gus yang berani membatalkan ta’zir pondok dan tak ada orang yang berani membantahnya termasuk kepala pondok membenarkan tindakannya.

“ Lagi-lagi mereka dipusingkan dengan dilema seperti ini. Tapi, satu yang menyakitkan para Ustadz, pertama kalinya mereka dipermalukan didepan banyak santri. Wibawa…men wibawa! Dimana wibawa kita sebagai pengurus pondok. Baru kali ini ada Gus yang berani terang-terangan membentak mereka. Mereka juga sih yang salah. Sebagaian Ustazd introspeksi, kenapa tidak melakukan konfirmasi terlebih dahulu ke Habaib yang dianggap sesepuh”. (H.P.T.C, 2010: 82)

Dari kutipan yang pertama di atas menjelaskan bahwa Habib Haedar membantah penta’ziran yang dilakukan oleh pengurus pondok dengan tegasnya. Pengurus pondok langsung melaksanakan proses penta’ziran tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada orang yang bersangkutan, sudah siapkah dia dihukum dan adakah dispensasi hokum bagi para Habib, tindakan pengurus pondok yang berlebihan dalam menta’zir Habib inilah yang di anaggap oleh Haedar salah. Namun Ustazd Faisol  menafik kalau dirinya dan pengurus pondok yang lainya bertindak sewenang-wenang, mereka menganggap apa yang dilakukan pengurus pondok itu wajar, bagi santri manapun kalau melanggar aturan dan tata tertib pondok harus dita’zir tanpa pandang bulu.

Kemudian pada kutipan kedua, menjelaskan bahwa Ustazd Faisol menganggap tindakan Haedarlah yang salah, karena dia telah mempermalukan dirinya dan pengurus pondok yang lainnya di depan banyak santri. Dimana  wibawa pengurus kalau hal ini terus berlanjut dan mau dikemanakan pesantren yang selama ini menjadi sorotan banyak orang hal inilah yang  membuat dirinya harus melakukan sesuatu agar dapat mengembalikan kewibawaannya yang hilang.

Menurut Haedar dirinya tidaklah salah karena hanya membela saudaranya yang sesama Habib dengan menjelaskan akibat yang akan diterima oleh orang yang berani menyakiti atau  menghukum para Habib yaitu mendapatkan kualat seumur hidupnya. Seperti yang di jelaskan oleh para Ulama dan Kyai kalau Habib itu adalah orang yang  diistimewakan dan dihormati karena beliu-beliu itu merupakan keluarga Nabi Muhammmad SAW. Oleh karena itu harus ada suverpisi hukum bagi Kaum Habib.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa tema mayor atau ide pokok yang  mendasari cerita dalam novel ”Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni adalah perjuangan seorag Habaib muda yang cerdas dan berbakat dalam mempertahankan kehormatan, nasab dan cintanya yang berakhir dengan kekecewaan.

2. Tema Minor

Tema minor merupakan tema yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dapat diidentifikasi sebagai makna bagian, makna tambahan. Makna-makna tambahan inilah yang dapat disebut sebagai tema-tema tambahan atau minor. Tema minor yang ada dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta“ adalah sebagai berikut.

a. Beragam kegiatan para santri

Pada awal mulanya pesantren difungsikan sebagai tempat para santri mempelajari dan mendalami ilmu agama. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pondok pesantren juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan baik dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa melupakan ekstensinya dalam mensyiarkan agama Islam. Oleh karena itu, pemerintah pada saat sekarang ini telah mengakui secara kelembagaan  bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat mempelajari ilmu agama, melainkan juga sebagai tempat mempelajari ilmu umum.

Dalam novel Habib Palsu Tersandung Cinta karya Ubay Baequni ini pengarang mengambil setting  disebuah pesantren yang cukup modern. Akan tetapi, para santri tetap harus mempelajari dan mendalami ilmu agama di samping ilmu lainnya. Karena inilah yang menjadi perioritas utama pelajaran di pesantren. Aktivitas pesantren di warnai dengan kegiatan para santri membaca (tadarrus) Al-Quran, wiridan, Barzanji, yang dilaksanakan di Aula Madrasah atau masjid secara berjamaah atau sendirian. Berikut kutipannya:

“Waktu adzan magrib pun berkumandang para santri berbondong-bondong ke masjid, ada yang masih sibuk berwudhu sambil menunggu antrian dan sebagian melapalkan pujian-pujian dimasjid menunggu Mbah Yai datang. Setelah shalat magrib para santri kembali disibukkan dengan tadarus Al-Quran di masjid.” (H.P.T.C, 2010: 28)

Pengetahuan agama sangatlah penting bagi para santri di pesantren sebagai bekal utama dalam menjalani kehidupan dikemudian hari. Di pesantren para santri dituntut untuk mempelajari kitab-kitab Salaf seperti kitab Jurumiyah, Alfiyah, shorof, Akhlakul Banin, Fathul Qorieb dll. Hal ini sesuai dengan kutipan novel di bawah ini.

“para santri masing-masing mengaji pada asatidz sesuai dengan kemampuannya. Mereka berkelompok-kelompok, ada yang di tengah masjid, di serambi, di pinggir bahkan di samping tempat pengimaman. Beragam suara pun tumpang-tindih membahana, ayat-ayat suci Al-Quran melesak keluar dari kubah laksana gemuruh kepak sayap para malaikat.”(H.P.T.P, 2010: 28)

Pada kutipan di atas, para santri di pesantren setiap hari di sibukkan dengan aktivitas keagamaan seperti mengaji dan mempelajari beragam kitab-kitab dari ustadznya masing-masing.

Selanjutnya para santri tidak hanya dituntut untuk mempelajari  kitab tetapi juga menghafal. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

“Menjelang waktu Isya, sebagian para santri yang telah selesai mengaji Al-Quran menyiapkan diri untuk melaksanakan shalat Isya berjamaah. Seusai shalat Isya, Aku berusaha sekuat  mungkin bisa menghafal Nadham-nadham Alfiyah ini yang nantinya disetorkan setiap santri ba’da isya di kelas masing-masin dibawah pengawasan para ustadz.” (H.T.P.C, 2010:28)

Pada kutipan di atas, pengarang menceritakan kesibukan santri untuk menghafal salah satu kitab yaitu kitab Alfiyah yang terdiri dari ribuan bait syair. Hal ini dimaksudkan agar para santri terbiasa menghafal.

b. Gus atau Habib dipandang istimewa dipondok.

