Pandan Dure – Joben Saksi Galau, Cerbung Pariwisata 1 dari 5

86

Didalam kelas Aku termenung. Semua teman kelas tumben sepi. Mereka terlihat ikut hanyut dengan sikapku. Guru guru mata pelajaran masuk. Aku ikut belajar tapi segala penjelasan guru masuk melalui telinga kanan keluar entah darimana, yang jelas bukan keluar dari pantat.

Guru yang terjadwal mengajar, juga tidak menegurku. Walau sesekali kami saling bertatap mata. Dia juga terlihat mengerti dengan sikon yang kini sedang malanda. Sampai bel pulang berbunyi. Kami keluar dan kini Aku dalam bimbang mau pulang kemana. Aku terbayang rumah dengan Ibu bersama muka panas. Pristiwa pelukan gempa itu kembali menyeruak batinku.

“Laju cantik,” terdengar suara memanggil. Ternyata Mahfudz, cowok terkaya di SMAN 25 Labuan Haji. Cowok yang merayu di kantin saat mencari Pak Azwar dan Pemuda itu yang tiba-tiba pergi karena takut membahas sebuah nama.

“Ya, jawabku singkat.

“Galau ya, bisa kutemani?”

“Untuk apa, paling kamu cuman nambah galau,” jawabku jual mahal.

“Udah, jangan kebawa emosi terus, nanti kamu kurus lo, cewek kurus enggak empuk tau,” jawab Firmanto Mahfudz.

“Hiii, bisa saja kamu, emang Aku kerupuk apa?”jawabku tersenyum dan sedikit membuat bimbang berkurang.

BACA JUGA  Air Mata Air, Cerbung Siapa Ayahku 3

“Kerupuk sih renyah nona cantik, mending ini roti gabus, lumayan untuk ganjal perut” sambut Firmanto Mahfudz.

Aku menolak diberikan roti, tapi tidak elok rasanya menolak karena Firmanto Mahfudz terus mendesak dan akhirnnya roti itu kini dalam genggamanku.

Kami terus berjalan menuju gerbang sekolah. Aku teringat rumah dan tidak mungkin pulang dalam perasaan masih gamang. Ketika itu juga langkahku terhenti. Firmanto Mahfudz juga berhenti. Teman sekolah juga sudah mulai sepi. Dalam langkah yang terhenti, ada kalimat keluar dari mulutku, “pulang g’ ya”.

Kalimat itu didengar Firmanto Mahfudz yang langsung membuatnya bertanya. Aku jawab ada masalah di rumah. Dia juga terlihat mengerti, mungkin karena pidatoku tadi pagi. Firmanto Mahfudz langsung menawarkan untuk makan siang. Dengan halus Aku menolak dan mengajaknya untuk shalat Dzuhur di Mushalla Sekolah.

Aku Shalat sendiri sedangkan Firmanto Mahfudz menunggu karena tadi siang giliran teman-temannya Shalat Berjamaah. Lama Aku shalat sambil menengadahkan tangan berdo’a. Selesai shalat memasang sepatu. Ketika itu Firmanto Mahfudz mendekat dan mengucapkan kalimat yang sangat menghibur ditambah ketenangan hati selesai Shalat.

“Selain cantik engkau juga terlihat dewasa,”sanjung Firmanto Mahfudz.

“Makasih tapi mungkin karena badanku gemuk, sehingga semua orang memandangku tak punya masalah,”jawabku padahal sama semua teman di sekolah mungkin Aku yang paling tua, karena Aku masuk SD pada usia 8 tahun.

“Gemuk tapi seksi, disukai banyak pria, dan Aku malu mendekatimu,”.

“Gombal kamu, jawabku memutuskan rayuan Firmanto Mahfudz. Aku berdiri, melangkah, berjalan bimbang. Melihat tingkahku, Firmanto Mahfudz langsung mengajakku ke ruang penitipan Handphone. Karena di sekolah, kami dilarang membawa HP.

Tanpa basa-basi Firmanto Mahfudz menelpon orangtuanya dan terdengar meminta izin untuk pulang malam hari membawa mobil karena alasan tugas kerja kelompok. Telpon ditutup salam. Firmanto Mahfudz langsung menyapAku.

“Laju harus bertangung jawab,,,

“Kok, emang kenapa,sinis banget?”

“Saya sudah minta izin orang tua dan sekarang Aku ingin menemani bertanggungjawab dengan suasana hatimu.

“Ayooo,,,!!!.

Firmanto Mahfudz menarik tanganku dan membawa Aku ke tempat parkir. Tanpa pikir panjang Aku naik ke Mobil Honda Brio Sports yang dikendalikan anak pengusaha kaya itu. Hanya berdua dalam Mobil melaju ke arah barat, entah mau kemana. Lama terdiam dan Aku mulai menegur Firmanto Mahfudz menanyakan mau kemana. Dia bimbang dan terdiam kemudian menjawab “Terserah Kamu.”

BACA JUGA  Pandan Dure - Joben Saksi Galau, Cerbung Pariwisata (4 dari 5)

Kami mulai berdiskusi sambil berencana ke berbagai Lokasi Pariwisata di Lombok Timur. Joben, Tete Batu, Lemor, Sembalun, Pantai PINK, Pantai Syurga, Pantai Baloam, Kaliantan, dan banyak yang disebut Firmanto Mahfudz. Tapi Aku ingat bahwa Kami sedang menggunakan baju seragam.

“Kalau begitu tunggu sebetar ya,” kata Firmanto Mahfudz sambil meminggirkan mobilnya. Berhenti di depan sebuah ATM Bank NTB, milik pemerintah daerah. Sekitar 10 menit menunggu sendiri di Mobil, Firmanto Mahfudz datang membawa beberapa lembaran merah, dan menaruhnya bebas di kursi mobil. Dia turun kembali. Saya melihatnya ke sebuah warung jarak 10 meter dari ATM.

Firmanto Mahfudz kembali. Ternyata dia memesan POP Mie dua buah dan beberapa makanan ringan termasuk kerupuk produk lokal yang terlihat dibuat di Kelayu, nama sebuah kelurahan di Kecamatan Selong. 

“Ayo dimakan, kita kan belum makan siang,” sapa Firmanto Mahfudz sambil menghidupkan mobil, kemudian melaju kembali. Di perjalanan Aku tidak langsung memakan Pop Mie itu melainkan menyuapkan ke Firmanto Mahfudz yang membuatnya terkejut.

“Yuh, Side yang makan cantik,”

Bersambung (Browsing dengan Judul yang sama, tapi sesuai subnya)

Leave A Reply

Your email address will not be published.