Pandan Dure – Joben Saksi Galau, Cerbung Pariwisata (4 dari 5)

70

(Cerbung 4 dari 5) “Dari warna air dan luasnya, bayangkan jika Bendungan ini di musim hujan. Airnya akan datang dari berbagai arah yang kemudian membuat warnanya Cokelat. Selain itu, airnya juga pasti penuh dan akan membuat banyak potensi yang bisa dikembangkan disini, salah satunya Lomba Dayung Sampan tanpa harus takut dengan gelombang, itu kan bisa menarik minat wisatawan”paparku panjang lebar yang membuatnya terlihat terkesima.

“Mmmm,,,mungkin Cokelatnya hanya di waktu Pagi, kalau di waktu Sore warnanya akan berubah menjadi orien karena pengaruh cahaya Matahari dari arah barat,”jawab Firmanto Mahfudz enggan kalah yang membuat kami nyambung dalam diskusi.

“Dari Side, namanya “Danau Orien” sedangkan dari Tiang namanya “Danau Cokelat,” tapi sebenarnya pagi ataupun sore sama-sama Indah dengan kehadiran matahari yang membuatnya berwarna oren, tapi warna dasarnya kan Cokelat, jawabku disambut tawa bersama.

“Sebenarnya ada perbedaan antara Bendungan dan Danau. Kalau bendungan itu dibuat dan diolah oleh tangan manusia dan kalau Danau itu murni karena peristiwa Alam.

“Terserah, dalam bahasa sastra apalagi cerita fiksi, semua bisa terjadi, lagian mau diolah tangan manusia, mau terjadi secara Alami semuanya atas kehendak Allah, ya kan?

Firmanto Mahfudz menganguk dan menyanjungku sambil melemparkan pandangan sekejap yang membuat kami saling bertemu mata. Tatapannya sungguh nyaman, terasa bahwa ada hal bersejarah yang ingin dikatakan cowok tajir ini. Aku sebenarnya saat itu menunggu. Aku ingin Dia menyatakan cintanya, tapi galau dalam benakku belum bisa kuhilangkan dengan kesenangan semata. Aku ingin menjadi wanita yang benar-benar berubah dalam pergaulan asmara  dan tidak mau terganggu dengan aktivitas pacaran.

Sekitar dua kilo meter dari arah barat, kami sudah mulai belok kanan ke arah selatan menuju tanggul bendungan. Kami kembali membuka diskusi. Diskusi saat ini beda, bukan lagi terkait keindahan “Danau Cokelat”. Tapi Mahfudz yang sudah mulai terpancing dengan karakterku yang suka diskusi membuka diskusi lagi dengan siapa penggagas “Danau Cokelat” itu.

“Tiang kok berfikir siapa yang punya gagasan sampai terbentuknya Danau Orent ini, kamu tau enggak?

“Mmmm,,,Kok Danau orent sih,,hii,,hii, kalau penggagas sih semua berperan, yang perlu dipikirkan siapa yang nekat dan berani, karena kalau tidak salah sejak dulu Danau Cokelat ini ingin dibangun, tapi problemanya adalah pembebasan lahan. Semua pemerintah kita berperan, baik Pusat, Provinsi, Kabupaten dan paling besar masyarakat yang mengubur sejarah di tempat ini demi kepentingan masyarakat banyak,,

“Hahaha, kamu bijak banget sih, dan Aku setuju. Ketika bendungan ini dalam pengerjaan sempat berpolemik, dan menjadi isu besar karena dibangun dalam keadaan lahan belum tuntas terbayar, pembangunannya pun sempat tertunda entah berapa tahun. Dan ketika menjelang Pilkada dalam keadaan dibangun dengan lahan yang belum tuntas terbayar, sudah dikampanyekan, padahal susah pAyah pembebasan lahan sebelumnya tidak terfikirkan.

“Ceillle, mau menyanjung yang bangun Dermaga di dekat sekolah kita ni ya,,,” jawabku tak ingin terlalu serius.

“Bukan,,tapi ingin menguraikan fakta dibalik sejarah rakyat yang mengenang pemimpinnya. Di hati rakyat itu, ada yang dalam kenangan pahit, dan ada pula yang dalam kenangan manis. Untuk musuh pimpinan A maka dia akan mengatakan pahit, tapi bagi sahabat pimpinan B, sampai mati dia akan membela manis. Semanis hari ini, dan lebih manis lagi wajah cantik di sampingku.