Gus atau Habib di pondok memang dipandang berbeda dengan santri yang lainnya. Gus biasanya keturunan Kyai yang memiliki pondok pesantren besar dan berpengaruh. Sedangkan Habib adalah seorang yang masih sedarah dengan nabi muhammad SAW. Jadi, wajar saja sekiranya mereka ini mendapat perlakuan yang istimewa di pondok. Dalam novel Habib Palsu Tersandung Cinta karya ubay Baequni diceritakan bahwa setiap malam jum’at di gelar ta’zir masal yang di hadiri pengurus pondok dan para santri.

“Malam jum’at kali ini aku mendengar beberapa santri yang kena ta’zir karna nonton konser group musik DEWA di alun-alun kota, jaraknya lima kilo lebih dari konplek pesantren. Ada sekitar dua puluh santri yang berhasil dijaring pihak keamanan pondok, dan lolos pasti lebih banyak.”(H.P.T.C, 2010: 76)

Pada kutipan di atas, diceritakan bahwa setiap malam jumat diadakan ta’zir massal bagi para santri yang melanggar aturan pondok. Ada sekitar dua puluh santri yang terjaring pihak keamanan pondok. Ada dua diantaranya golongan Habaib yang ikut terjaring. Ternyata dari puluhan santri yang kena ta’zir dua orang habib yang ikut terjaring oleh keamanan pihak  justru menghebohkan suasana penta’ziran pada malam kali ini. Masalahnya sudah menjadi rahasia umum kalau Habib di pondok itu kebal ta’zir. Walaupun demikian, proses penta’ziran tetap dilaksanakan tanpa pandang bulu. Bagi mereka yang melanggar aturan tetap di hukum siapa pun orannya.

Menjelang eksekusi kepala pondok maju ke depan, sedikit memberikan arahan dan nasihat kepada hadirin dan para santri terbukti melanggar.

“Ini adalah pelajaran bagi kalian, kami berharap kalian bisa mengambil hikmah dari semuanya.”(H.P.T.C, 2010: 78)

Selanjutnya proses eksekusipun berlangsug di depan masjid pondok. satu- persatu para santri yang melanggar dipangkas rambutnya begitu saja oleh para eksekutor. Namun ketika giliran dua Habib yang akan dihukum, Habib Haedar tiba-tiba muncul dengan suara terikan menghentikan sejenak proses eksekusi.

“Apakah kalian akan menyakiti Nabi, dengan menghukum saudarku ini, Habib Hasan dan Habib Hilmy!” Habib Haedar merebut gunting dari tangan Ustadz Faisol yang menjadi eksekutor.”(H.P.T.C, 2010: 79)

Pada kutipan diatas, Gus Haedar dengan lantangnya menghentikan proses penta’ziran karna dia berpendapat bahwa menghukum dan mempermalukan para habaib di depan umum sama halnya dengan mempermalukan dan menyakiti Rasulullah.

“Ana Haedar mubarok menjamin pada mala mini tidak ada hokum gundul untuk dua saudaraku. Ketegasan suaranya semakin mencengkeram suasana. Dihadapan para ustadz dan para santri Gus Haedar memaparkan berbagai dalil dan hadits tentang etika penghormatan terhadap Habaib.”(H.P.T.C, 2010: 80)

Seketika itu pula para ustadz dan kepala pondok tidak berani menyangkal perkataan Habib Haedar karna takut kualat (kena imbas). Apalagi di dalam pemahaman mereka telah terbentuk sebuah anggapan bahwa doa-doa golongan Gus atau Habaib itu mustajabah.

Dari beberapa kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa menghukum atau mempermalukan Habaib sama halnya dengan menyakiti Rasulullah, oleh karena itu Habaib harus diperlakukan istimewa dan dihomati.

c. Habib haedar sebagai sosok yang cerdas, yang dilematis dan panutan Habaib muda di pondok.

Semakin dihormati saja keberadaan Habib Haedar. Loyalitas dan penghormatan yang diberikan Habib-habib lain semakin mengukuhkan Habib Haedar disegani semua kalangan. Pernah suatu ketika Mbah Yai memberikan pengajian kitab Fathul Mu’in rutin ba’da Shubuh, melihat juga Mbah Yai meminta waktu sebentar kepada Habib Haedar langsung membaca do’a dengan fasihnya.

Semua mengamini dengan rasa ta’dhim dan khusu’ maka semakin melonjak saja ranting kemasyhuran Habib Haedar di seluruh jagat kesantrian. Hal ini digambarkan dalam kutipan novel berikut ini:

“Habib Haedar kadang terlihat bersama Mbah Yai di serambi pondok sedang berbincang-bincang, meskipun umur Habib Haedar relatip muda, namun intelektualitas dan kemampuan cara berfikirnya membuat orang tak bisa hanya memandang sebelah mata. Kadang HabibbHaedar menjadi tempat konsultasi, musyawarah pada Habib lain untuk sebuah masalah yang tidak bisa dipecahkan mulai dari masalah Fiqih, Tasawuf, politik, tetek-bengek apa saja. Intinya, Habib Haedar diakui secara keilmuan dan keagamaan.” (H.p.t.c. 2010, 92)

Dari kutipan di atas,  Habib Haedar menyadari bahwa kini dirinya menjadi sorotan para santri, untuk itu dia harus bisa membawa diri kemana dan akan dibawa kemana umat ini. Semakin banyak tugas maka semakin perlu meningkatkan kualitas dan kapabilitasnya agar dapat menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya.

4.2.2    Alur atau plot

Alur atau plot merupakan rangkaian peristiwa yang berkesinambungan, antara peristiwa yang satu dengan yang lain saling berhubungan di dalam cerita. Hal ini sejalan dengan pendapat M. Saleh Saad (1990: 80) yang mengatakan, bahwa “Alur atau Plot bukan sekedar urutan dari dari a sampai z saja , melainkan lebih merupakan sebab-akibat antara peritiwa yang satu dengan peristiwa yang lainnya dalam suatu cerita rekaan”. Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat dikatakan, bahwa alur atau plot merupakan struktur sambung-sinambungnya aksi atau sederetan peristiwa berdasarkan sebab akibat yang pada umumnya dimulai tahap pemunculan, melalui pertengahan dan dan peralihan pada akhir cerita.

