Sejarah Jurnalistik dan Ciri Bahasa yang Sering Digunakan

339

LOMBOKim – Assalamu’alaikum para Kimmer. Membahas sejarah Jurnalistik tentu tergantung sudut pandang dan bagaimana sang penulis mengutipnya. Dari sisi Islam misalnya, tata kerja jurnalistik disebut sudah mulai dari sejak zaman nabi Nuh Alaihissalam yang memerintahkan atau memenejemen burung untuk mencari kabar soal surutnya air laut saat Nabi Nuh dan jamaahnya berlabuh.

Sebegitu luasnya makna Jurnalistik, sampai – sampai kode atau keajaiban dari hewan pun dimasukkan dalam cara kerja Jurnalistik yaitu mencari, meliput, mengolah, menyebarluaskan/mengabarkan. Update untuk kepentingan publik. Bayangan kita tentu saja yang jadi wartawan pertama saat itu adalah si burung yang membawa setangkai ranting tanda air sudah mulai surut. Lalu kemudian redakturnya bisa jadi asisten Nabi Nuh dan Pimrednya  sendiri adalah Nabi Nuh Alaihissalam. Lalu penerima kabarnya (publik) adalah jamaahnya yang kemudian diteruskan sampai ke kita-kita yang saat ini lagi baca LOMBOKim.com.

Namun demikian, secara Ilmiah terkait sumber – sumber dan sejarah, termasuk kriteria Jurnalistik dan gaya bahasanya, tentu saja sesuai perkembangan zaman dan aliran nalar dari pelaku Jurnalistik yang biasa disebut Jurnalisme. Hingga generasi sekarang yang menyebut diri sebagai generasi millenial, tentu tidak semua kabar yang disebarluaskan disebut sebagai karya Jurnalistik. Sebut saja kabar atau status di media sosial. Jika dilihat dari gaya bahasanya, ya g mungkinlah disebut karya Jurnalistik.

Sejarah jurnalistik, banyak Ilmuan merujuk kepada Acta Diurna pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM). Acta Diurna, yaitu sejenis papan pengumuman, zaman sekarang majalah dinding atau papan informasi sekarang, kali ya sob kimmer? Jadi papan itulah yang diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia.

Julius Caesar dari versi sejarah Jurnalistik ini disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”. Pendapat lain menyebutkan, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas perintah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada Annals, yakni papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.

Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada Acta Diurna. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut Forum Romanum (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Berita di Acta Diurna kemudian disebarluaskan.

Saat itulah muncul para Diurnarii, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan Acta Diurna itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan. Dari kata Acta Diurna inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata Diurnal dalam Bahasa Latin berarti harian atau setiap hari. Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi Du Jour dan bahasa Inggris Journal yang berarti hari, catatan harian atau laporan.

Dalam sumber yang sama disebutkan, Di cina, tepatnya pada tahun 911 M, muncul surat kabar cetak pertama dengan nama Tching-pao yang diartikan “Kabar dari Istana” dan pada tahun 1351M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar Tching-pao untuk dapat dibaca oleh rakyatnya secara teratur dengan waktu terbit seminggu sekali. Kemajuan jurnalistik berkembang dengan pesat pada tahun 1450 dengan adanya penemuan mesin cetak oleh Johan Guttenberg.

Peristiwa besar yang diumumkan lewat surat kabar tersebut adalah penemuan Benua Amerika oleh Christoper Colombus. Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah Oxford Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian berganti nama menjadi London Gazzette dan ketika Henry Muddiman menjadi editornya untuk pertama sekali dia telah menggunakan istilah “Newspaper”. Pada pertengahan 1800-an mulai berkembang organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah. Kantor berita pelopor yang masih beroperasi hingga kini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).

Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst.

Sebagai catatan, surat kabar generasi pertama di AS awalnya memang partisan, serta dengan mudah menyerang politisi dan presiden, tanpa pemberitaan yang objektif dan berimbang. Namun, para wartawannya kemudian memiliki kesadaran bahwa berita yang mereka tulis untuk publik haruslah memiliki pertanggungjawaban sosial.

Bahasa yang Sering Digunakan dalam Jurnalistik

Sahabat kimmer, setiap sesuatu memiliki karakter tersendiri. Termasuk bahasa Jurnalistik. Bahasa jurnalistik disebut sebagai bahasa komunikasi massa yang banyak kita baca dalam harian-harian surat kabar dan majalah, dan juga media online, seperti media yang sedang kimmer baca ini.

Ada beberapa tuntunan yang digunakan untuk tulisan yang menggunakan bahasa Jurnalistik, diantaranya bahasa jurnalistik itu harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal.

JS Badudu (1988) menyebutkan bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas.

Sifat-sifat itu harus dimiliki oleh bahasa pers, bahasa jurnalistik, mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya.

Oleh karena itu beberapa ciri yang harus dimiliki bahasa jurnalistik di antaranya:

Tubiyono (2011) yang mengutip dari H. Rosihan Anwar dan John Hohenberg, merangkai ada 19 ciri bahasa Indonesia jurnalistik yaitu:

1.Sesuai dengan ejaan yang berlaku.

2. Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku.

3.Tidak menanggalkan prefik me- dan ber- , kecuai dalam judul berita.

4. Menggunakan kalimat pendek, lengkap, dan logis.

5.Setiap alinea terdiri dari 2 atau tiga kalimat dan koherensinya terpelihara.

6.Penggunaan bentuk aktif (kata dan kalimat) lebih diutamakan. Bentuk pasif seperlunya saja.Kata sifat juga dibatasi penggunaannya.

7.Ungkapan-ungkapan klise seperti: sementara itu, perlu diketahui,di mana, kepada siapa dan sebagainya dihindari.

8.Kata berlebihan tidak digunakan.

9.Kalimat aktif dan pasif tidak dicampuradukkan dalam satu paragraf.

10.Kata asing dan istilah ilmiah yang sangat teknis tidak digunakan. Kalau terpaksa harus dijelaskan.

11.Penggunaan singkatan dan akronim dibatasi. Pada pertama kali singkatan dan akronim digunakan harus diberi penjelasan kepanjangannya.

12.Penggunaan kata yang pendek didahulukan daripada kata yang panjang.

13.Tidak menggunakan kata ganti orang pertama (saya dan kami), berita harus menggunakan kata ganti orang ketiga.

14.Kutipan ditempatkan pada alinea baru.

15.Tidak memasukkan pendapat sendiri dalam berita.

16.Berita disajikan dalam bentuk past tense sesuatu yang telah terjadi.

17.Kata hari ini digunakan dalam media elektronik dan harian sore. Sedangkan kata kemarin digunakan harian pagi hari.

18.Segala sesuatu dijelaskan secara spesifik.

19.Bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikatif, mudah dipahami bagi pembaca

Demikianlah sahabat kimmer, informasi yang mimin bisa hadirkan dari berbagai sumber terkait bahasa Jurnalistik. Makasih sudah baca tulisan mimin yach. Wassalam. (Gani Ginaya)

*Artikel terkait bisa dicari di tag Jurnalistik dan sumber – sumber dari media siber lainnya

Comments are closed.