“Ya benar tapi satu hal yang tidak Aku sukai hari ini, di balik gelar sang Pendobrak. Yaitu dari kadernya atau orang pilihannya sebagai pejabat yang ikut mendobrak dengan cara tidak peduli sampai melanggar aturan dan kebijakan.

“Ape ino,,,,?

“Lihat saja serapan BOS, penjualan buku K-13, mending buku karya putra daerah untuk penghargaan potensi generasi, ini mah buku yang sudah digratiskan Negara, terlihat sekali kesan bisnis oleh pejabat itu, belum lagi penundaan midl semester, Amburadulnya pelaksanaan UKK, Penggunaan dana Standar Pelayanan Minimal, DAK dan banyak lagi yang menjadi gonjang-ganjing tetangga saya yang menjadi Guru. Bapak – Ibu guru juga kesal dengan birokrasi yang menanungi tempat kita menimba Ilmu sekarang.

“Ya,,,ya,,,sejarah akan mengenangnya dan malaikat akan mencatat semuanya.

“Ceilleee, tinggi banget sih,

“Terpengaruh dengan pikiranmu dan tiang merasakan benar-benar sebagai pelajar hari ini, ketika dekat dengan nona ketua OSIS yang semoga bisa menjadi istriku kelak.”. Suara Firmanto Mahfudz selalu berujung ke masalah Cinta. Tapi Aku sudah mulai tidak terpengaruh.

Sebelum tiba di tanggul bendungan, ada jalan masuk yang terlihat berbelok dan berliku, menambah keindahan suasana menjelang Sore. Dari jalan itu, Aku melihat pasukan warna Cokelat tua dan muda yang masih mungil-mungil, mereka bernyanyi sambil mendaki jalan. Mereka didampingi oleh seorang pemandu sepertinya  adalah rombongan Pramuka yang terlihat ingin naik melihat suasana Danau Cokelat.

“Stop dulu Nto, bisa Aku pinjem uang kamu enggak?

“Boleh, apa sih yang enggak buat plungguh?, jawab Firmanto Mahfudz sambil memberhentikan Mobil.

“Tiang minta tolong, turunkan saya disini, trus side pergi belikan Aku snack, terserah apapun bentuknya yang penting di dalam snack itu ada Cokelatnya. Tiang mau aksi sosial.

“Siap cinta,,,tapi endek maiq ruende, turun dari mobil pake switer dalam keadaan panas, pake rok mini, tapi kamu gunakan Jilbab, jawab Mahfudz nyengir.

“Haha,,,

Akupun membuka Jilbab dan pakaian seragam sekolah. Kini Aku berbusana rapi tapi seksi, surprise dari Firmanto Mahfudz yang dibelikan tadi siang. Penampilanku jauh berbeda ketika Aku masih di dalam Mobil untuk menghindari pikiran kotor ketika kami sedang berdua. Tidak ku pikirkan lagi, apa respon Mahfudz, yang jelas Aku ingin membuat kisah disaat galau. Walau dengan uang pinjaman. Aku berani meminjam uang itu karena sudah merasa bahwa Aku sudah tenggelam dalam hati terdalam cowok tajir itu.

Firmanto Mahfudz juga terlihat bahagia memandangku. Kubalas tatapannya sambil melemparkan senyum manja. Jurus yang dulunya pernah berguna. Kini Aku turun dari mobil, sedangkan Mahfudz segera melaju cepat mencari pesanan Cokelat. Beberapa pengunjung yang melihatku, menahan pandangan. Segera kualihkan wajah ini menuju luasnya hamparan Danau Cokelat, sambil sesekali menengok kebawah, menuju arah pasukan mungil itu.

Belum sampai pasukan mungil itu mendaki kearah jalan antara tanggul Danau Cokelat dan luasnya sawah, terdengar trek-trekan sepeda motor berknalpot resing. Bikin bising dan mengarahkan pandangan seolah mencari arah suara itu, tak terkecuali Aku. Tapi suara itu tidak Aku hiraukan, karena saat itu muncul bayangan Lola Adikku yang berdiskusi tadi malam, terutama terkait Air, Alam, Program dan Mata Pelajaran.

Muncul dalam inspirasi dan lahirlah tanda tanya, mengapa Danau Cokelat itu belum terdukung inisiatif penghijauan, karena beberapa waktu lalu, kunjungan sempat gerah karena panas. Mungkin salah waktu berkunjung, terlalu siang disaat matahari menyengat. Tapi bagaimanapun juga keindahannya membuat terhibur. Walau tak seindah suasana hati karena gejolak ide yang jarang sesuai harapan.

Bersambung (Browsing dengan judul yang sama sesuai sub yang dibutuhkan)

Comments are closed.