Berangkat dari pendapat diatas maka alur yang digunakan dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” Karya Ubay Baequni adalah alur lurus (datar) atau istilah lainnya yaitu alur maju, karena peristiwa atau kejadian-kejadian diceritakan secara kronologis mulai dari tahap awal, tengah dan akhir. pada tahap awal diceritakan identitas masing-masing tokoh dan kondisi lingkungan pesantren yang harum dengan rutinitas santri yang beragam.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Sementara suasana warung yang tadinya berjubel, kini setelah kedatangan Gus Haedar apalagi ada Habib Umar yang sedari tadi makan, suasana menjadi berubah, sepi. Sebab beliu-beliu ini: Habib Umar dan Gus Haedar, adalah sosok orang yang di“istimewakan” di lingkungan pondok.” (H.P.T.C, 2010: 16)

Kemudian pada pertengahan cerita dilanjutkan ceritanya dengan memunculkan beberapa konflik antar tokoh, konflik pertama yaitu ketegangan bercampur khawatiran yang dirasakan oleh pengurus pondok atas tindakan Gus Haedar yang dengan tiba-tiba dan dengan lantangnya menyuruh para eksekutor  pondok untuk menghentikan penta’ziran bagi temannya, karena kalau dilanjutkan akibatnya akan buruk bagi  eksekutor dan timnya. Sebab orang yang akan dita’zir adalah orang yang terhormat dan berwibawa, serta diistemewakan dikalangan santri. Berikut kutipannya:

“Kenapa? Apa yang salah dengan kami? ujar Kepala Pondok sedikit membela. Membelah keheningan.

“Apakah kalian tak mengenal para Habib disini? Mereka yang telah banyak menebarkan barokahnya dipondok ini. Merekalah yang telah menjadikan kalian berguna! Doa-doa merekalah yang telah mengantarkan doa-doa kalian. Menghukum dan mempermalukan para Habib di depan umum, sama saja kalian telah mempermalukan dan menyakiti Rasulullah…” (H.P.T.C, 2010: 79)

Kemudian dilanjutkan pernyataan Gus Haedar dengan tegasnya.
“ Ana, Haedar Mubarrok menjamin pada malam ini tidak ada hukum gundul untuk  dua saudaraku”  (H.P.T.C, 2010: 80)

Setelah  itu dihadapan para Ustadz dan Santri, Gus Haedar memaparkan berbagai dalil dan hadits tentang etika penghormatan terhadap Habib, seketika itu pula para ustadz termasuk kepala pondok hanya diam membisu, tak berani menyangkal ataupun mendebat perkataan Gus Haedar.

Selanjutnya dimunculkan konflik yang kedua dalam ceritanya, ketika para Ustadz dan santri mengetahui Habib Haedar menjalin hubungan asmara dengan Umi Layla Al-Jufri. Berbagai macam persfektif dikalangan para Ustadz dan santripun bermunculan. Sebagian memuji hubungan Habib Haedar dengan Umi Layla, namun tak sedikit yang merasa iri. Dikatakan bahwa Habib Haedar sengaja mendirikan Jamaah Habaib tak lain hanya bertujuan mendapatkan Umi Layla.

Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Apa tidak sebaiknya sampeyan menjelaskan di pengajian,” Aku mencoba memberikan alternatif untuk meredam kabar yang menerjang Habib Haedar.

“ Ha ha ha…kalau begitu nt sama-sama bahlul Akhi,”
“Apakah berdosa laki-laki mencintai seorang wanita? Biarkan saja…nanti juga bosan sendiri..” Habib Haedar kelihatan santai menanggapi kabar miring itu. Aku sependapat dengan Habib Haedar, memang tidak ada yang salah dengan Habib Haedar ataupun Umi Layla. Pertemuan di jama’ah waktu itu hanyalah pintu pertama yang mempertemukan mereka berdua, dan itu bukan hasil rekayasa. (H.P.T.C, 2010: 150)

Hari demi hari terus berlalu, kisah cinta Habib Haedar dengan Umi Layla yang terus berbunga sampai juga di telinga Mbah Yai sebagai pimpinan pondok. Namun bagi Habib Haedar tak ada masalah, karena baginya dia adalah laki-laki yang beruntung mendapatkan tempat di hati Umi Layla. Tambatan hati Umi Layla ini pun lama-kelamaan posisinya tercium juga oleh Habib Aly bin Husaen Al-Jufri yang sebelum berhubungan dengan Habib Haedar, dia terlebih dahulu mencintainya.

BACA JUGA  PGBT Menjadi Senjata NTB Tangani Stunting dan Gizi Buruk

Rasa cemburu dan kecewa Habib Aly bin Husaen pada Habib Haedar mengundang emosi, ketika mendengar imformasi orang yang dicintainya akan dilamar oleh Haedar. Dia berusaha dengan sekemampuannya untuk mengagalkan acara lamaran dengan membesarkan isu bahwa silsilah Nasab Habib Haedar masih kabur, ada indikasi kalau Habib Haedar memanfaatkan predikat Habib agar bisa dekat dan mempersunting Umi Layla.

Kemudian pada tahap akhir cerita Habib Haedar merasakan kekecewaan yang luar biasa pada keluarga Umi Layla yang menunda jawaban atas lamaran yang telah diajukannya, tetapi Habib Haedar tidak pernah mengeluh bahkan dia bersikeras ingin mempersunting Umi Layla serta siap menanggung resiko.

Akan tetapi keaadaan berkata lain, Habib Haedar yang tadi ingin mempersunting Umi Layla, justru sebaliknya. dia lebih dahulu ketahuan kalau selama ini dia menyembunyikan identitasnya dan berbohong pada semua orang, setelah diadakan penelusuran oleh dua orang detektif yaitu ustazd faisol dan Ustadz Ali tidak ditemukan Nasab atas dirinya. Dan pada akhirnya dia menghilang entah kemana malu datang kepondok setelah kejadian itu. Dirinya menghilang begitu saja tanpa kabar, membawa malu dan kecewa yang luar biasa.

Berikut kutipannya:

“Anda bohong! Nama kamu haedar mubarrok, dan kamu bukan keturunan habib!” nada Ustazd Ali langsug meninggi.
“istigfar Akhi jangan menyebar fitnah!” suara Habib Haedar pun tak kalah meninggi.
“kalau memang anda Habib, darimana anda bisa mempertanggung jawabkan silsilahnya. Sementara Robithoh Alawiyyin Jakarta saja meragukan silsilah anda, Haedar!” Ustazd Ali semakin gencar melontarkan pertanyaannya.
“Iya! Robithoh tidak menemukan Nasab anda! Bahkan langsung bisa menebak kalau anda telah mencemarkan nama baik bangsa Asseggaf . penyelidikan Robithoh tidak mungkin meleset.” Ustazd Faisol menimpali pertanyaan sebelum Habib Haedar menjawab pertanyaan Ustazd Ali. (H.P.T.C, 2010: 214)

4.2.3    Latar atau Setting

Latar atau Setting yang merupakan salah satu unsur cerita yang juga penting karena dengan adanya latar, gambaran mengenai kejadian atau peristiwa akan menjadi lebih kongkrit(Sumarjo,1986:58). Peristiwa yang terjadi digambarkan dengan jelas mengenai lingkungan sosial, waktu dan tempat cerita itu berlangsung.

Dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni ini terdapat beberapa latar/setting yang dimunculkan dan dilalui oleh para tokoh dalam cerita.

1.Latar Tempat

Latar tempat menyaran pada pada lokasi terjadinya  peristiwa yagn diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu atau inisial tertentu, mungkin nama lokasi tertentu. Nama tempat yang dimaksudkan adalah tempat yang dijumpai dalam dunia nyata, misalnya latar tempat yang disebutkan adalah sebuah Warung Koprasi Pondok, Madarasah, Masjid, Bioskop dan sebuah Rumah. Untuk memperjelas latar tempat pada novel “Habib Palsu tersandung cinta” karya Ubay Baequni“  berikut kutipannya:

“Sekitar jam tiga sore Aku dan Habib Umar sedang asyik-asyiknya makan siang diwarunng koprasi pondok. Suasana diwarung lumayan ramai, banyak santri yang sedang makan dan ada juga santri sambil minum kopi. Tiba-tiba dating Gus Haedar, Ia berdiri tepat disampingku. Kemudian tanpa komando santri-santri lain membubarkan diri satu persatu. (H.P.T.C, 2010: 15)

Dalam kutipan novel di atas, digambarkan suatu peristiwa yang dirasakan oleh tokoh “Aku” ketika melihat temannya datang langsung santri-santri yang tadinya ramai, berjubel mendadak sepi setelah kedatangan Gus Haedar. Mereka merasa sungkan (Segan) pada Gus Haedar yang tidak dapat tempat duduk. Maklum predikat Gus sangat diistimewakan di pondok.

Kutipan di atas merupakan penggambaran tempat atau lokasi yang dilalui oleh tokoh Aku yaitu di sebuah warung koprasi pondok  yang ramai dengan para santri yang sedang makan dan ada juga yang sekedar minum kopi dan tiba-tiba menjadi sepi setelah kedatangan Gus Haedar. biasanya warung koprasi pondok ramai pada waktu pagi, siang  dan sore hari.

Kemudian diceritakan bahwa Gus Haedar dan teman-temannya pergi ke sebuah bioskop untuk menonton film Jet Lee. Film ini merupakan film yang banyak digemari para remaja seusianya. Mereka nekat meninggalkan aktivitas pondok demi nonton film kesayangannya. Fenomena ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

“Kami bertiga dengan khusyu’ menikmati setiap adegan film. Gus Haedar keliahatan tak banyak bicara, hanya sesekali terdengar Habib Umar nyletuk ..kheer .. setiap kali tokoh Jet Lee memperagakan jurusnya. Setelah dua jam, layar bioskop pun perlahan-lahan menyembulkan tulisan THE END, yang menandakan film telah selesai.”(H.P.T.C, 2010: 26)

Pada kutipan di atas,  pengarang menceritakan bahwa Habib Haedar dan temannya berani meninggalkan kegiatan pondok demi menonton film kesayangannya yaitu film Jet Lee di bioskop,tanpa menghiraukan aturan yang berlaku.

Rutinitas  pondok yang berupa shalat berjama’ah bagi santri wajib dilaksanakan, seperti yang digambarkan pada kutipan berikut ini.

“Waktu adzan magrip pun berkumandang para santri berbondong-bondong ke masjid, ada yang masih sibuk berwudhu sambil menunggu antrian dan sebagian melapalkan pujian-pujian dimasjid menunggu Mbah Yai datang. Setelah shalat magrib para santri kembali disibukkan dengan tadarus Al-Quran di masjid.” (H.P.T.C, 2010: 28)

Kegitan shalat berjamaah dan tadarus Al-Qur’an seolah-olah menjadi menu wajib setiap datangnya waktu shalat bagi para santri di pondok. Para ustadz dan santri bersama-sama melaksanakan shalat berjama’ah setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan tadarus Al-Qur’an.

2. Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar waktu biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.

Selanjutnya dalam novel “Habib Palsu tersandung cinta” karya Ubay Baequni diceritakan setiap malam jumat digelar ta’zir masal. Adapun sasaran ta’zir kini yaitu para santri yang melanggar aturan pondok. Berikut kutipannya:

“Malam jum’at kali ini aku mendengar beberapa santri yang kena ta’zir karma nonton konser grup musik dewa di alun-alun kota, jaraknya lima kilo lebih dari konflek pesantren.” (H.P.T.C, 2010: 76)

Dari kutipan di atas pengarang menggambarkan waktu terjdinya peristiwa ta’zir masal pada waktu malam hari selesai berzanji di depan Masjid pondok, dan yang mendapat ta’zir (hukuman)  adalah santri-santri yang melanggar aturan pondok.

3. Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan nilai-nilai yang tergolong latar spiritual.

Dalam novel Habib Palsu Tersandung Cinta karya Ubay Baequni terdapat latar sosial yang berhubungan dengan tradisi penghormatan terhadap Gus atau Habaib di lingkungan pesantren. Hal ini digambarkan pada kutipan novel berikut:

“ Ana Haedar Mubarok menjamin pada malam ini tidak ada hokum gundul untuk kedua saudaraku.! Ketegasan suaranya semakin mencengkram suasana dihadapan para ustadz dan santri, gus haedar memaparkan berbagai dalil dan hadis tentang etika penghormatan kepada habib.” (H.P.T.C, 2010: 80)

Dari kutipan tersebut di atas pengarang menggambarkan suasana ta’zir masal yang digelar begitu menegangkan. Pasalnya baru pertama kali ada santri yang berani membantah dan menghentikan ta’zir yang digelar setiap malam jum’at. Ketegasan Gus Haedar begitu terasa dimata para santri yang hadir di masjid tempat dilaksanakanya prosesi penta’ziran.

