click for more https://fapfapfaphub.com

“Perahu Kandas”

501

Bayu ditiup angin. Dia menghela nafas dan memeluk lutut, sepoinya udara tidak indah dirasakan.

Pikirannya melayang, berat, dan tidak pernah membayangkan, ada profesi mulia yang tega membuahkan bibir. Entah fitnah, apakah ghibah. Semuanya belum pasti.

Namun, Bayu kerap mendengar bahwa dibalik buah bibir itu, ada sawah atau tanah lawan sengketa masyarakatnya ludes. Ada yang digadai, ada pula yang dijual.

Buah bibir berkata, “Diduga untuk biaya sengketa”. Konon, ada kaki tangan Pengacore yang diduga sebagai penghasutnya. Akibatnya, ada Anggaran Bansos RTLH di tanah itu. Ikut pula jadi buah bibir.

” Whooi,” sergap Citra membuyarkan lamunan Bayu.

Bayu tak bergeming. Hanya memandang wajah citra yang sebenarnya terlihat iba melihat lamunan Bayu.

“Sudah kemana?”

“Cari kamu,”

“Oh…!! jawab Bayu sembari beranjak dari duduknya.

BACA JUGA  Mengedukasi Masyarakat, KKN TEMATIK UNRAM Adakan Sosialisasi Pengelolaan dan Penerapan Budaya Mengurangi Sampah Berbasis Rumah Tangga di Desa Lajut

” Ke Serong Cafe Yuk..! ” Citra mengajak.

Merekapun berjalan ke sebuah tempat minum di Kota Serong.

Sambil meneguk kopi khas Lombok yang dipesan. Citra penasaran, apa yang membuat Bayu termenung. Sudah sebulan lebih, wajahnya terlihat galau.

Bayu pun bercerita dihadapan Wajah cantik Citra. Dia tidak terpesona dengan wajah Citra saat itu, karena psikis yang sedang diderita. Naluri lelaki tidak berfungsi saat itu. Bayu terus saja bercerita.

Tak ada gangguan sinyal diantara komunikasi mereka. Nyambung, pasalnya Citra juga merupakan Sarjana Hukum yang paham alur cerita Bayu.

BACA JUGA  Resensi Novel Laskar Pelangi, Kelemahan, Kelebihannya dan Unsur-unsurnya

Diceritakan, pembeli gugat penjual marak terjadi di Kabupaten Serong. Dalam bahasa hukumnya adalah gugatan perbuatan melawan hukum. Bisa juga gugatan Wanprestasi.

Sebenarnya gugatan tersebut tak perlu terjadi jika pelayanan di kabupaten Serong sesuai dengan peraturan yang mulia.

Pelayanan hukum “bisa” lebih memperjuangkan keadilan sosial daripada peluang bisnis dibalik derita calon orang – orang yang akan bersengketa.

Sengketa kepemilikan yang cendrung akan mendiskriminasi pemilik hak yang sebenarnya. Apalagi kronologi kepemilikannya adalah jual beli.

“Namun, nasi sudah menjadi basi. Bukan bubur. Karena kalau bubur, bisa dimakan lagi, minimal oleh orang-orang yang membutuhkan,” ujar Bayu menghela nafas, terbaca memutuskan curhat.

“Nasi basi juga bisa dibikin kerupuk,” timpal Citra.

BACA JUGA  NTB dapat Perhatian Pusat soal Pariwisata, Industrialisasi dan Pengembangan SDM

“Iya, tapi bagaimana solusinya.?” Bayu tidak terlihat ingin bercanda.

“Kita susun laporan ke Ombudsman,”jawab Citra.

” Saya trauma lapor melapor,”timpal Bayu.

“Saya obati trauma Anda. Di Ombudsman itu terdiri dari orang – orang berhati mulia. Disana petugasnya menjunjung tinggi nilai keadilan atau bukan hanya berbicara soal hukum, serta tidak berbisnis dibalik derita korban perkara,” cetus Citra sembari meneguk tetesan terakhir jus Alfukat yang dipesannya.

Bayu juga demikian. Ia terlihat semangat menghabiskan tetesan kopi yang airnya mulai surut.

“Boleh galau dengan kompetensi para penegak hukum. Tapi Kita tak boleh membiarkan perahu kandas. Karena sudah terlalu banyak anggaran untuk membuat dermaga,” tutup Citra sembari memegang tangan Bayu.

(Bersambung).






Comments are closed.

Look At This teluguhotsexstories.me