Meraih Berkah Ramadhan Ditengah Pandemi

475

LOMBOKim.com-Akhir-akhir ini publik ramai membicarakan tentang Covid-19. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Mulai dari pekerja kantoran sampai kuli bangunan. Tidak heran, karena 11 Maret 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah mendeklarasikan pandemi yang diakibatkan virus corona (Covid-19). Pandemi adalah sebuah epidemi (penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi di area tertentu) yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, dan umumnya menjangkit banyak orang. Pandemi ini sangat besar dampaknya secara global karena berdasarkan jumlah kasus yang dilaporkan, lebih dari 180 negara/kawasan telah melaporkan kasus infeksi Covid-19.

Berdasarkan data dari laman Worldometers yang dikutip dari Kompas.com total kasus covid-19 didunia terkonfirmasi sebanyak 4.007.819 (4 juta) kasus hingga Sabtu 9 Mei 2020. Dari data tersebut, sebanyak 1.376.235 (1,3 juta) pasien telah sembuh, dan 27.581 orang meninggal dunia. Di Indonesia sendiritercatat 13.112 kasus, dengan angka kematian sebesar 943 orang dan dinyatakan sembuh sebesar 2.494 orang. Dari data ini menunjukkan jumlah kasus terus meningkat. Dampak yang ditimbulkan juga begitu besar dan menyeluruh mulai dari sosial, ekonomi, pendidikan, budaya dan politik.

Untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan. Diantaranya pemberlakuan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). PSBB ini menegaskan untuk menerapkan social distancing, Work From Home (WFH). Termasuk dalam menjalankan ibadah keagamaanpun dilaksanakan dirumah untuk menghindari kerumunan masa dan memutus penularan covid-19. Hal ini sesuai dengan Fatwa yang dikeluarkan MUI No. 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19.

Bagi umat muslim, hal ini terasa sangat berbeda dan baru dari sebelumnya. Namun sebagai seorang yang beriman kita yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini karena izin Allah SWT dan ada hikmah didalamnya. Sesuai dengan Firman Allah SWT:

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecualidengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan AllahMaha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Taghabun [64]: 11).

Termasuk dalam bulan Ramadhan 1441 H ini difokuskan pada rumah masing-masing. Karena dalam Maqasid Syariah keselamatan jiwa harus diutamakan dan juga sesuai dengan Firman Allah SWT dibawah ini:

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal [8]: 25)

BACA JUGA  Pertanda Apa Kalau Mimpi Berkelahi? Temukan Arti & Solusinya

FirmanNya juga:

… dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan … (QS. al-Baqarah [2]: 195)

Hadist Nabi SAW:

Dari Nabi saw sesungguhnya beliau bersabda: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”(HR. al-Bukhari).

Meskipun ramadhan kali ini dirumah aja, tidak boleh menjadikan kita terus terbawa dalam arus kesedihan, keheranan, kebingungan, dan keheningan semata. Justru sebaliknya, kita harus meningkatkan kualitas diri kita dan memaksimalkan waktu yang kita miliki di bulan ramadhan ini. Karena sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah:2 ; 183 output dari ibadah puasa kita adalah ketakwaan. Makna takwa adalah Allah tidak kehilangan dirimu ketika Dia memerintahkan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak mendapatkan engkau ketika Dia melarangmu melakukan sesuatu.

Hal ini karena puasa berfungsi untuk membersihkan dan memperbaiki jiwa kita. Puasa tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, akan tetapi juga melatih anggota badan agar menahan diri (dari apa-apa yang Allah haramkan). Dengan kata lain, orang yang berpuasa itu hendaklah ia lakukan dengan sepenuh hati, lahir, dan batin. Puasa juga merupakan ibadah dan ketaatan yang dilakukan dengan penuh kecintaan, penyerahan diri dan pengagungan kepada Allah.

Kemudian apa saja yang bisa kita lakukan agar mendapat berkah ramadhan ditengah pandemi ini? Berikut penulis bagikan apa yang ditulis dalam kitab Ihya Ulumuddin Karangan Imam Ghazali pada “Bab Rahasia Puasa Bagian Kedua” tentang mengenai rahasia-rahasia puasa dan syarat-syarat bathinnya. Imam Ghazali membagi puasa itu kedalam tiga tingkat yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa yang khusus dari khusus (lebih khusus lagi). Adapun puasa umum yaitu mencegah perut dan kemaluan daripada memenuhi keinginannya. Adapun puasa khusus yaitu selain mencegah perut dan kemaluan juga mencegah pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya daripada dosa. Kemudian puasa yang khusus dari khusus yaitu puasa hati daripada segala keinginan yang hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya daripada selain mengingat Allah SWT secara keseluruhan.

  1. Puasa Yang Khusus Dari Khusus

Merupakan puasa pada tingkatan nabi-nabi, orang-orang shiddiq, dan orang-orang muqarrabin. Karena ia menghadapakan keinginannya (cita-citanya) hanya kepada Allah SWT semata dan berpaling daripada selain Allah SWT serta memaknai akan pengertian Firman Allah Azza wa Jalla:

BACA JUGA  Zakat Fitrah dan Instrumen Kebahagiaan Di Hari Raya Idul Fitri

Artinya: “Katakanlah Allah! Kemudian biarkanlah mereka main-main dengan percakapan kosongnya.” (QS. Al An’am; 91)

  • Puasa Khusus

Yaitu puasanya orang-orang shalih yakni mencegah segala anggota badan dari dosa. Dan kesempurnaannya dengan enam perkara berikut:

  1. Menundukkan pandangan dan mencegahnya daripada apa yang dicela, dimakruhkan, dan pada tiap-tiap yang membimbangkan serta melalaikan hati daripada mengingat Allah Azza wa Jalla.