4.2.4    Penokohan atau Perwatakan

Dalam karya fiksi, pengarang menampilkan tokoh dan karakter tokohnya dengan teknik langsung dan tidak langsung. Pengarang menampilkan karakter tokoh dalam cerita konsisten dengan menggunakan teknik langsung, namun demikian tentunya tergantung juga pada tujuan cerita dan banyak juga tergantung pada ruang lingkup masalah yang disampaikan. Broks dan Warren mengemukakan bahwa penampilan karakter dapat dilakukan dengan teknik dramtik melalui dialog dan Kisi/ gerak (1959: 169).

Sejalan dengan  pendapat di atas, dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni pengarang menampilkan tokoh Habib Haedar, Gus Fauzi, Habib Umar, Mbah Yai, Ustadz Imran, Ustadz Solihin, Ustadz Faisol dan Umi Layla. Untuk memahami  sebuah cerita, peranan dan funsi tokoh sangat penting hal yang menyangkut kronologis peristiwa serta permasalahan yang timbul dan diselesaikan  oleh tokoh-tokoh yang disebutkan.

Penggambaran watak tokoh cerita dilukiskan secara teknik analitik dan dramatik. Ada empat tokoh yang menjadi fokus analisis yaitu:

1. Habib Haedar

Habib Haedar sebagai tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai tokoh yang cerdas dan berbakat, mudah bergaul, dan berwibawa serta panutan para Habaib muda. Pergaulannya yang ekslusif membuat dirinya bersinar bagai mutiara.

“Dikalangan Habaib, Habib Haedar didengkot yang dijadikan panutan hampir semua Habaib muda. Setiap kali Habib Haeadar mengunjungi kamar-kamar dengan serta merta mereka langsung memintakan do’a. atau ketika Habib Haedar terlihat  sedang jalan-jalan disekitar konflek, banyak yang menyapanya.” (H.P.T.C, 2010: 89)

Dari kutipan di atas, pengarang menggambarkan betapa  berwibawa dan istemewanya Habib Haedar dipandangan para santri. Dia dipandang istimewa karena kecerdasannya melebihi santri biasa dipondok. Intelektual dan pergaulannya yang luas membuat dirinya berbeda dengan santri-santri yang lain.

Disamping itu juga Habib Haedar merupakan tokoh yang tegas dan pemberani. Habib Haedar dengan lantangnya menghentikan acara  penta’ziran yang dilakukan oleh pengurus pondok.   Berikut kutipannya:

“Tunggu…!” suara itu melengking ditengah hiruk pikuk keramaian. Aku sepertinya akrab dengan pemilik suara itu, aku langsung masuk menerobos masuk kebarisan depan. Jadi penasaran siapa gerangan yang menghentikan para Ustadz. Semua mata tertuju pada satu sosok didepan yang baru saja melontarkan suara lantang. Ternyata Gus Haedar, yah…tak salah lagi, ia memang Gus Haedar yang kukenal. Sedang apa dia? Dan mau apa dia?

“Apakah kalian akan menyakiti nabi, dengan menghukum saudaraku ini, Habib Hasan dan Habib Hilmy!” Gus Haedar merebut gunting dari tangan Ustazd Faisol, yang menjadi eksekutor.” (H.P.T.C, 2010: 79)

Dari kutipan di atas, terlihat jelas bahwa sang Habib tidak pernah takut berhadapan dengan siapapun kalau posisinya benar. Tak terkecuali para pengurus pondok  dan para eksekutor. Keberaniannya menghentikan ta’zir sentak membuat bingung dan para santri dan pengurus pondok. Pasalnya baru kali ini ada santri yang dengan lantangnya membatalkan ta’zir dan berani mempermalukan para pengurus pondok.

2. Tokoh Aku

Dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni ini tokoh Aku digambarkan sebagai sosok yang sederhana dan berbudi pekerti yang luhur, jujur dan tidak sombong. Berikut kutipannya.“Dan Aku merasa bahagia dengan kesederhanaanku ini, meskipun aku agak iri dengan teman sekamarku yang serba berkecukupan.” (H.P.T.C, 2010: 72)

Dari kutipan tersebut diatas, tokoh Aku tetap bersyukur atas apa yang telah diberikan tuhan kepadanya, selalu pasrah kepada tuhan atas keadaanyang dialaminya. Baginya kemiskinan bukanlah halangan untuk bisa meraih kesuksesan.

Selanjutnya tokoh Aku juga digambarkan sebagai sosok yang rajin dan kreatif dalam sastra. Berikut kutipannya.”Lumayan rek, Aku dapat juara pertama untuk lomba baca puisi sepondok. Aku senang bukan main, sementara teater yang kubawakan bersama teman-teman sekamar hanya menempati juara tiga, tidak apa-apa, yang penting ” membentang kreatifitas tampa batas”, itulah sebaris kalimat motivator yang menempel di dinding kusam kamar kami.” (H.P.T.C, 2010: 43)

Pada kutipan diatas, pengarang menggambarkan sosok ”Aku” yang rajin dan terus mengasah kemampuan untuk bisa berkarya.

3. Umi Layla

Tokoh Umi Layla pada novel, “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni meggambarkan sosok yang cantik, cerdas, keturunan  terhormat (Habib) dan dambaan Habib muda yang pernah mengenalnya. Hal ini terlihat pada kutipan berikut: “Menurutku memang pantas Habib Haedar mendapatkan Umi Layla; cakap, kapasitas keilmuannya teruji. Kadang yang membuat iri santri-santri mungkin kecantikan Umi Layla. Bagiku sosok Umi Layla sosok bidadari yang tertinggal di bumi. Dan Siapa pun yang mendampinginya bagaikan mendapat rizqi yang tak   terkira.”  (H.P.T.C, 2010: 161)

Pada kutipan di atas, pengarang menggambarkan tokoh Umi Layla yang cantik menawan bagai bidadari yang turun dari kayangan yang tertinggal di bumi yaitu ketika tokoh Abdul Ghoni memuji kelebihan yang dimiliki Umi Layla. Di samping itu juga, Ia sosok yang cerdas dan memiliki ilmu agama yang tinggi. Seperti yang disebutkan oleh tokoh “Aku” di atas.

4. Ustadz Ali

Dalam novel, “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni, tokoh  Ustadz Ali digambarkan sebagai sosok yang bijaksana dan penuh tanggung jawab dalam menyelesaikan suatu perkara atau masalah. “Sampeyan bawa pengurus lain, pergi ke alamat Habib Haedar di Surabaya. Jangan terkesan mengintrogasi atau apalah, yang penting tahu kebenaran asal-usul Habib Haedar ok?” begitu Ustadz Ali memberi tugas pada Ustadz Faisol.

