Sempat Dikucilkan, Keluarga PDP Asal Tanjung Luar Negatif Corona

468

Beredar kabar bahwa hasil rapid tes itu keluar. Sebanyak 9 orang anggota keluarga Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang dikabarkan berasal dari desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak dinyatakan negatif covid-19. Trus…?
Mohon Dibaca sampai selesai, karena gagal paham di zaman ini berbahaya.

(Oleh : Yunita/LOMBOKim*)

Keruak, LOMBOKim.com – Kabar diatas mendatangkan kalimat Alhamdulillah. Bukan hanya dalam hati, namun juga penting disyiarkan “Alhamdulillah”. Meski belum jelas, apa 9 anggota keluarga terkait teras info diatas disebut PDP, OTG, ODP atau istilah-istilah lainnya, karena rilis terkait yang lebih jelas & resmi, masih sulit didapatkan.

Jika ada, LOMBOKim siap berdedikasi sesuai tupoksi

Kembali ke hasil tes itu. Syukur terasa tak cukup dalam hati. Menulisnya rasanya cukup penting. Sebagian dari peran menghimbau agar public tak semakin panik. Karena mungkin juga, panik semakin berbahaya jika menikah (disandingkan.red) dengan corona. Mungkin tapi ya?. Di posisi yang sama banyak gosip beredar, bahwa penanganan pandemic ini sungguh terasa tak adil.

Terbaca adil di promosi preventifnya, terbaca adil di para penikmat anggaran pencegahannya, namun yang kasian adalah keluarga – keluarga dengan potret – potret yang terkucilkan. Keluarga yang terpisah jarak dan waktu. Dan, males ah, nanti ada yang nangis.

Penanganan Pandemik ini sepertinya tak cukup dengan poster, leaflet, dan alat-alat lain yang teranggarkan. Entah berapa anggarannya. Itu bukan urusan. Yang penting diperjuangkan adalah mereka yang terkucilkan juga harus ada ruang untuk disembuhkan, dan juga disosialisasikan bahwa mereka sembuh. Di desanya, di tetanganya. Sekali lagi agar mereka tak terkucilkan.

Contohin aja kami. Di LOMBOKim, hehe. Cukup Sosialisakan. Enggak usah sampai Syukuran kesembuhan, atau roahan karena kumpul-kumpul gitu kan dilarang. Kami merasa terpanggil untuk itu. Kami mensosialisasikannya dengan gratis. Mereka Sehat Bu, Dia Negatif, Pak.

Jika banyak anggaran. Ingin rasanya mencetak baliho besar – besar di depan rumahnya, di gapura dasannya. Agar stigma negatif untuknya berhenti. Agar warga-warga itu, g nyinyir terus. Emang artis apa? yang udah terlatih untuk dinyinyirin. Mereka juga rakyat yang enggak makan uang rakyat. Iya kan?.

BACA JUGA  Curhat Mahasiswa Asal Lombok di Jawa: Gak Bisa Pulang, ya Mau Gimana Lagi

Entar dulu. Kok Bisa Sampai Ngome Begitu? Santai Dong..!!!

Jadi begini ceritanya. Ada informasi sesuai paragraf pertama di tulisan ini. Jika ingin dibaca ulang, boleh. Lanjut juga boleh.

Bagi keluarga terkait tentu kabar itu adalah angin segar. Wajar saja, karena mereka cukup lama harus membatasi diri dengan lingkungan sekitar. Selain itu, tidak sedikit dari masyarakat di lingkungan sekitar mereka, bukannya memberikan dukungan malah menyalahkan dan mengucilkan.

Sebelumnya, memang beredar informasi bahwa ada 2 orang dengan status yang belum jelas, entah itu OTG, ODP, atau mungkin PDP yaitu BK dan istri yang berasal dari Tanjung Luar. Kabarnya, BK sebelumnya pernah melakukan perjalanan ke Gowa. Tetapi sebelum hasil tes keluar, kita tentu tidak dapat mengklaim apakah mereka positif atau tidak.

Tetapi Alhamdulillah, istri dari BK sudah dinyatakan negatif. Sementara pasien BK saat ini masih menunggu hasil tes dan dikonfirmasi keadaannya terus membaik.

BACA JUGA  Akibat Minim Data Ditingkat Desa, Pernikahan Dini Di Lotim Banyak Tidak Terdeteksi

Isu yang beredar di tengah masyarakat pun simpang siur, beragam informasi beredar. Tn. M salah seorang anggota keluarga pasien mengaku, info yang beredar membuat mereka semakin resah

“Banyak dari mereka menyebarkan informasi yang salah. Ada yang bilang istrinya positif sehingga suaminya kabur ke Tanjung Luar. Ada yang bilang semua keluarga di karantina, Ada yang bilang semua keluarga positif. Kami semua dijauhi, ke pasar saja dijauhi,”keluhnya (25/04/2020).

Pihak keluarga berharap dengan keluarnya hasil tes 9 orang tersebut, stigma masyarakat terhadap keluarga mereka tidak lagi negatif. Lebih lanjut, M berharap agar masyarakat tetap bersikap baik dan tidak menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

“Harapannya untuk masyarakat agar tetap tenang, tidak menyebarkan informasi yang salah. Ketika ada yang teridentifikasi, mari saling mendoakan dan saling mendukung,”sambungnya.

Hal ini tentu perlu menjadi perhatian kita bersama. Agar hal-hal seperti ini tidak terulang lagi. Jaga jarak fisik boleh, tapi jangan sampai jaga jarak moral. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.