Refleksi Hardiknas: Inilah Kondisi Pendidikan Di Negeriku

335

LOMBOKim.com – 2 Mei setiap tahunnya, Rakyat Indonesia  memperingati sebagai  HARDIKNAS (Hari Pendidikan  Nasional).  Hari ini sering dijadikan momentum  oleh para Mahasiswa untuk  menyampaikan  aspirasinya terkait dengan permasalahan-permasalah pendidikan di Negeri ini. Namun tahun ini, kita tidak akan bisa menyaksikan para Mahasiswa turun ke jalan.

Apakah Hal ini, karena pendidikan di Negeri ini sudah berdaulat? Sudahkah sesuai dengan yang diharapkan  oleh masyarakat  dan bangsa Indonesia? Sudah tidak ada permasalahan lagi? Tentu tidak! Sepinya Jalan oleh para Mahasiswa pada momentum peringatan HARDIKNAS kali ini karena sedang terjadinya bencan. Merebaknya Covid-19 yang hari ini tengah menjadi Pandemi Global yang kemudian memaksa pemerintah  Indonesia  untuk mengeluarkan kebijakan “Lock Down”  dan “Social Distancing” Sehingga  kegiatan  berkerumun di luar rumah dilarang.

Seperti  yang kita  tahu bersama, pendidikan  merupakan bagian vital dalam sebuah  Negara,  karena melalui  pendidikanlah akan mencetak generasi  penerus bangsa. Maka sederhana saja kondisi pendidikan  hari ini adalah visualisasi dan menentukan kondisi suatu bangsa dimasa mendatang.

Indonesia adalah salah satu Negara berkembang di dunia yang masih mempunyai masalah besar dalam bidang pendidikan. Kita mempunyai tujuan bernegara ”mencerdaskan kehidupan bangsa” yang seharusnya jadi sumbu perkembangan pembangunan kesejahteraan dan kebudayaan bangsa. Namun yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan.

Melihat skor Indonesia berdasarkan hasil Skor Penilaian Siswa Internasional (PISA),  pendidikan Indonesia masih kalah dengan peringkat pendidikan dari negara tetangga  Thailand dan Vietnam,  serta hampir 20 tahun kondisi pendidikan Indonesia stagnan berada di posisi salah satu terbawah di dunia.

Anggaran  pendidikan dari APBN cukup besar yakni 20 persen dari total APBN hal tersebut berdasarkan amanat dari Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat (3) yang isinya Negara harus memprioritaskan anggaran pendidikan minimal  20 persen dari APBN. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan RI pada tahun 2020 anggaran  pendidikan  sebesar Rp 505,8 Triliun mengalami  peningkatan dari tahun- tahun sebelumnya yakni dari tahun 2016-2020.

Namun meski begitu,  kenyataan  hari ini seolah terjadi paradoks, anggaran digelontorkan  sangat  besar namun mutu pendidikan kita masih rendah, hal tersebut  tentu disebabkan oleh faktor kurang  cakapnya pemerintah dalam mengelola anggaran seperti tidak tepat sasaran.

Berbagai hal yang masih menjadi momok permasalahan pendidikan di Negara kita, diantaranya:

  1. Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan di Indonesia menjadi sulit bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan,  sehingga faktor ekonomi menjadi alasan utama masih tingginya  angka putus sekolah di Indonesia selain faktor  yang lainnya, sehingga muncul stigma “Orang Miskin Dilarang Sekolah”.

Berdasarkan data yang dikutip data Lokadata.id  angka putus sekolah Mulai dari SD, SMP,  SMA,  SMK terjadi peningkatan dari tahun  2016- 2019 dimana pada tahun  2016/2017 berjumlah 187.087 orang,  pada tahun 2017/2018 berjumlah 187.824 orang dan pada tahun 2018/2019 berjumlah 285.404 orang.