”Berapa hari nih Bos?” Tanya Ustadz Faisol.
“Terserah, yang penting sampeyan kembali ke Pondok sudah dapat informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujar Ustadz Ali. Sebagai kepala pondok Ustadz Ali bertanggung jawab terhadap anak buahnya, segala intruksi dan peraturannya.  (H.P.T.C, 2010: 200)

Pada kutipan di atas, Ustadz Ali digambarkan sebagai tokoh yang memiliki kapabilitas yang tinggi  diantara pengurus pondok yang lain. Ia termasuk orang yang paling dihormati oleh pengurus dan para santri. Ia tidak pernah takut dalam menghadapi sebesar apapun masalah yang dihadapi, Ia selalu bertanggung jawab atas amanat serta tugas yang diberikan kepadanya. Ustadz Ali merupkan sosok yang disiplin bijaksana dalam megurus pondok.

4.2.5    Sudut Pandang/Poin Of  View

Dalam novel “Habib Palsu Tersandug Cinta” Karya Ubay Baequni ini, pengarang  menggunakan sudut pandang  campuran  yaitu  antara   gaya “Aku” dan “Dia” sehingga alur ceritanya menarik dan  kandungan mengusik  kejumudan para  pembaca.

Adapun sudut  pandang  orang  pertama    yanga biasanya  meenggunakan gaya  “Aku” dapat   di lihat pada kutipan berikut ini:

“Mungkin aku termsuk orang yang paling beruntung  se-pondok  ini, karena Gus Haedar, Gus Fauzi  dan Habib Umar  sangat dekat dengan. Padahal Aku santri biasa, artinya bukan dari kalangan keluarga seperti mereka hanya saja kebetulan bareng mereka “nyantri” di pesantren.”  (H.P.T.C, 2010: 16)

BACA JUGA  Peringatan Harlah SPG Negeri Selong Berlangsung Sukses

Sedangkan sudut pandang orang ketiga yang biasanya menggunakan dia ggaya dia terlihat pada  kutipan berkut ini:

“Aku segera pergi meningalkan habib haedar, ia semakin husyu’ dengan kesendiriannya. Dari kejauhan terlihat beberapa kali  mendongakkan kepala, entah apa yang sedang dilakukannya. Mungkin sedang berdialog dengan tuhan, pikirku.” (H.P.T.C, 2010: 112)

Dengan   demikian dari kutipan   diatas  terlihat  jelas bahwa  sudut pandang yang  digunkan dalam novel  ”Habib Palsu Tersandung Cinta” Karya Ubay Baequni adalah sudut panndang canpuran karena dalam  ceritanya pengarang ikut serta mendampingi tokoh utama, berperan sebagai pelaku bawahan.

4.2.6    Gaya Bahasa

Unsur-unsur bahasa yang dapat membangun atau menciptakan teknik bercerita yang khas dinamakan gaya bahasa. Gaya bahasa digunakan pengarang untuk membangun jalinan cerita dengan memiliki diksi, ungkapan, majas (kiasan) dan sebagainya. Dengan halnya dengan Novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” menggunakan beberapa gaya bahasa. Antara lain:

a. Hiperbola

Gaya bahasa ini merupakan gaya bahasa yang melukiskan suatua benda, hal atau peristiwa dengan cara yang berlebih-lebihan. Seperti terlihat pada kutipan sebagai berikut:

“Jam satu siang, sengatan matahari menjilat-jilat lantai bumi. Keringat bercucuran dari dahi Ustadz Faisol. Suasana terminal Bungurasih semakin panas, berjejal-jejal manusia berdasarkan dengan keringat dan bau solar”  (H.P.T.C, 2010: 201)

Dari kutipan tersebut, pengarang melukiskan suatu keadaan yang sangat panas, di bawah terik panas matahari dan disela-sela keramaian terminal Bungurasih, Ustadz Faisol menunggu Angkutan umum yang akan membawanya ke tempat tujuan. dalam hal ini, pengarang melukiskan keadaan atau suasana yang belebih-lebihan.

b. Metafora

Metafora merupakan gaya bahasa yang membandingkan sesuatu (manusia) dengan yang lain atau hewan untuk menunjukkan persamaan sikap perilakunya, dengan cara memindahkan Sifat-sifatnya. Perhatikan kutipan berikut:

“Malam pun terkulai, bintang-bintang serentak menjatuhkan gemerlap sinarnya di ujung kota Surabaya. Nafaz kedua Ustadz itu saling bergantian bersahut-sahutan, susul-menyusul dengan bintang malam” (H.P.T.C, 2010: 209)

Dari kutipan di atas, pengarang menggambarkan persamaan nafas manusia denga bintang malam yang saling bersahutan dalam ceritanya.

c. Personifiaksi

Gaya bahasa ini merupakan gaya bahasa yang tujuannya menegaskan suatu lukisan dengan membuat benda mati menjadi hidup perhatiakan kutipan sebagai berikut:
“Teriakan lantang dari mulut calo bus tumpang-tindih dengan deru mesin menjerit-jerit kepanasan”  (H.P.T.C, 2010: 209)

Pada kutipan di atas, pengarang sangat lihai mengumpamakan mesin yang berputar menjerit-jerit suaranya seperti halnya manusia

4.3      Aspek Budaya Dalam Novel “ Habib Palsu Tersandung  Cinta” Karya   Ubay  Baequni.

4.3.1    Tradisi dan Adat Istiadat

Karya sastra yang lahir ditengah-tengah masyarakat merupakan hasil pengungkapan jiwa seseorang tentang kehidupan, peristiwa serta pengalaman hidup. Sebuah karya sastra tidak pernah berangkat dari kekosongan budaya artinya karya sastra tersebut ditulis berdasarkan kehidupan yang kental dengan tradisi dan adat-istiadat tertentu yang menceritakan kebudayaan yang melatarbelakanginya.

