Pandan Dure – Joben Saksi Galau, Cerbung Pariwisata (3 dari 5)

116

Cerbung 3 – dari 5 – Ketika Aku mulai menggunakan Jilbab berlogo sekolah itu, Firmanto Mahfudz datang dengan celana pendek dan kaos warna yang sama. Bedanya hanya rok dan celana. Firmanto Mahfudz menatapku dan dia tersenyum.

“Meskipun tidak sesuai selera, Aku akan belajar menerimamu apa adanya dan sesuai seleramu,”kata Firmanto Mahfudz terlihat kecewa.

“Loh, laasingan side Enggak konsultasi dulu, gemana pakaian yang Aku inginkan.

“Aku kan sering melihat side menggunakan pakaian feminim terutama di Taman ketika olah raga. Dan ketika menggunakan pakaian bebas saat diluar sekolah, jadi ya Aku berpedoman pada bagaimana cara berpakaianmu,

“Hemmm,,,,Tiang sekarang mau merubah diri nto,,terlalu banyak dosaku selama ini. Memamerkan aurat, tidak menghargai takdirku sebagai seorang perempuan dan banyak lagi, ujarku yang membuat Firmanto Mahfudz terdiam. Kami lama dalam diam, membuat perasaanku kurang enak dengannya.

Ingin rasanya menghargai sikapnya dan ketulusannya hari ini, tapi bagaimana caranya. Lama kami terdiam sampai tiba di perempatan menuju Joben.

“Kita ke Joben ya,” kata Mahfudz memutuskan pikiranku.

“Terserah Mahfudz saja dah,

Mahfudz belok kanan menuju Joben, sebuah pemandian ternama di Lombok Timur, baru setengah perjalanan, tiba-tiba pikiranku kembali kepada kemungkinan yang akan terjadi, terlebih situasiku yang saat itu sedang tidak stabil.

BACA JUGA  Pengembaraan Panas, Cerbung (3)

“Nto, kalau bisa kita engak usah ke tempat yang dingin-dingin, ya. Aku takut, ujarku spontan.

“Lho kenapa, Tanya Mahfudz sambil tersenyum membuatku sedikit lega karena dia ternyata tidak kecewa. Aku berusaha menjelaskan alasan yang tidak mengarah kepada pikiran negatif Firmanto Mahfudz. Karena bagaimanapun juga Aku pernah mengalami bagaimana ketika berdua dengan beberapa pacarku saat musim pubertas dulu.

Bersyukur Aku, karena tak perah sampai kepada hal-hal yang berlebihan, selalu ada penyelamat karena kesibukanku menjadi aktivis sekolah sejak SMP. Sering dari HP yang berdering memanggil, ataupun deringan alarm yang sengaja terjadwal untuk mengingatkan agar disiplin dan juga ingatan jam tugas yang seolah melarangku terlena dalam buaian asmara pacaran.

Tapi hari ini tidak ada HP, tidak ada uang saku yang kubawa, semuanya kosong. Mungkin itulah sebabnya belum ada kabar dari rumah. Mau dikabarkan lewat mana?. Aku pasrah hanya berlindung kepada yang tidak pernah tidur mengawasi jalan tingkahku. Kini Aku berdua dengan pria yang sering singgah dalam hatiku. Hanya berdua, berharap Allah yang maha kuasa menjaga kami dari godaan Iblis.

BACA JUGA  Bab 1 Pendekar Seragam Bebas

Dengan penjelasan yang masuk akal, takut kena tipes disamping jarang makan minggu-minggu ini, akhirnya Mahfudz bertanya kemana kami akan pergi. Aku menjawab ke Bendungan Pandan Dure, mumpung dekat dengan jalur yang Aku lalui saat itu.

“Oke, jawab Mahfudz yang langsung memutar mobilnya.

“Makasih ya nto, kamu baik banget hari ini. Kamu udah menghiburku disaat Aku seperti ini. Kamu udah belikan Aku baju dan yang terpenting semoga kamu bisa menjaga harga diriku.

“Lha iyalah kan harga diri calon Istri,” papar Firmanto Mahfudz spontan membuat jantungku berdebar dan terdiam kembali. Pacaran belum, nyatakan cinta belum, berdua selama ini cuman kali ini saja, kalau saling lemparin senyum dan debat-debat kecil sering, karena Firmanto Mahfudz bukan anak organisasi, dia lebih senang menikmati kekayaan orang tuanya dengan berfoya-foya, jadi kami jarang bersama dan parahnya masih SMA pula sudah mengucapkan calon Istri.

Kami terdiam kembali dan anehnya Mahfudz mengemudi lebih kencang melaju dari jalur Terara menuju Pandan Dure. Sepanjang jalan sepertinya Mahfudz mengikuti alur pikiranku dan mungkin saja sengaja diam agar Aku bisa merenungkan kalimatnya. Sekitar pukul 15.30 kami tiba di gerbang masuk menuju bendungan Pandan Dure. Walau senja sudah ingin merapat ke peraduannya, disana masih panas, tapi keindahannya membuat gerah sirna.

BACA JUGA  Kisah Raja Dermawan dengan Bawahan Korup

Dari ujung gerbang sebelah barat, terlihat hamparan luas bekas-bekas bukit yang belum tertata rapi karena Bendungan itu baru rampung beberapa bulan, meskipun belum 100 %. Airnya yang tergenang bebas berwarna Cokelat terlihat seperti lautan Cokelat, tepatnya “Danau Cokelat”. Bukit-bukit yang selayaknya hijau juga terlihat Cokelat, mungkin saja pengaruh tanahnya yang Cokelat kemerah-merahan, terkesan belum sempat dilestarikan pasca pembangunannya.

Ada juga genangan air yang hijau. mungkin karena panorama sawah yang masih terlihat diujung selatan bendungan, karena kami melintas melalui jalur utara saat itu.

“Hmmmm,,,,

Ooooh gamaq inaaq, indahnya,,,,,,, ujarku sorak di dalam Mobil sembari membangkitkan lamunan kami masing-masing yang hanyut karena berbagai ucapan yang tadinya mengarah kepada Asmara. 

“Mmmmm, gitu dong, semakin manis terlihat kalau ceria gitu,” ujar Mahfudz sambil mengurangi kecepatan.

Kami berdiskusi kembali, tapi Aku berusaha menguasai diskusi agar jantungku tidak berdebar kembali yang sudah berulang kali membuat kami canggung dengan bahasa-bahasa yang dilontarkan Firmanto Mahfudz. 

“Boleh mengusulkan sesuatu enggak Nto,,,

“Apa?

“Bendungan raksasa ini Aku sebut sebagai “Danau Cokelat”

“Darimana dapat ide?

(Bersambung, Browsing dengan judul yang sama sesuai subnya)

Leave A Reply

Your email address will not be published.