Pengembaraan Panas, Cerbung (2)

73

CERBUNG (02), LOMBOKim – Yuhi tahu, rata-rata pencak silat asli Lombok memiliki serangan yang mematikan. Fatal sedikit atau jika berhadapan pemilik pencak yang tak toleransi, maka akibatnya paling sederhana adalah patah tulang.  Tapi, karena merasa perguruannya di ejek. Yuhi enggan mengalah.

Ia sebenarnya sadar bahwa gadis yang dihadapinya bukan gadis sembarangan. Sedikitpun pukuluannya tak pernah menjegal sasaran. Membuat Yuhi selalu kalap.

“Gerakanmu sigap, namun kamu tetap buntu.”ledek Yuhi

“Oke. Kita lihat sejauhmana tenagamu bisa melawan aku.” sambut Laju.

Mereka kembali menguras tenaga, saling pukul, saling tepis, sesekali mengumpat. Bahasa perempatan keluar di kamar yang sebelumnya dihayalkan menjadi silat indah di ranjang itu. Sebuah kamar yang sering ditempatinya, namun apes benar untuk hari ini, ia harus berhadapan dengan tomboy seksi yang misterius.

Laju yang mengalungkan kamera sedikit kewalahan dengan serangan Yuhi yang bertubi-tubi. Seringkali Laju terdesak. Hingga ia berfikir untuk menghentikan pertikaian itu. Pasalnya, musuh sudah tak memiliki toleransi. Yuhi disadarinya tak akan mengalah.

Jika sampai Laju kalah, maka keperawannanlah yang akan menjadi taruhan. Bisa jadi dia diperbudak dan diperkosa satu lubang rame-rame, di area itu. Faktor dendam akan membuat Yuhi pasti tega melakukan itu. Sambil menangkis serangan, kini Laju tak ingin sebatas diam. Sikon juga tak memungkinkan untuk berdamai sebelum ada yang menjadi korban.

BACA JUGA  Bab 1 Pendekar Seragam Bebas

Dalam Mata Pisau, pencak silat asli Lombok yang dimiliki oleh Laju, memang bukan untuk menyerang, namun hanya untuk bela diri dan membunuh lawan, hanya jika terdesak. Yang sering terjadi sebagai puncak terakhir dari Ilmu bela diri asli Lombok ini adalah sabar dan membuat perdamaian di tengah pertikaian.

Menjadikan musuh sebagai sahabat, dan mengharmoniskan hubungan dengan saling menghargai ketika emosi selesai terbendung selalu diingat Laju sebagai pesan gurunya di desa Mbung Tiang Kecamatan Sakra Barat. Atas dasar itu,  Yuhi semakin terpancing dan leluasa menyerang.

Kini Ia menggunakan serangan tipuan. Kadang tujuan tangannya adalah kepala, namun ternyata, kaki sudah siap mencari sasaran lain. Laju sadar akan hal itu. Pada saat Yuhi melepaskan pukulan,  Laju tidak menepisnya, namun mencoba menarik tangan Yuhi untuk segera menghentikan pertikaian.

Yuhi yang mengetahui tangannya di tangkap, kembali segara menarik serangan, kemudian menghantamkan kaki ke pundak lawan. Cara laju menarik tangan Yuhi diluar dugaan. Hingga membuat tipuannya untuk segera melayangkan tendangan ke pinggang ternyata salah.

Bragh….

Ukkkhhh…..

Yuhi terpelanting sambil merintih. Tangannya terlihat meraba sesuatu yang perih di pangkal pahanya. Melihat Yuhi memegang kemaluannya. Laju tersenyum geli.  

“Wadduh…..g bisa dimanfaatkan dong anunya. Hmm…g mau ah takut g puas, akkh…okhhh…”ejek Laju yang semakin membuat Yuhi geram.

Yuhi ingin kembali bangkit. Tapi Laju sudah capek. Ia langsung mendaratkan kembali pukulannya ke perut Yuhi dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya, secara romantis perlahan diarahkan untuk meraba kemaluan Yuhi.

“Besar g ya?. Ha..ha..suara Laju.

BACA JUGA  Novel Terparah Sepanjang Masa? Bahas TGB dan ….. Mirip

Kini Yuhi tak bisa apa-apa. Lemah lunglai tak berdaya. Laju kemudian memberikannya bayangan. Menyatakan bahwa jika seandainya ia tega, maka cukup dengan mengambil gambar dengan kamera maksiat, memotret bahan –bahan peransang yang ada disana.

Menjelajah ruangan, kemudian melaporkan ke Kantor Polisi dan mengatakan bahwa dibalik aktivitas mereka, ada perbuatan yang merugikan kaumnya. Photografi pemancing prostitusi.

“Kaumku kalian ejek dan nistakan disini. Dan Saya yakin bukan disini saja. Kaum ibu dan nenekmu kalian jual ditengah kelemahan dan kelabilannya. Kecantikan mereka kalian eksploitasi untuk onani. Mengeluarkan cairan yang bakal menjadi generasi. Tapi untung cairan itu berasal dari kalian, sehingga tidak melahirkan generasi bangsat seperti kalian. Tindakan kalian biadab.”sesengguk Laju sambil menangis.

“Tidakkah kalian renungkan bahwa mereka di bawah umur?. Tidakkah kalian renungkan bahwa mereka juga punya nafsu yang jika kalian bimbing kearah itu mereka pasti terbawa arus,”paparnya. Jujur aja ya say…Saya juga punya nafsu, Saya penasaran soal itu. Tapi bukan begini caranya. Aku bisa memuaskan kamu dengan cara baik-baik. Tapi aku sudah sakit dengan cara-cara munafik kalian. Sesudah kalian puas. Kalian buang kaum Ibumu. Jika mangsa kalian hamil, maka kalian lari. Dimana perasaan kalian Annj………. ” lanjut Laju histeris.

(Bersambung, Cari dengan Judul Pengembaraan Panas, Cerbung (3)

Leave A Reply

Your email address will not be published.