Pemerintah sudah mencanangkan pendidikan gratis dan bahkan pendidikan wajib 12 tahun, akan tetapi biaya-biaya lain yang harus di tangguh oleh para siswa tidaklah gratis. Biaya untuk perjalanan ke sekolah, membeli buku, seragam, dan peralatan sekolah lainnya tidak murah. Mereka harus memikirkan biaya lain selain biaya pendidikan yang bahkan lebih mahal di bandingkan biaya pendidikan itu sendiri. Selain itu, biaya hidup yang semakin meninggi terkadang membuat masyarakat lebih memilih untuk bekerja mencari nafkah dibanding harus melanjutkan pendidikannya

  1. Fasilitas Pendidikan yang Kurang Memadai

Yang juga menjadi permasalahan pendidikan di Indonesia adalah fasilitas pendidikan yang masih kurang memadai. Banyak sekolah-sekolah yang bangunannya sudah hampir rubuh, tidak memiliki fasilitas penunjang seperti meja belajar, buku, perlengkapan teknologi yang memadai serta alat-alat penunjang lainnya yang menyebabkan pendidikan tidak dapat berkembang secara optimal.

Permasalahan  ini sering kita jumpai  pada sekolah- sekolah dipelosok, maka dibutuhkan  peran pemerintah  agar bisa lebih bijaksana terutama dalam distribusi anggaran pendidikan harus benar-benar merata dan memberikan perhatian pada sekolah sekolah yang berada di pelosok.

  1. Ketimpangan Pendidikan Kota dan Desa

Perhatian yang diberikan pemerintah dalam hal pendidikan di kota dan di desa sangatlah berbeda. Pemerintah yang lebih menaruh perhatian pada pendidikan di perkotaan membuat kualitas pendidikan di perkotaan dan di pedesaan menjadi timpang,  terdapat ketimpangan dalam hal bantuan untuk fasilatas pendidikan, dan banyak hal lainnya. Maka tidak heran apabila kualitas pendidikan di Indonesia masih belum merata dimana kualitas pendidikan di kota lebih baik daripada di desa.

  1. Kesejahteraan Guru yang Masih Di Angan-angan.

Keberadaan guru adalah salah satu unsur terpenting dalam dunia pendidikan, karena Ia berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui tranfer ilmunya.

Namun kadang sangat  Ironi, besarnya pengabdiannya kadang sangat tidak sesui dengan honor  yang diterimanya.

Meski kini muncul wacana dana BOS boleh untuk “menggaji” guru honorer maksimal 50%. Sekilas ini adalah angin surga, namun disisi lain muncul  pula  wacana penghapusan pegawai honorer. Hal ini tentu  jadi ambivalen bin paradoks, disatu sisi gaji honorer akan ditingkatkan melalui kebijakan dana BOS di satu sisi muncul wacana penghapusan pegawai  honorer, ini tentu adalah sebuah  kebijakan yang  ambigu dari pemerintah.

Pemerintah dan stakeholders terkait harus benar-benar  serius  menangani masalah  pendidikan  ini. Anggaran  yang  ada harus benar-benar dikelola  dengan baik sehingga mutu pendidikan  di Negara kita bisa sejalan dengan besarnya anggaran  yang  dikeluarka. Pemerintah  juga harus memastikan  bahwa semua anak bangsa bisa mengeyam bangku pendidikan. Jangan hanya dinikmati  oleh mereka yang  punya uang saja.  Karena salah satu amanat dari UUD 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Selain itu, kesejahteraan guru juga harus diperhatika. Jangan sampai, Ia yang memiliki  peran besar terhadap  tercetaknya generasi penerus bangsa ini tidak mendapatkan hak-hak yang semestinya, tentunya melalui kebijaka kebijakan yang positif dari pemerintah.

“SELAMAT HARI PENDIDIKAN. SEMOGA PENDIDIKAN DI NEGERIKU LEKAS SEMBUH”

Tentang Penulis : Paozi Ketua HIPO (Himpunan Pemuda Obes)

Comments are closed.