Memetik Nilai Sosial Ibadah Puasa (Shaum)

169

LOMBOKim.com – Manusia adalah makhluk sosial yag diberikan amanah untuk dijalani dan dilakukan dengan baik dalam kehidupan nyata, sebab banyak sekali cobaan dan rintangan yang dihadapi dalam mencapai sebuah tujuan yang baik.

Momentum ramadhan merupakan sarana yang diberikan tuhan kepada manusia yakni dengan cara menahan diri untuk tidak makan dan minum, menahan hawa nafsu karena ramadhan ini merupakan madrasah atau tempat untuk memperbaiki diri kearah yang yang lebih baik.

Puasa adalah salah satu perintah agama yang harus ditunaikan oleh umat islam, puasa bukan hanya sekedar penggugur keajiban. Melainkan memberikan dampak kepada kesalihan sosial dan mampu menimbulkan nilai positif kepada siapa saja yang melakukannya dengan baik dan tertib. Rasa haus dan lapar dibulan ramadhan ini mampu membuat manusia memiliki rasa empati tanpa membedakan latar belakang kultur, jabatan dan profesi.

Kata puasa berasal dari bahasa Arab yaitu “Shiyam atau shaum”, keduanya merupakan bentuk masdar, yang bermakna menahan. Sedangkan  secara istilah fiqh berarti menahan diri dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu, menahan dari segala sesuatu yang menyebabkan batalnya puasa bagi orang islam yang berakal, sehat, dan suci.

Hasbi ash-Shiddieqy Rahimahullah, telah banyak menghasilkan karya, dan di antaranya mengenai berbagai pedoman ibadah, dalam salah satu karyanya dijelaskan puasa bisa menjadikan orang mampu membiasakan diri untuk dapat bersifat dengan sifat tuhan, yaitu tidak makan dan minum meskipun untuk sementara waktu.

Dengan demikian, insya Allah ibadah puasa yang kita amalkan dapat membuahkan hasil berupa Taqwa, sebagaimana Allah janjikan di dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ.

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.

BACA JUGA  Tanpa Oksigen 5 Detik, Mampukah Manusia Bertahan?

Sungguh, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperhitungkan bahwa mereka yang bersedia memikul perintah-Nya untuk menjalankan puasa Ramadhan hanyalah orang-orang yang beriman.
Sebab, ibadah puasa Ramadhan ini memang adalah perintah yang wajib ditunaikan oleh umat islam yang membutuhkan semangat pengorbanan yang tinggi untuk tidak melakukan kebiasaan yang menimbulkan nilai negatif bagi diri sendiri.

Ibadah puasa ini adalah suatu perintah memerlukan kesabaran dari titik nol yakni dari makan sahur dini hari hingga berbuka di senja hari. Ini menggambarkan, akan kesabaran dalam kebaikan yang selalu dijalaninya sejak gejolak usia muda, sampai di penghujung usia senjanya yang sudah mulai renta dan butuh perhatian semua.

Ibadah puasa ini adalah suatu perintah yang di dalamnya mengandung ajaran, agar orang-orang yang beriman memiliki keteguhan jiwa dalam berjihad fi sabilillah, menegakkan syariat-Nya, dan di dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar. Tanpa takut celaan dari orang-orang yang mencela.

Ibadah puasa ini adalah suatu ibadah yang menuntun hamba-hamba-Nya untuk bersikap optimis dalam menjalani setiap roda kehidupan. Mengingatkan juga hamba-hamba-Nya untuk bangkit dari keterpurukan, dinamis menatap hari esok yang cerah, serta bersemangat, pantang putus asa dari mengharap rahmat dan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tujuan dari puasa diantaranya adalah:

  1. Sebagai sarana taqwa (mendekatkan diri kepada allah SWT).
  2. Menundukkan pandangan dan pengendalian hawa nafsu.
  3. Mendapatkan ampunan dan melipatgandakan pahala.
  4. Melaksanakan syariat yang di ajarkan oleh agama adalah hal yang wajib untuk dikerjakan.
BACA JUGA  Polda NTB Jalani Apel Gelar Pasukan Dalam Rangka Oprasi Gatarin 2020

Nilai Sosial Ibadah Puasa
Pengertian nilai sosial secara umum adalah prinsip, standar, atau kualitas perilaku, pikiran, dan karakter yang dianggap berharga atau diinginkan oleh orang yang memegangnya. Artinya, nilai itu tidak hanya diharapkan, tetapi juga bisa  diusahakan sebagai suatu yang pantas dan benar bagi diri sendiri dan orang lain. Nilai merupakan suatu identitas yang wujudkan melalui prilaku sosial dalan kehidupan sehari – hari. Jenis – jenis sosial dilihat dari nilai agama, pengetahuan dan kepribadian.

