Pemberitaan Hot Issue Di Negara +62. Benarkah sebagai Pemicu Pesimisme?

104

LOMBOKim.com – Di saat huru-hara terorisme media berlomba-lomba menyajikan berita serangan teroris, peledakan bom bahkan baku tembak aparat dengan pelaku. Di masa pemilu media berlomba-lomba menyajikan berita perpecahan saudara se-iman hanya karena perbedaan pilihan dan argumentasi. Di masa trade war, media berlomba-lomba menyiarkan informasi terkait melemahnya ekonomi nasional yang berdampak pada aspek esensial dan berita memanasnya hubungan AS dan Tiongkok yang di kaitkan dengan the ending of trade war is the beginning of world war 3. Di masa pandemic covid-19, media berlomba-lomba menyajikan berita adanya gelombang covid-19 yang baru, sulitnya menemukan obat dan vaksin covid-19 bahkan kembali terinfeksinya pasien yang dinyatakan sembuh. Dan pastinya setiap hari masyarakat disajikan dengan berita-berita pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, tawuran, korupsi oleh TV nasional bahkan menjadi headline news.

Kemudian apakah ada yang salah dengan berita diatas? Tentu tidak karena pemberitaan semacam itu memberikan kita input berupa informasi faktual sehingga kita dapat mengikuti hot issue yang sedang terjadi di seluruh Indonesia bahkan secara global.

Lalu? Iya walaupun berita diatas tidak melanggar hukum namun berita tersebut mengajak kita lupa betapa damainya bangun dipagi hari lalu berkumpul bersama keluarga dan bersapa ria dengan tetangga, cerita kedamaian ini tak tersentuh sedikitpun oleh berita. Mengajak kita lupa betapa bahagia dan damainya kehidupan pedesaan yang kental akan adat-istiadat gotong royong dan ramah tamah, pernahkah cerita ini menjadi hot issue?. Mengajak kita lupa dibalik bergejolaknya kasus narkotika ada bandar narkoba kelas kakap yaitu fredy budiman yang menjadi seorang alim yang selalu khatam Al-quran setiap harinya hingga akhir hayat, pernahkah menjadi headline news?. Mengajak kita lupa dibalik keributan pemilu terdapat jutaan orang yang bahagia menerima intensif dari keterlibatan sebagai pegawai TPS, KPPS dan saksi pemilu, pernahkah kebahagiaan ini diberitakan?. Mengajak kita lupa dengan masyarakat yang hidup berdampingan dan damai walaupun berbeda keyakinan, ras, suku bahkan berbeda kepentingan, Pastinya cerita ini luput dari pemberitaan. Dan di balik pandemic covid-19 masih banyak hikmah positif yang seharusnya di booming kan tapi lagi-lagi media tak berminat memviralkannya.

BACA JUGA  Kemendes Kucurkan Dana Rp22,4 T BLT Di Desa

Sadar atau tidak inilah yang disebut dengan pessimist trigger/pemicu rasa pesimis di tengah-tengah masyarakat. Kok bisa? Tentu sangat bisa karena topik sebuah berita cenderung diambil dari pessimist view yang memprioritaskan kuantitas pembaca dibanding kualitas subtansi yang menyehatkan psikis, tentu hal ini menyebabkan mainset masyarakat mengarah ke stigma seolah-olah bangsa kita selalu penuh dengan kekacauan dan masalah sehingga seolah-olah kedamaian dan kerukunan sudah musnah di tanah air kita. Alhasil pesimisme akan menjadi teman akrab kita sehari-hari. Pastinya aliran informasi yang memicu pesimisme dapat menyebabkan perilaku yang tidak sehat ditengah-tengah masyarakat. Jadi jangan heran jika pola pikir masyarakat khususnya generasi penerus bangsa cenderung menyimpang, sebut saja tawuran yang merupakan hobi baru para pemuda. Berantem kok jadi hobi, wajar karena media gemar memberitakannya hehehe. Sangat fatal bukan? Lalu siapakah yang pantas kita salahkan? Wallahualam Bisawab (Farid Wajdi)

BACA JUGA  Catat ! Kegiatan Usaha Tidak Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19 Akan Ditutup Polda NTB

Leave A Reply

Your email address will not be published.