Pengembaraan Panas, Cerbung (3)

128

Cerbung (3) LOMBOKim – Laju kemudian memaksa Yuhi untuk mengajaknya menuju kamar –kamar yang ada di studio itu.  Laju memotret gambar suasana di rumah itu dengan model Yuhi yang sedang merintih kesakitan.

Semua gambar terpotret.  Termasuk gambar-gambar anak dibawah umur yang mengundang nafsu. Hasil fotografi yang tidak mempertimbangkan mudharat. Bagi Laju, Photografi sah-sah saja, namun jika di kembangkan untuk anak dengan putih abu-abu, indikasinya menjadi go pornoaksi, go prostitusi. Naudzubillah.

Mengingat itu, ingin rasanya ia menampar wali kelasnya yang juga master pendidikan itu. Karena jika dibiarkan, Sebagaimana ia menampar Yuhi, maka kaum ibunya banyak yang akan menjadi korban.

“Sekarang kamu mau menjadi musuh Aku atau sahabat Aku.” tawar Laju.

BACA JUGA  Pengembaraan Panas, Cerbung (1)

Yuhi terdiam kemudian meneteskan air mata. Ia menjawab menjadi sahabat. Laju tak mudah terpancing. Ia kemudian menawarkan syarat sambil meminta maaf.  Kamera itu menjadi miliknya. Yuhi setuju.

“Bagaimana dengan Lisa?” tanya Yuhi.

“Lisa baru tadi pagi Saya ketemu?”

“Oh. Kalau gitu begini,…. Mala Tyang antar segera dari sini. Sebentar lagi mereka datang. Tyang minta maaf dan siap menjadi sahabatmu.”jawab Yuhi sambil terhuyung bekas pukulan Laju.

Mereka kemudian meninggalkan tempat itu. Mereka menjadi seorang sahabat. Banyak bersandiwara di tengah komunitas itu. Satu minggu mereka bergaul, Laju mulai merasa nyaman dan curhat soal dirinya yang masih usia putih abu-abu.

Laju ingin sekolah kembali. Tapi bukan ditempat orang-orang yang mengenalnya. Yuhi siap membantunya.

“Aku ingin sekolah lagi, tapi carikan yang tidak sok disiplin. Karena Aku butuh uang,” kata Laju.

“Maksudnya?

“Yang bisa ditinggalkan mencari uang, dengan pekerjaan yang engkau tunjukkan ini,” jelas Laju.

“Kalau begitu di sekolah swasta saja.” tawar Yuhi

Laju setuju. Seminggu kemudian Laju sekolah di Kabupaten Lombok Barat bersama bantuan Firmanto Mahfuz, sahabatnya. Dialah yang mengurus izin sampai surat pindah. Rahasia di mata keluarganya yang sesungguhnya juga acuh tak acuh karena peristiwa kliping dan pelukan gempa, tetap terjaga.

BACA JUGA  Pandan Dure - Joben Saksi Galau, Cerbung Pariwisata (3 dari 5)

Laju kini sekolah di sebuah madrasah yang berlogo bulan bintang. Sekolah yang baru menamatkan satu orang alumni. Sepuluh bulan kemudian, Laju adalah alumni ke-dua.  Dalam sekolahnya, Laju tak ingin dibiayai siapapun. Bukan oleh Firmanto Mahfuz, bukan pula oleh Yuhi yang kini sudah berubah, tapi soal narkoba dan wanita, Yuhi sulit menghilangkannya.

Karena sudah menjadi sebuah kebiasaan. Laju paham akan hal itu dan berdoa agar Yuhi punya niat baik untuk benar-benar berubah.  Laju, kini hidup dengan bakatnya, bernyayi dan menjadi tenaga kerja wanita. Dipesan, diberi uang, kadang pula dirayu oleh lelaki hidung belang.

– (Bagian ini selesai, akan dilanjutkan ke tema selanjutnya) –

Leave A Reply

Your email address will not be published.