LIMAR (Listrik Mandiri Rakyat) Solusi Listrik Masa Kini Untuk Pelosok Desa di Lombok

432

LOMBOKim.com – Sila ke-5 dengan tegas menyatakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, artinya semua rakyat Indonesia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan fasilitas Negara termasuk fasilitas listrik. Namun nyatanya masih ada masyarakat yang belum menikmati fasilitas tersebut. Menurut General Manager PLN UIW NTB Rudi Purnomoloka meski seluruh Desa di Lombok sudah teraliri listrik, namun tidak semua dusun sudah bisa menikmati.

Meskipun pemerintah NTB mentargetkan 99,9 persen rakyat NTB mendapatkan fasilitas listrik di akhir tahun 2020. Namun bukan berarti permasalahan listrik telah usai, pasalnya masih banyak masyarakat yang berekonomi rendah tak mampu untuk membayar biaya listrik. Lalu adakah yang menjamin hak mereka untuk menikmati fasilitas listrik tanpa tercekik biaya?

Permasalahan inilah yang menjadi keprihatinan kang Ujang Koswara, seorang pemuda Bandung yang merupakan penemu LIMAR (Listrik Mandiri Rakyat).

LIMAR merupakan lampu LED berdaya aki. Kelebihan LIMAR yakni sangat efisien karena 1,5 watt tenaga listrik setara dengan 10 watt cahaya, LIMAR ramah lingkungan karena menggunkan tenaga aki yang dayanya dapat diisi ulang setiap sebulan sekali dan yang terpenting LIMAR sangat fleksibel karena dapat diimplementasikan dimana saja termasuk di pelosok-pelosok desa karena komponennya cukup sederhana tanpa memerlukan kabel panjang dan tiang listrik

Inovasi LIMAR sudah diimplementasikan di beberapa daerah di Indonesia secara gratis yang mentargetkan masyarakat miskin yang belum tersentuh oleh fasilitas listrik. Alhasil inovasi ini sangat membantu masyarakat berekonomi menengah ke bawah. Bayangkan saja penggunaan lampu templok yang berbahan bakar minyak tanah bisa menghabiskan biaya Rp. 150.000 per bulan untuk membeli minyak tanah, sedangkan LIMAR hanya butuh biaya untuk mengisi daya aki sekitar Rp. 2000 per bulannya.

Inovasi LIMAR hadir sebagai komplementer dari ketidakterjangkauan PLN dalam memenuhi fasilitas listrik di pelosok-pelosok desa, sehingga sinergi dari mereka dapat memenuhi kebutuhan penerangan semua rakyat. Tentunya inovasi ini sangat layak diimplementasikan di Lombok meningat masih banyak saudara-saudara kita di pelosok-pelosok desa yang berekonomi rendah. Meskipun LIMAR merupakan listrik sementara yang bertahan selama 10 tahun, namun memiliki dampak yang signifikan khususnya bagi perekonomian rakyat di pelosok. Semoga saja LIMAR dapat terealisasikan secepatnya di Lombok terlebih di masa pandemic covid-19.(Farid Wajdi)

Comments are closed.