Kartu Pra-Kerja Di Tengah Corona! Masyarakat Butuh Makan, Bukan Pelatihan

186

LOMBOKim.com – Diantara kebijakan pemerintah yang cenderung aneh dan menghamburkan anggaran salah satunya adalah ‘Kartu Pra-Kerja’.

Saya pribadi yang awam dan mungkin sebagian besar orang awalnya berpikir bahwa Kartu Pra-Kerja ini adalah bantuan pemerintah untuk meringankan beban para pekerja yang di PHK atau pemuda yang masih nganggur dengan memberikan insentif dana bantuan tunai, yang kemudian dana bantuan itu dipakai untuk persiapan kerja.

Tapi LOL, aplikasinya dilapangan ternyata Kartu Pra-Kerja itu hanya sebuah kartu virtual yang dipakai untuk mendapat program pelatihan secara Online. Ini gimana sih? Kok rasanya kayak program lucu-lucuan.

Ditengah pandemi Corona, para pekerja diminta diam dirumah (social distancing) setelah di pecat, pemuda angkatan kerja pada nganggur karena Corona, para kepala keluarga akhirnya bingung mau cari makan apa kalau hanya berdiam diri dirumah. Maka satu-satunya harapan adalah ada bantuan dari pemerintah. Tapi kenyataan memang sering sekali tak sesuai harapan. Pemerintah melalui Program Pra-Kerja, justru memberi pelatihan online bukan bantuan tunai, seperti modal uang atau alat kerja.

Ini kita bicara pelatihan online ya? Bukan offline. Artinya yang ikut, bisa jadi orang-orang yang paket datanya kuat dan jaringan wilayah internetnya kenceng saja.

BACA JUGA  Insentif Kartu Pra Kerja, Alihkan Jadi Modal Usaha

Laaa, terus apa kabar anak desa ditengah perkampungan yang memang butuh pekerjaan, terus tidak paham gadget? Para tukang bangunan yang hanya paham buat adukan semen apakah semua bisa belajar melalui website? Atau karyawan hotel yang di PHK, apakah ada materi pelatihan yang membuatnya langsung dapat kerja? Big LOL.

Anggaran yang dikeluarkanpun tidak main-main 20 triliun rupiah. Dengan rincian setiap orang mendapat 1 juta perbulan selama 3-4 bulan. tapi sekali lagi, kasiannya uang ini tidak masuk kantong masyarakat tapi justru masuk ke kantong para pemilik paltform yang mendapatkan proyek (pemilik bimbel) .

Sebagai contoh, ini adalah beberapa materi yang masyarakat bayar melalui dana prakerja yang mereka dapatkan. Peserta yang lulus akan mendapatkan dana perbulan sebesar 1 juta rupiah, dengan uang itu peserta pelatihan online Kartu Pra-kerja akan menerima 6 materi, yaitu:

  • Perencanaan keuangan untuk pekerja harian lepas (Rp 100.000).
  • Customer Service: Menguasai teknik pelayanan terbaik (Rp 200.000).
  • Percakapan Bahasa Inggris dasar dengan konsumen (Rp 100.000).
  • Teknik mengelola stress agar kerja tetap produktif (Rp 200.000).
  • Manajemen waktu agar lebih produktif (Rp 200.000).
  • Tenang di hari tua, siapkan dana pensiun dari sekarang (Rp 200.000).
  • Dan seterusnya….

Coba lihat, uang 1 juta rupiah begitu dengan mudahnya hangus hanya dengan mengakses materi-materi yang bersifat konsep tersebut.

Jujur, saya berharap kepada pemerintah untuk kembali waras. Apakah ia kita menjalankan program yang sebetulnya tidak adaptif sekali dengan kondisi yang ada? Di waktu normal saja. Belajar online di luar biasa sulitnya. Apalagi perut lapar ditengah wabah Corona seperti ini.

Yang dibutuhkan sekarang. Pemerintah perbanyak bantuan dalam bentuk pangan, dalam bentuk pembelian alat modal yang bisa langsung dipakai oleh masyarakat untuk bekerja, untuk mencari nafkah, untuk bisa makan. Bukan malah bimbel Online, kayak persiapan ujian nasional atau SMPTN.

Misal mahasiswa jurusan pangan yang baru lulus wisuda. Dia tentu butuh kerja cari nafkah segera. Tapi karena corona ya cuma diem dirumah, tidak melakukan apa-apa dan lambat laun jadi beban. Solusi rasionalnya misalnya dia mau jualan kue secara online. Maka dengan adanya dana Pra-Kerja ini dia bisa pakai buat modal aset, beli bahan kue, alat dan kebutuhan lainnya.

BACA JUGA  Hari Kartini, Memahami Esensi Bukan Seremoni

Atau seorang tukang bangunan butuh alat kerja. Maka dia beli sendiri alat kebutuhannya dengan Kartu Pra-Kerja ini. Akhirnya Dia bisa kerja, dan bisa makan. Secara tidak langsungpun pemerintah juga sedang membangun mental masyarakat untuk menjadi wirausaha.

Bukan malah sebaliknya, dikasih pelatihan online yg berisi konsep atau teori. Kalau pelatihan seperti ini, di youtube pun sudah banyak, gratis pulak. Tanpa pemerintah kelurian uang 20 Triliun pun, masyarakat bisa akses sendiri.

Dan juga, apakah ada jaminan, kalau sudah ikut pelatihan online langsung dapat kerjaan? Katakanlah dia akhirnya dapat ilmu. Tapi emang ada perusahaan yang mau memperkerjakan dia di tengah corona ini?

Salam Waras!!! (Abd Ghafur)

Leave A Reply

Your email address will not be published.