Prahara Izin Retail Modern

259

Oleh: Riadi Satya Ahmad (Ketua Umum Formasi Pakar UMMat)

OPINI, LOMBOKim.com. Ritel modern pada dasarnya merupakan pengembangan dari ritel tradisional. Format ritel ini muncul dan berkembang seiring perkembangan ekonomi, teknologi, dan gaya hidup masyarakat yang membuat masyarakat menuntut kenyamanan yang lebih dalam pembelian. Industri Eceran, terus tumbuh pesat, tidak hanya di Indonesia, diluncurkan juga di Asia.

Era ritel modern menjelang Asean Economic Community (AEC) 2015 diprediksi akan tumbuh lebih
cepat. Hal itu didukung oleh banyak perusahaan asing yang akan berinvestasi di Indonesia.

Pengertian ritel itu sendiri adalah penjualan barang secara eceran pada
berbagai tipe gerai seperti kios, pasar, department store, butik dan lain-lain
(termasuk juga penjualan dengan sistem delivery service), yang umumnya untuk dipergunakan langsung oleh pembeli yang bersangkutan.

Seiring dengan era globalisasi yang semakin pesat, maka pertumbuhan
ekonomi juga semakin meningkat. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya usaha baru yang tumbuh di tengah masyarakat. Pasar modern asing telah berdiri di Indonesia, bukan saja di pusat perkotaan, tetapi juga di pedesaan sehingga mematikan pedagang kecil dan pasar tradisional.

Pasar Modern adalah pasar dengan
sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran yang berbentuk Minimarket, Supermarket, Department Store, Hypermarket ataupun grosir yang berbentuk Perkulakan.

BACA JUGA  Pasar Rakyat Pringgabaya Ditunjuk Bapenda Sebagai Pasar Percontohan.

Semakin banyaknya pusat perdagangan lain seperti pasar ritel modern, baik dalam bentuk minimarket, hypermart maupun mall yang pada gilirannya dapat membuat pasar tradisional harus mampu bertahan dalam arus modernisasi.

Saat ini keberadaan pasar modern tidak hanya ada di kota-kota besar tetapi sekarang sudah banyak pasar-pasar modern dalam berbagai bentuk terutama dalam bentuk minimarket dan supermarket yang kini sudah banyak berdiri di daerah- daerah. Contohnya di Kabupaten Lombok Timur, Keberadaan Ritel Modern yang telah mengantongi izin sebanyak 52 unit. Terdiri dari 24 Alfamart dan 28 Indomaret. Dari semuannya, tidak ada satupun yang akan berakhir izin usahanya tahun 2019.

Kemudian keberadaan Retail Modern yang akan berakhir kontraknya pada tahun 2019 itu, berdasarkan sikap Bupati Lotim pada Beberapa Bulan lalu, bahwa tidak akan di perpanjang, Namun ternyata sikap tersebut tidak seperti nyatanya, Dengan telah di keluarkan Surat Izin penambahan 30 Titik Ritel Modern.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dengan adanya pasar modern tersebut justru akan memberikan dampak yang positif terhadap daerah tersebut karena dapat meningkatkan pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi daerah dan juga akan menyerap tenga kerja sehingga
dengan begitu maka pengangguran di daerah setempat akan berkurang serta memudahkan konsumen untuk berbelanja, tetapi tidak hanya berdampak positif justru akan berdampak negative terhadap para pedagang pasar tradisional dan
warung-warung kecil yang menjual barang yang sama dengan pasar modern dan jaraknya yang berdekatan akan membuat sebagian konsumen berpindah berbelanjanya ke pasar modern, dengan terjadinya hal itu akan membuat para
pedagang pasar tradisional dan warung-warung kecil yang sudah berdiri sebelum adanya pasar modern itu akan sedikit terganggu.

BACA JUGA  Tipe-Tipe Orang Yang Disukai Oleh Corona, Apakah Kamu Salah Satunya?

Selain memberikan dampak positif seperti penyerapan tenaga kerja dan
kemudahan berbelanja, maraknya hipermarket maupun minimarket modern juga menimbulkan dampak negatif. Banyak pihak menilai mereka berpotensi mematikan pasar atau usaha tradisional, beberapa daerah dalam rangka melindungi pasar tradisional dengan mengeluarkan peraturan daerah, dimana dalam peraturan daerah terdapat pengaturan mengenai jarak antara pasar tradisional, toko modern dan hypermart.

Sedangkan yang jadi permasalahan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, tidak ada pengaturan secara implisit mengenai pengaturan jarak antara pasar tradisional dengan toko modern dan hypermart.

BACA JUGA  Soal Penyaluran ZIS Bazda Lotim, FIKIR Bandingkan Kepengurusan Era Ali dan Sukiman

Pemerintah telah membuat kebijakan dan peraturan yang tertuang dalam Perpres No. 112 Tahun 2007 dan Permendagri No. 53 Tahun 2008 yang mengatur tentang pasar modern dan pasar tradisional.

Akan tetapi, pada kenyataannya peraturan tersebut tidak diimplementasikan dengan baik. Banyak peraturan yang tidak dipatuhi oleh pendiri pasar modern, misalnya masalah perizinan, jarak yang terlalu dekat dengan pasar tradisional, penyediaan tempat usaha bagi pedagang kecil.

Maraknya pembangunan pasar-pasar modern justru dipertanyakan kemanfaatannya secara meluas, Karena melahirkan ketimpangan. Pasar modern mengambil alih keuntungan pedagang kecil dan mengalir ke pasar modern dengan berbagai bentuknya. Dengan demikian, pasar tradisional juga semakin tersingkirkan. Tidak heran apabila muncul sengketa dan resistensi para pedagang pasar tradisional yang telah lama menghuni pasar-pasar desa atau perkampungan.

Serta dengan adanya pasar ritel modern tersebut membuat para konsumen yang awalnya berbelanja di pasar tradsional kini sebagian konsumen berpindah berbelanja ke pasar ritel modern dengan alasan bermacam-macam mulai dari keamanan, kenyamanan kebersihan dan pelayanan, berpindahnya konsumen tersebut juga mengakibatkan kepada penurunan tingkat pendapatan pedagang pasar tradisional dikarenakan pelanggan mereka yang berpindah berbelanja ke pasar ritel modern.

1 Comment
  1. Earn Online says

    I simply couldn’t depart your website prior to suggesting that I actually enjoyed the standard info an individual supply for your visitors? Is going to be back incessantly in order to check up on new posts.

Leave A Reply

Your email address will not be published.