Aspek budaya yang muncul dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni adalah keadaan tokoh di tengah masyarakat  pesantren yang memiliki budaya spritual yang tinggi.  Hal ini bisa dilihat dari rutinitas program yamg dijalankan seperti mengaji Al-Quran, mempelajari dan mengkaji kitab-kitab ulama salaf (terdahulu), barzanji, berkumpul dan ber-muzakkarah di Majelis Ta’lim, musyawarah dan shalat berjamaah. Program tersebut merupakan ciri khas dan termasuk bagian  dari budaya masyarakat pesantren.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Sampai dikamar, aku melihat jadwal pelajaran. Kemudian membawa kitab Fathul Qorieb dan dua buku tulis, untuk jadwal hari ini. Selesai salat berjama’ah aku bersama teman sekelas menuju ruang belajar, seperti biasanya.” (H.P.T.C, 2010: 86)

Masyarakat pesantren pada umumnya sangat menjunjung tinggi nilai spiritual dan etika pergaulan yang islami. Karena Islam senantiasa mengajarkan umatnya untuk selalu bertaqwa kepada Tuhan (Allah).  Agar selamat di dunia  dan akhirat. Dalam melakukan spritual tentunya harus dilandasi  dengan ilmu dan iman yang kuat sehingga segala bentuk amal ibadah  dapat  diterima dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Disamping itu juga, etika, moral islami dalam pergaulan sehari-hari menjadi catatan penting dalam membangun hubungan antar sesama manusia (hablum minannas) dengan senantiasa menghargai, menghormati, dan menyayangi antarsesama, sehingga terciptanya masyarakat yang aman, damai dan sejahtera lahir maupun batin.

4.3.2    Sistem Kekeluargaan

Dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” Karya Ubay Baequni ini melukiskan fenomena-fenomena pergaulan, kaum muda yang sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Merupakan kegiatan yang tidak asing lagi di mata kaum muda di zaman modern sekarang ini, bahkan ada sebagian anak muda yang senang menghabiskan waktu nonton di bioskop dan kafe-kafe hanya sekedar mencari hiburan semata.

Namun, fenomena-fenomena ini akan terlihat asing ketika budaya semacam ini merasuki santri muda yang notabene kental dengan nilai spiritual dan agama. Penilaian masyarakat terhadap kebiasaan-kebiasaan (budaya) tersebut tentu memberikan tanda tanya yang besar. Pasalnya, santri di pesantren selalu diberikan pengarahan oleh para Asatidz agar senantiasa menghargai waktu. Pepatah ulama mengatakan “waktu ibarat pedang” apabila seseorang tidak menghargai waktu, maka pedang itu akan memenggal/memotong lehernya, dengan kata lain, orang tersebut akan ditinggal oleh waktu.  Karena waktu itu sangat berharga bagi orang-oarang yang berakal (berfikir).

Negatif memang seandainya budaya semacam ini ada di pesantren. Tetapi, ada pula nilai positifnya budaya semacam ini justru dapat mempererat tali persaudaraan dan kekeluargaan diantara mereka. Karena dengan sering berkumpul dapat mengkukuhkan tali Silaturrahim dan nilai persahabatan menjadi lebih kental. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan novel berikut ini:

“Kami biasa ngobrol sambil nubruk wuih…..nikmat coy! Sampai menjelang tengah malam, hamper tiap hari begitu, Cuma kalau pergi libur pada malam Jum’at biasanya punya kesempatan ngobrol-ngobrol sampai menjelang waktu Shubuh. Gus haedar sering modalin gula,  Gus Fauzi tehnya. Sedangkan aku meyediakan air panas kemudian menyuguhkan sambil ikut-ikutan nyripit.” (H.P.T.C, 2010: 17)

Dari kutipan di atas, terlihat jelas bahwa sistem kekeluargaan yang ada novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubai Baequni dilukiskan dengan adanya sekelompok remaja yang sedang berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

4.3.3    Budaya Lamaran dalam Perkawinan

Dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” Karya Ubay Baequni menggambarkan bahwa tokoh Habib Haedar berusaha mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat mempersunting Umi Layla Al-Jufri. Namun, usaha pun itu gagal ketika Habib Haedar akan melamar kekasihnya itu.

Lamaran yang akan diajukannya ditolak oleh pihak kelurga Umi Layla. Karena nasab atau keturunan yang tidak jelas  (masih diragukan). Habib Haedar tidak mampu menunjukkan bukti kebenaran dan keabsahan silsilahnya. Predikat Habib yang di gelarnya oleh keluarga Umi Layla dianggap palsu, karena tidak ada jalur silsilah yang sesuai dengan pengakuannya. Peristiwa semacam ini terlihat pada kutipan berikut:

“Secara mengejutkan pula dari pertama hingga yang ketiga silsilah itu ditulis Habib Haedar berbeda-beda pula. Terakhir habib haedar menulis nasabnya: Haedar Mubarok bin Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Assegaf. Merasa janggal dengan perbedaan nama-nama silsilah yang tertera, keluarga umi layla menelusuri kebenaran nasab tersebut di Rhobithoh Alawiyyin jakarta. Dengan tetap merujuk pada nama pertama yang diberikan Habib haedar, pihak keluarga Umi Layla terus meneliti kebenaran silsilah tersebut.”(H.P.T.C, 2010:194)

Keluarga Umi Layla merupakan keluraga yang terhoramat, dan merupakan keturunan Habaib. Memang tidaklah salah sekiranya orang tua mencari dan memilihkan calon yang terbaik buat anaknya. Dalam memilih calon suaminya harus memiliki empat kreteria yang meliputi keturunan, orang baik-baik, memiliki materi yang cukup, gagah (ganteng), Agamanya kuat dan baik akhlaknya. Hal ini, memang sesuai dengan konsep dan tuntunan Islam.

Dalam cerita novel ini, memang gambaran tentang budaya yang ada di Jawa yang khususnya dari kalangan Gus atau Habib yang identik sekali dengan budaya timur. Misalnya dalam proses Lamaran, Akad nikah, dan budaya persiapan sebelum nikah.

Tokoh Habib Haedar harus melalui proses atau adat-istiadat yang ada pada kelurga Umi Layla Al-jufri. Seorang laki-laki yang apabila ingin menikahi wanita yang cocok dengan pendamping hidupnyasebelum melamr harus Ta’aruf dan berkunjung ke rumah (silaturrahmi) wanita yang akan dilamarnya.

Seandainya wanita itu sudah di Khitbah oleh orang lain maka tidak boleh ada Khitbah lagi apalagi dilamar. Setelah proses itu selasai, maka barulah boleh datang seorang laki yang kedua kalinya bersama orang tua untuk meminang atau melamar gadis pilihannya. Setelah proses lamaran itu selasai maka, berlanjut pada acara Akad nikah yang sesuai dengan Adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tradisi perkawinan yang disebutkan dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” Karya Ubay Baequni   merupakan warisan budaya Timur yang berkembang di Nusantara khususnya di jawa.

