Jurnalisme Arah Baru Indonesia (1) Ayah Betrand Peto dan Bukan Promosi GARBI

117

JARBI, LOMBOKim.com – ABI dalam bahasa arab kurang lebih artinya Ayah. “Pas” in aja artinya Ayah. Jangan ada kurang lebihnya. ABI dalam singkatan huruf per huruf, sangat mantap jadi akronim Arah Baru Indonesia. Kini menjadi sebuah nama yang didalamnya terbaca ada cita-cita besar. Saya tidak tau apa cita-cita besar itu. Dan seperti apa Arah Baru Indonesia yang dimaksud.

Mungkin pembaca dengan Saya, “Sama?”. Sama-sama tidak tau. Tapi bedanya antara Saya dan sebagian pembaca adalah rasa ingin tahu. Saya yang menulis ingin tau banget. Apa Arah Baru Indonesia dan seterusnya. Sedangkan pembaca mungkin, “cuek” apa-apa dah, yang jelas Arah Baru Indonesia ini seperti yang ada di berita. Sedang membangun gerakan, atau bahasa lain sesuai pemahaman.

Gerakan yang dibangunnya bernama Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI). Namun, Saat ini Saya tidak sedang mempromosikannya. Walaupun secara otomatis, melalui tulisan ini sudah dipromosikan. Tapi bukan itu tujuannya. Saya hanya ingin menautkan antara Ayah dan Arah Baru Indonesia yang sama-sama memiliki danau pada kata ABI, bukan GARBI.

BACA JUGA  Kasus Positif Covid-19 Kian Bertambah, Ini Curhat Satgas Di Kecamatan Keruak

Semua kita tentu memiliki Ayah. Kecuali Nabi Isa Alaihissalam,  Nabi Adam Alaihissalam dan Siti Hawa. Alfatihah untuk Ayah. Bacakan dan semoga berkah serta ridha Allah menyertainya.

Selanjutnya, Saya mengingat Betrand Peto yang suaranya merdu banget menyanyikan lagu Ebiet G Ade, “Titip Rindu Buat Ayah”. Betrand Peto, Seorang anak yang kini memiliki Ayah angkat, Ruben Onsu namanya. Potret pentingnya Ayah dan indahnya kemuliaan hati seorang lelaki (Ayah).

Ayah, yang meskipun jelek. Tetap disebut Ayah. Ayah, biarpun miskin tapi pasti punya cita-cita untuk anaknya. Ayah yang meskipun sempat menyuruh ibunya menggugurkan kandungannya, tapi ketika Anaknya lahir, muncul juga rasa sayang kepada Anaknya seperti berita Nikita Mirzani dan Sajad Ukra dengan tahapan kasus yang lagi trending decade ini.

Membahasnya tentu akan terlalu panjang. Khawatir bisa menghalangi aksi, tindakan atau terapan. Khawatir Arah Baru Indonesia minim Gerakan, Khawatir Arah Baru Indonesia tersesat dalam diskusi, Khawatir cita-cita Ayah tenggelam dalam angan-angan, sehingga minim gerakan untuk membahagiakan anak, istri atau keluarga.

Betrand Peto, Ruben Onsu, Nikita Mirzani, Sajad Ukra dan mahkluk Allah yang lain adalah bagian dari keluarga Indonesia dan potret kehidupan keluarga yang dinikmati juga oleh sebagian rakyat Indonesia. Tentu sesuai hobi dan kategori, atau sesuai channel tontonan. Karena mereka adalah figure public.

Mereka adalah Contoh pigur public yang penting dibantu untuk didaulat sebagai tokoh inspirasi dan dakwah kepada para fansnya atau para penikmat berita. Mereka bisa memberi dampak positif  apabila “Arah Baru Indonesia” membangun arah pikiran baru, bahwa baik atau buruknya kehidupan figure public itu sesungguhnya adalah Dakwah.

Sederhananya, penting menularkan pikiran Ayah (ABI) atau mindset “Penikmat Berita Hiburan” harus bisa menauladani kasih sayang Ruben Onsu yang mengangkat Betrand Peto  menjadi  Anaknya. Penting ada “pemacu” Arah Baru pikiran atau mindset bahwa kasus Sajad Ukra yang merindukan anaknya adalah pelajaran bagi penikmat berita.

BACA JUGA  Jokowi, Sukiman, Gubernur dan Asa Rakyat Desa Eps 0 - Muqaddimah

Bahwa jangan sampai ada “penikmat berita” mengeluarkan perintah menggugurkan kandungan kepada istri dan atau kalimat, dan atau tindakan yang bisa melahirkan emosi wajar, rasional, akan jiwa keibuan seperti Nikita Mirzani. Karena Nikita Mirzani juga manusia yang tentu memiliki dendam dan visi mulia sebagai prenfentif bagi laki-laki terkait.

Dan itulah segelas air dalam perjalanan di padang pasir luas, sebagai Asa Gerakan dari Jurnalisme Arah Baru Indonesia. Jurnalisme yang berharap memiliki Ayah bernama GARBI. Ayah yang memperjuangkan kehidupan anaknya agar bisa bermanfaat bagi Indonesia. Berjuang sesuai aturan hukum. Jika aturannya baik, maka “Koalisi”. Jika aturannya buruk dan merugikan, maka “Kritis dan Membangun” seperti Fahri Hamzah (Om Zet)  

Leave A Reply

Your email address will not be published.