Bersabda Nabi SAW:

Artinya:

“Pandangan itu adalah panah yang beracun dari panah-panah iblis yang telah kena kutukan Allah. Maka barangsiapa meninggalkan pandangan, karena takut kepada Allah, niscaya didatangkan oleh Allah kepadanya keimanan, yang diperolehnya kemanisan didalam hatinya”. (Diriwayatkan Al Hakim dari Huzaifah dan shahih isnadnya).

  • Menjaga lidah daripada perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, adu domba, berkata keji, berkata yang merusakkan silaturrahim, kata permusuhan, kata yang mengandung riya’. Dan mengharuskan berdiam diri serta menggunakan waktu untuk berdzikir kepada Allah SWT dan membaca Al Qur’an.

Bersabda Nabi SAW:

Sesungguhnya puasa itu benteng. Apabila seseorang dari kamu berpuasa, maka janganlah berkata keji dan jahil. Dan kalau ada orang yang menyerang atau memakinya maka hendaklah ia mengatakan: ‘Aku ini berpuasa! Aku ini berpuasa!” (Diriwayatkan Al Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah).

  • Mencegah pendengaran daripada mendengar tiap-tiap yang makruh. Karena tiap-tiap yang haram diucapkan maka haram mendengarkannya. Karena itulah, disamakan oleh Allah Ta’ala antara orang yang mendengar dan yang makan haram. Berfirman Allah Ta’ala:

Artinya:

“Mereka orang-orang yang suka mendengar untuk berdusta dan memakan yang haram”. (QS. Al Maidah; 42).

  • Mencegah anggota tubuh lainnya dari segala dosa. Dari tangan sampai kaki dan dari segala yang makruh serta mencegah perut dari segala harta syubhat, waktu berbuka.

Bahwa makanan yang halal itu, dapat mendatangkan kemelaratan apabila berlebihan, bukan karena macamnya. Maka berpuasa itu, adalah menyedikitkannya.

  • Tidak membanyakkan makanan yang halal waktu berbuka, dimana dapat menyebabkan rongga perutnya penuh melimpah.

Maksud dari berpuasa adalah mengosongkan perut dan menghancurkan hawa nafsu, untuk menguatkan  jiwa kepada bertakwa. Jiwa dan rahasia puasa ialah melemahkan kekuatan yang menjadi jalan setan dalam mengembalikan kepada kejahatan. Dan yang demikian itu tidak akan berhasil selain dengan menyedikitkan makanan. Bahkan sebagaian dari adab berpuasa yakni tidak membanyakkan tidur pada siang hari, sehingga dirasainya lapar dan haus. Dan dirasainya lemahnya kekuatan. Maka jernihlah ketika itu hatinya serta berkekalanlah pada tiap-tiap malam sekedar kelemahan, sehingga ringanlah mengerjakan shalat tahajjud dan wirid-wiridnya.

BACA JUGA  Petani Bakar Tembakau di Kantor DPRD, Lumayan Bermanfaat Sih

Barang siapa menjadikan diantara hati dan dadanya, tempat penampung makanan, maka dia terhijab (terhalang) daripadaNya. Dan barangsiapa mengosongkan perutnya, maka yang demikian itu belum mencukupi untuk mengangkat hijab, sebelum cita-citanya kosong dari selain Allah SWT.

  • Ketika sudah berbuka, hatinya bergantung dan bergoncang diantara takut dan harap. Karena ia tidak mengetahui, apakah puasanya diterima, maka ia menjadi sebagian orang muqarrabin atau ditolak, maka dia menjadi sebagian orang yang tercela (mamqutin). Dan hendaklah ada seperti demikian dalam diri kita pada tiap-tiap selesai ibadah yang baru dikerjakan.

Demikianlah tingkatan-tingakatan orang yang berpuasa sebagaimana diuraikan oleh Imam Ghazali. Dari uraian diatas, setidaknya kita berusaha untuk meningkatkan dan memaksimalkan ibadah puasa ramadhan kita ditengah suasaana pandemi covid-19 ini agar kita bisa mencapai pada tingkatan puasanya orang khusus. Cukuplah tahun-tahun kemarin kita berada pada tingkatan puasa orang umum dan saatnya kita naik tingkat. Dan cukuplah pandemi covid-19 ini sebagai pembelajaran bagi kita bahwa mahluk sekecil atom yang kasat mata ini cukup bagi Allah sebagai jalan untuk memanggil jutaan mahluknya didunia kealam kubur. Ingatlah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati dan bisa jadi ini adalah ramadhan terakhir bagi kita.

Allah SWT berfirman:

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman, orang-orang yang mengerjakan amal sholeh, dan orang-orang yang mengingatkan dalam kebaikan serta nasehat-menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al Asr: 1-3).

            Demikianapa yang penulis sampaikan, semoga bermanfaat. Hal inibertujuan untuk mengingatkan dan menasehati diri pribadi penulis serta melaksanakan kewajibannya sesuai dengan QS Al-Asr diatas yaitu saling megingatkan dan menasihati dalam kebaikan serta kesabaran. Semoga kita dapat meraih berkah ramadhan ditengah pandemi covid-19 ini. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

Ditulis Oleh : Muh. Muzairi

Leave A Reply

Your email address will not be published.