Kasus Tilang ZA, Duka Dibalik Berita-Berita Polres Lombok Timur

110

Ahad Artikel, LOMBOKim.com. Pekan-pekan terakhir dalam pertengahan tahun 2019 ini, Polres Lombok Timur mendapatkan banyak sanjungan dan dukungan masyarakat. Pasalnya, pencuri dan jambret sudah banyak ketangkap dan menghiasi jagat pemberitaan.

Publik memandangnya sebagai sebuah prestasi dan keharusan atas tugas kepolisian. Namun, hari terakhir di pekan ini (September 2019) Kabar duka datang yang terkait erat dengan Polres Lombok Timur lewat Kasus penilangan. Tentu karena berakhir dengan kematian. ZA (28) yang disebut pelanggar lalu lintas meninggal usai menyerang dan bergumul dengan polisi

Menulusuri lebih dalam, kepada Wartawan, Kabid Humas Polda NTB Kombes Purnama menerangkan peristiwa itu terjadi pada Kamis 5 September 2019. ZA pada sore hari sekitar pukul 16.00 Wita terjaring razia operasi Patuh. Pada malam harinya sekitar pukul 20.20 Wita, ZA dengan menggunakan motor lain mendatangi lapangan apel satuan lalu lintas Polres Lombok Timur.

“Dengan kedatangan ZA dengan cara yang tidak bersahabat dan dengan nada keras berkata ‘di mana motor saya’. Selanjutnya Aiptu IWM menyampaikan kepada Saudara ZA untuk turun dari kendaraan dulu, namun masih dengan nada keras ZA mengatakan ‘Maumu apa’ dan Bripka NH menghampiri ZA dengan tujuan menenangkan sambil berkata, ‘ada apa, Pak, tolong tenang’,” kata Kombes Purnama dalam keterangannya, Minggu (8/9/2019) sebagaimana berita di Detik*

BACA JUGA  Woww!!! Lulusan IPDN Tahun Ini Ditempatkan Sesuai Daerah Asal

“Namun secara tiba-tiba ZA menyerang Bripka NH dengan cara memukul menggunakan tangan terkepal ke bagian pipi sebelah kiri dan hidung secara bertubi-tubi dan merangkul sehingga keduanya terjatuh,” imbuhnya Purnama menyebut Bripka NH berusaha melepaskan diri, namun jari telunjuknya digigit ZA hingga robek. Melihat kejadian itu, sambung Kombes Purnama, Aipda IWM mencoba melerai keduanya. “Namun ZA menyerang keduanya sehingga kedua anggota Satuan Lantas tersebut melakukan pembelaan diri,” sebut Purnama Purnama melanjutkan

Briptu BB lantas datang untuk memisahkan perkelahian tersebut, disusul Aiptu HS. Bripka NH dan ZA masih bergumul. “Keduanya bergumul di halaman kantor namun ZA berontak dan sempat untuk melarikan diri namun mencoba ditahan oleh anggota piket dan kembali ZA melakukan perlawanan dan anggota melakukan pembelaan diri hingga mengakibatkan ZA terjatuh dan menabrak pot bunga yang ada di lapangan apel Satuan Lantas, sampai dengan yang bersangkutan mampu dilumpuhkan dan selanjutnya diserahkan ke SPKT Polres Lotim,” jelasnya

Purnama menyebut Bripka NH dilarikan ke rumah sakit karena luka serius setelah diserang ZA. ZA kemudian diperiksa setelah pergumulan tersebut. “ZA sempat dilakukan pemeriksaan dari Satuan Reskrim Polres Lombok Timur namun saat pemeriksaan ZA tiba-tiba tidak sadarkan diri. Selanjutnya anggota piket membawa ZA ke RSUD Selong untuk dilakukan pertolongan,” katanya.

“Untuk diketahui, menurut keterangan keluarga dan Kepala Puskesmas Masbagik bahwa ZA mengalami gangguan kejiwaan sejak tahun 2013 dibuktikan dengan rekam medis dari RSJ Mutiara Sukma Selagalas Mataram,” imbuh Purnama.

BACA JUGA  Peringati Hari Bhayangkara Ke-74, Polda NTB Ikuti Gelaran Upacara Pembinaan Tradisi Polri Berbasis Virtual

Polisi menyebut pihak keluarga sudah menerima dengan ikhlas kematian ZA dan menolak autopsi serta tidak menuntut dilakukannya proses secara hukum. Pada Sabtu 7 September 2019 sekitar pukul 14.30 Wita, dilangsungkan pertemuan di Masjid Nurul Yakin Tunjang Selatan, Desa Paokmotong, terkait meninggalnya ZA yang juga dihadiri Kapolsek Masbagik.

Sementara itu, salah seorang anggota keluarga ZA, Heri, menyebut ditemukan luka penuh lebam saat mayat ZA dimandikan. “Saat mandikan jenazah itu banyak sekali luka. Lebam di mata kanan, di telinga bengkak, sampai kaki biru kayaknya ditendang,” ungkapnya sebagaimana berita di Detik*

Dari berita tersebut, berharap semoga hukum tetap bisa tegas bertugas sesuai SOP, karena mengikuti berita, tentu ragam persepsi muncul, ada yang membela, ada pula yang menghujat, itulah publik, harus dilayani dan diayomi. Yang jelas semuanya adalah edukasi bagi siapapun untuk tetap waspada akan sebuah pristiwa yang tak diinginkan (*sbr/dit)

Leave A Reply

Your email address will not be published.