4.3.4    Tradisi penghormatan terhadap Gus atau Habib

Dalam novel Habib Palsu Tersandung Cinta karya Ubay Baequni ini menceritakan tentang kehidupan para santri di lingkungan pondok pesantren. Para santri yang terdiri dari berbagai golongan antara lain: golongan santri biasa, golongan Gus,  dan golongan Habib. Para santri yang memiliki predikat Gus dan Habib diberikan perlakuan yang istimewa di pondok. Berikut ini kutipan novel yang menjelaskan keistimewaan Gus dan Habib.

“Habib Umar dan Gus Haedar adalah sosok orang-orang yang diistimewakan di lingkungan pondok. Maklum saja, predikat Gus dan Habib di pondok jemang sangat llain dari pada yang lain. Maksudnya, seorang yang dipanggil dengan sebutan Gus biasanya anak Kyai yang punya pesantren besar dan berpengaruh. Sedangkan Habib adalah seorang yang masih ada hubungan darah dengan baginda yang mulia Muhammad SAW. (H. P. T. C, 2010: 16).

Dari kutipan novel di atas, pengarang menjelaskan bahwa seorang yang dipanggil dengan sebutan Gus atau Habib bukanlah orang-orang yang biasa, melainkan mereka itu adalah golongan orang-orang yang terhormat dan mulia. Mereka yang dianggap memiliki kearifan lokal oleh masyarakat pesantren. Apabila orang salah memperlakukan Gus atau Habib, maka orang tersebut akan kena kualat, hidupnya tidak akan tenang sebelum meminta maaf kepadanya. Peristiwa ini digambarkan pada kutipan novel berikut:

“Ana, Haedar Mubarok menjamin pada malam ini tidak ada hukum gindul unutk dua saudaraku. Krbagai etegasan suaranya semakin mencengkeram. Dihadapan para Ustadz dan Santri, Gus Haedar memaparkan berbagai dalil dan hadits tentang etika penghormatan terhadap Habaib. Berbalut jubah putih dan kopiah putih, Gus Haedar mempertegas pembatalan eksekusi malam ini uantuk dua orang Habab. Para Ustadz termasuk kepala pondok hanya diam membisu tak berani menyangkal atau pun mendebat perkataan Gus Haedar.” (H. P. T. C, 2010: 80).

Pada kutipan novel di atas, diceritakan bahwa ada dua orang Habib yang akan hukum gundul (Ta’zir) karena ketahuan malanggar peraturan pondok, namun ketika akan dihukum Gus Haedar membedla dan menghetikan ta’zir yang dilakukan pengurus pondok untuk dua orang Habib. Haedar berpendapat bahwa perlakuan pengurus pondok terhadap kaum Habib telah melewati batas Norma dan Etika.

Seketika itu pula para ustadz dan pengurus pondok yang lain diam tanpa kata, meredka takut kualat seandainya mereka menyangkal. Memang sudah banyak kejadian yang membuktikan kalau salah meperlakukan Gus atau Habib, maka serentet sial akan mendatanginya. Apalagi di dalam pemahaman mereka telah terbentu anggapan bahwa doa-doa golongan Gus atau Habib mustajabah.

Selanjutnya dijelaskan pada kutipan yang lain:

“Apakah kalian tidak mengenal para Habib di sini? Mereka yang telah banyak menebarkan barokahnya di pondok ini.merekalah yang telah menjadikan kalian berguna! Doa-doa merekalah yang telah mengantarkan doa-doa kalian. Menghukum dan mempermalukan para Habib sama saja dengan mempermalukan dan menyakiti Rasulullah…..” (H. P. T. C, 2010: 79-80).

Pada kutipan di atas, seorang Habib harus diperlakukan istimewa seperti Rasulullah SAW.  beberapa kutipan di atas, maka jelaslah bahwa seorang yang memilki gelar atau panggilan Gus atau Habib di pondok harus dihormati, dihargai, dan diistimewakan karena mereka itu adalah keturunan orang-orang yang mulia dan terpandang. Masyarakat pesantren juga memahami dan memiliki keyakinan bahwa golongan Gus atau Habib memiliki kearifan tersendiri dan doa-doa mereka mustajabah.

BAB V

PENUTUP

5.1    Simpulan

Dari hasil analisis yang dilakukan, maka penulis menyimpulkan masalah sebagai berikut:

  • 5.1.1 Struktur novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni dibangun atas unsur-unsur intrisik dan ekstrinsik. Unsur intrisik novel ini meliputi tema, alur, latar/setting, penokohan, sudut pandang dan gaya bahasa.
  • Tema dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni ini menceritakan perjuangan Habib muda yang cerdas dan berbakat dalam mempertahankan nasab dan cintannya yang berakhir dengan kekecewaan. Dengan tokoh utamanya habib Haedar Mubarok dan Umi Layla, didukung oleh okoh tambahan lainnya seperti tokoh Aku, Gus Fauzi, Habib Umar, Mbah Yai, Ustadz Imran, Ustadz Solihin, dan Ustadz Faisol. Cerita ini domianan setingnya dipondok dan masjid lingkungan pesantren. Secara umum pengarang mampu membangun cerita melalui unsur-unsur itu dalam kesatuan yang utuh sehingga cerita menarik dan mengusik kejumudan para pembaca.
  • 5.1.2 Aspek budaya yang terungkap dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” karya Ubay Baequni dapat ditunjukkan melalui kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Dalam novel ini ditemukan bebeapa aspek kebudayaan yang berkaitan dengan prilaku dan kebiasaan masyarakat yang terbntuk dalam adat istiadat, sistem kekeluargaan, budaya lamaran dalam perkawinan dan falsafah masyarakat tentang penghormatan terhadap Habaib.

5.2    Saran- saran

Berangkat dari kesimpulan di atas, maka berikut ini penulis mengemukakan beberapa saran yang dapat dijadikan tolak ukur dan pertimabangan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tentang sastra serta pembelajaran bahasa dan sastra indonesia.

  • 1.Bagi siswa, diharapkan agar lebih giat belajar tentang sastra dan bisa meningkatkan kreatifitas dalam mengapresiasi karya sastra.
  • 2.Bagi guru, diharapkan dapat memahami lebih mendalam tentang sastra dan perkembangannya
  • sehingga dalam memberikan pembelajaran sastra disekolah lebih maksimal.
  • 3. Bagi peniliti yang lain diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai referensi  atau acuan dalam melakukan penelitian yang lebih luas dan dapat memperkaya khazanah kesastraan indonesia lewat pengkajian atau analisis lebih-lebih tentang budaya dalam sastra.

Leave A Reply

Your email address will not be published.