Gaya Mengajar Kinestetik Digaungkan IKA SPGN Selong, Banyak Alasannya

110
yaspgnselong.asia. Melalui momen Hari Guru Nasional dan Perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Sallallahualaihiwasallam, Ikatan Keluarga dan Alumni (IKA) SPG Negeri Selong menyisipkan agenda Pelatihan Pembelajaran Kinestetik di kebun Raya Lemor, Lombok, Minggu (25/11/2018).

Namun sesungguhnya, bukan sisipan yang terlihat. Pantauan redaksi, akumulasi waktu sepanjang kegiatan, terlihat lebih lama digunakan untuk belajar ragam jenis cara manfaat dari gaya mengajar kinestetik. Mungkin saja, karena ketua IKA SPG Negeri Selong, yang pernah menjabat Kasi Kurikulum dan Kesiswaan risau nan galau karena sebuah pengalaman, entahlah.

“Pelatihan Pembelajaran Kinestetik ini sesungguhnya bukan hanya untuk kepentingan guru namun senyatanya dan semata-mata untuk kepentingan siswa atau anak didik di bangku sekolah, demi kemajuan pendidikan di Lombok Timur,”papar Ketua IKA SPG Negeri Selong, H,L.Muh. Nursalim, S.Pd,.M.Si di sebuah kesempatan.

Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Ada yang lebih cepat menangkap pelajaran melalui penjelasan secara visual (penglihatan), ada yang senang dan cepat paham cukup dengan penjelasan auditorial (pendengaran), ada juga yang senang dengan cara belajar kinestetik (gerakan).

BACA JUGA  LK2T Sesalkan Jawaban Oknum Kepala Desa, Bahas Karang Taruna dan Pemuda Wates?

Memberikan bacaan untuk dipelajari ataupun presentasi berupa gambar dan tulisan di depan kelas adalah cara yang ideal bagi anak-anak yang memiliki gaya belajar visual. Sedangkan, membacakan cerita atau menjelaskan sesuatu secara verbal adalah cara belajar yang paling pas bagi anak yang tergolong auditorial, kata para ahli.

Selanjutnya, Brandi Roth, PhD., psikolog sekaligus penulis buku Secrets to School Success: Guiding Your Child Through a Joyous Learning Experience, dari Beverly Hills, Amerika, mengungkapkan anak kinestetik punya ciri mudah mempelajari sesuatu melalui praktik langsung.

Misalnya, melatih penjumlahan dengan melibatkan benda-benda seperti kelereng, pensil, dll, untuk dijumlahkan secara langsung. Dengan kata lain, masih dalam konteks permainan yang melibatkan gerakan tetapi sekaligus sambil mempelajari suatu materi tertentu. Cara mengajar untuk pembelajar kinestetik ini masih jarang diterapkan dan bisa diterapkan.

BACA JUGA  Gubernur : Pandemi Mempengaruhi Penyusunan Anggaran Belanja Daerah

Dampaknya kemudian, banyak anak didik yang masih kaku dalam berekspresi, berkompetensi sendiri mencari ilmu dibalik teori-teori di buku mata pelajaran. Atau istilah higher order thinking skill (HOTS)  atau kompetensi yang memadukan kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif, kemampuan berargumen, serta kemampuan mengambil keputusan.

Mungkin itulah penyebab dari anjloknya nilai Ujian Nasional di Tahun Pelajaran 2017/2018. Redaksi katakan, bukan salah guru dong, tapi kekeliruan kebijakan. Kebijakan yang memaksa guru untuk mengikuti kurikulum dan kebijakan mendadak. Kebijakan yang menyelewengkan hak-hak guru.

Teori-teori diatas penting dipahami oleh insan pendidikan, orang tua, masyarakat, intinya bukan hanya guru. Karena waktu antara guru dan anak hanya di sekolah.  Kaitannya dengan pentingnya menggaungkan gaya belajar, mengajar, dan mendidik maka dibutuhkan sebuah keterlibatan organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli perkembangan pendidikan.

BACA JUGA  Sembalun Seven Summit, Upaya Membangkitkan Ekonomi Sembalun

Kampenye sosial terkait gaung tersebut, setidaknya bisa memanggil dan mendorong sebuah kebijakan agar disesuaikan antara hak-hak guru agar difasilitasi mengembangkan profesi dan kompetensi mereka dengan hak-hak anak untuk menerima hasil dari kebijakan yang jujur saja banyak menggangu pikiran.

Realita yang ada hari ini, terbaca kebijakan untuk kepentingan guru, pendidikan, dan generasi / anak didik banyak dibenturkan dengan fitnah politik. Pejabat yang mampu, eksis berfikir dan berbuat untuk kepentingan pendidikan, terlalu banyak harus melewati ranjau diplomasi, ranjau birokrasi, bahkan jebakan sampai akhirnya bosan. Semoga IKA SPG Negeri Selong bisa eksis menjadi instansi independet bersuara terkait (mz/redaksi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.