Si Cantik Anak Dara Part 1 – Catatan Pendakian ke bukit Anak Dara

227

LM. Daefullah – Rabu, 18 Agustus 2020


Sembalun, LOMBOKim – Kemaleman tidur, setelah membantu teman-teman pengelola bukit Sempana dalam rangka pendakian 17-18 Agustus kemarin. Pagi ini, kami packing dan bersiap-siap menuju Sembalun.

Sholat zuhur dulu baru kami melakukan pendakian, namanya juga packing. Karena packing memiliki seni tersendiri supaya peralatan dan perbekalan bisa semuanya masuk dan carriernya nyaman dipakai.

Perjalanan menuju Sembalun memakan waktu, kurang lebih 1 jam. Mampir di Anjani ambil singkong, mampir di Sasak Camp, beli manset, mampir di Aikmel, ambil kompor di Lalo Hore Fanventure bang Adi Davi Ayadi dikasih bonus pepaya, dan juga nesting bang Alung Rinjani. Sehingga memakan waktu sampai 2 jam karena mampir disana-sini. Baru langsung jalan. Setelah telepon dengan Bang Roni yang sedang nunggu dengan bang Imam di Rest Area Suela. Bang Jamil sendiri entah jalan ke mana. Saya boncengan dengan bang Rois.

Kami rehat sejenak, menanti bang Jamil di pertigaan Suela. Setelah hampir setengah jam, kami putuskan tuk lanjutkan perjalanan, menembus paru-paru Lombok yang jalannya berkelok-kelok, sedap di mata, segar di badan, dan jalanan tidak terlalu ramai seperti biasa. Pemilihan waktu yang tepat untuk liburan, dibandingkan berangkat saat 17 Agustusan kayak kemarin ini.

Kami sampai di Pusuk Sembalun tanpa istirahat langsung turun pelan, salah satu zamrud Katulistiwanya Indonesia ya Sembalun ini. Turun berkelok-kelok, berhati-hati, hingga tak lama kemudian kami sampai juga di Sembalun Bumbung, langsung ke Sembalun Lawang.

Ada dua pos registrasi. Ada yang dipertigaan jalan besar ada juga yang depenan sedikit ketemu pertigaan arah ke kanan jika datang dari Aikmel. Hari ini, kami akan registrasi yang ada di depanan. Kami menanti bang Jamil setengah jaman, hingga lantunan murottal Al-Qur’an bersenandung di masjid-masjid. Kami putuskan untuk langsung ke pos registrasi, siapa tahu di sana bang Jamil menanti.

Menyusuri jalan tanah di tengah perkampungan, lewati jembatan, masuk ke jalur rumah adat Sembalun Lawang, di bawah bukit Selong. Ikuti jalan yang sudah dihotmix, pertigaan ke kanan. Ikuti jalannya, ketemu lagi pertigaan yang ada tempat orang jualan. Ambil kanan, jalanan semakin berbatu, becampur tanah, ketemu pertigaan, yang ke kiri ke bukit Mantong yang kanan ke bukit Anak Dara. Bebatuan mendominasi jalan. Sesekali sepeda motor yang saya pakai kandas, nabrak batu. Sesekali juga bang Rois harus turun, biar sepeda motor bisa nanjak. Begitu juga dengan bang Roni yang dibonceng bang Imam. Setelah melewati rerumpunan bambu, dari kejauhan bang Jamil kembali, terlihat wajah panik, haha.

Bang Jamil kembali dari pos Registrasi niat mencari kami, dia dah telepon nomor hapenya menggunakan nomor pengelola di sana. Ternyata tak bisa dihubungi, karena dia lupa hapenya menggunakan mode pesawat. Setelah tenang, kami lanjutkan lagi. Jalannya makin bertanah, bang Rois turun, bang Roni juga. Bang Jamil dah memimpin paling depan. Ada pertigaan, kami ke kiri, menukik tajam, jalan tanah berdebu tebal, hingga ketemu jalanan yang sudah disemen, tak jauh dari sana, pos registrasi.

Kami di stop, untuk bayar parkir dulu, karena ada portal pembatas. Baru diberikan masuk, ketika sudah bayar. Bayar parkir, 10 ribu/orang. Nanjak lagi tempat parkirannya, dekat dari pos regitrasi. Baru kami bayar, 20 ribu/orang.

Lepas carrier, kami sholat asar. Isi air lagi di sana, kami nambah masing-masing 1 botol besar untuk stok air di atas sana. Selain air yang sudah kami bawa dari rumah masing-masing 2 liter, ditambah cadangan air kanGen 10 Liter.

Sebelum naik, kami berdoa semoga perjalanan kali ini dimudahkan. Selesai berdoa, bang Jamil memimpin berjalan, dia jalan duluan dengan semangatnya ke arah kanan. Kami melongo terheran-heran, kenapa ngajak kami ke kanan, sedangkan jalannya jelas ke kiri? …

Hahaha… belum aja masuk dah miss landing … addduuuuuhhhh, Jamiiiiiiiiiiiiiiiilllll.


Bersambung ke part 2

Comments are closed.