Agar kehidupan sosial di suatu masyarakat tertentu tercapai kesetaraan dan harmonis, maka dalam proses bermasyarakat terjadi kesepakatan-kesepakatan atas nilai-nilai sosial. Melalui proses itu lalu ditetapkanlah bentuk-bentuk nilai yang secara teoritis di kelompok-kelompokkan menurut jenis dan sifat-sifatnya.

Rukun islam ke -3 adalah salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh umat islam yakni berpuasa dibulan ramadhan selama satu bulan penuh. Ibadah puasa merupakan salah satu cara melatih tanggung jawab kepada diri seorang muslim yang telah baligh.

Akan tetapi, dalam Islam dapat dikatakan hampir tak ada ibadah yang semata-mata berdimensi ukhrawi, ilahiyyah, dan spritual individual. Pelaksanaan ibadah dalam Islam pasti mengandung dimensi muamalah (sosial), di antaranya adalah ibadah puasa Ramadan seperti yang saat ini dijalankan umat Islam.

Yang biasanya si kaya duduk menghadap meja yang penuh makanan enak, dan dengan makanan yang lezat ini mereka makan sampai tiga kali sehari, tetapi si miskin, tidak kecukupan untuk makan dua kali sehari di luar dari Ramadan. Bagi yang miskin seringkali merasakan lapar, sedang perasaan semacam ini tidak pernah dirasakan oleh yang kaya.

BACA JUGA  Sebelum ke Lombok

Untuk membuat yang kaya ikut merasakan rasa lapar seperti saudara-saudaranya yang miskin, dan pengalaman semacam itu dirasakan terus-menerus, bukan satu atau dua hari saja, melainkan selama satu bulan penuh.

Dengan demikian, orang kaya dan miskin di seluruh dunia Islam menjadi sama kedudukannya, yaitu hanya diperbolehkan makan dua kali sehari, yakni di kala berbuka dan sahur saja. Dengan demikian yang kaya telah merasakan apa yang dirasakan oleh orang miskin, sehingga yang kaya semakin dekat dengan saudara-saudaranya yang miskin. Perilaku semacam itu akan menimbulkan rasa empati dan simpati terhadap kaum miskin.

Puasa dapat menumbuhkan sikap empati dan simpati dalam diri masyarakat. Puasa itu memiliki nilai sosial yang lebih dari nilai sosial ibadah yang lain. Di saat tiba bulan Ramadan, maka gerakan masyarakat menuju persamaan derajat. Sama-sama berpuasa di siang hari Ramadan tanpa membedakan si kaya dan si miskin.

Oleh sebab itu, khusus dalam bulan Ramadan, orang diperintahkan untuk banyak mengeluarkan sedekah, infaq maupun zakat fitrah, untuk menolong kaum fakir miskin.

Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, bahwa puasa memiliki nilai-nilai sosial, di antaranya: menjauhkan perbedaan dan membuat kesetaraan sesama diantara kaum muslimin, bahwa pada hakikatnya mereka adalah umat yang sama, makan menahan dahaga dan nafsu di waktu yang sama mulai dari terbit pajar sampai terbenamnya matahari dan berbuka dalam waktu yang sama. Kaya merasakan nikmat Allah sehingga menyayangi yang fakir. Menghindari perangkap-perangkap setan yang ditujukan kepada manusia. Lain dari itu, puasa bisa melahirkan ketakwaan kepada Allah SWT dan dapat memperkuat hubungan antar individu masyarakat.

Ditulis Oleh : Hamzani Khairul Ihsan (Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIH NW Pancor)

Leave A Reply

Your email address will not be published.