Dukun Cabul Makan Korban, Lingkar Beri Kajian Begini

373

LINGKAR, Lombokim – Dukun pada dasarnya beriktikad mulia. Membantu pasien sembuh dari masalah. Ruwetnya itu ketika dukun cabul leluasa menjalankan acara pelecehan seksual, dengan apabila ingin dibuktikan secara pembuktian hukum, yah, “ruwet” juga karena faktor aib dan hak privasi lainnya.

Adalah oknum dukun yang selama ini populer dengan sebutan dukun cabul. Soal cabul, sebenarnya bukan sebutan untuk oknum dukun saja, oknum dosen juga ada yang disebut cabul lo, browsing aja beritanya di Google lalu jadikan edukasi, semoga g terjadi.

Dukun cabul, apabila terbukti, wajib kena pidana. Kalau enggak terbukti, yah, lolos. Apalagi pelapornya g sanggup, karena khawatir kena aib dan pertimbangan privasi lainnya.

Singkatnya, Perbuatan cabul dalam KUHP diatur dalam Buku Kedua tentang Kejahatan, Bab XIV tentang Kejahatan Kesusilaan (Pasal 281 sampai Pasal 303). 

Namun, kembali ke pertimbangan privasi terkait cabul tersebut, maka, disinilah pentingnya peran dan strategi tangkap tangan oleh aparat berwajib untuk aktivitas bejat oknum dukun yang diinformasikan ada indikasi cabul dibalik ritualnya.

Baru – baru ini, Solidaritas Keluarga Korban Perkara (LINGKAR) besutan Lombokim Foundation mendampingi seseorang di wilayah hukum Lombok Timur. Disebut seseorang karena ruwet juga, kembali lagi ke aib korban. Masih lokasi disebutkan umum di Lombok Timur karena mungkin akan ada upaya Class Action berdasarkan tarif si dukun cabul, dan tetap memperhatikan privasi terkait.

BACA JUGA  Penanganan Covid 19 Jangan Plintat Pelintut, DPRD NTB Rencanakan Interpelasi

Yah, Aib adalah Aib yang kerap menjadi alasan bisnis kegalauan korban perkara perempuan dan anak, indikasi zina, syirik terselubung, kerap bebas dari jeratan hukuman. Naudzubillah.

LINGKAR akhirnya bingung juga, namun upaya mendampingi masyarakat berani memperjuangkan haknya dimata hukum, semoga tak terhenti sampai kata bingung. Karena masih ada harapan terkait upaya memperjuangkan efek jera bagi oknum dukun cabul, serta perjuangan menghentikan syahwat zina yang oknum tersebut jual, yang diduga dilakukan melalui modus atau dengan cara (menghianati) kemuliaan ilmu tarekat dan pengobatan dan atau pelanggar norma / kesusilaan lainnya.

Menindaklanjutinya, Efek jera agar tak meresahkan dibalik keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang diidamkan adalah melalui upaya menjerat pelaku karena pidana tangkap tangan. Pertama, karena faktor korban yang takut melapor atau mengadu karena trauma dan aib korban, dan atau hak privasi lainnya yang penting dilindungi, dan selanjutnya karena sisi humanisme dan religi yang penting dikedepankan di muka bumi ini.

Lebih dalam mengkaji tindak pidana karena tangkap tangan, Ritual oknum dukun cabul, jika dikaji lebih dalam sebenarnya mirip dengan aktivitas perjudian. Yang dalam KUHAP masuk dalam tindakan kesusilaan dan atau melanggar norma – norma agama dan kesusilaan yang kemudian seharusnya memacu kita untuk berinovasi menjerat dukun cabul dengan tindak pidana tangkap tangan, cukup dengan informasi, aparat bergerak, selidiki, tangkap.

Kembali ke soal aktivitas perjudian yang mirip aktivitas dukun cabul, dalam Pasal 303 ayat (3) KUHP menyebutkan bahwa yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, dimana pada umumnya kemungkinan mendapatkan untung bergantung pada peruntungan belaka, juga karena permainananya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.

Nah, menyimak definisi judi yang juga termuat di klinik hukum hukumonline.com tersebut, dukun cabul pun mirip – mirip gitu. Si Oknum dukun  beraktivitas melakukan permainan dimana pada umumnya kemungkinan mendapatkan untung bergantung pada peruntungan belaka. Oknum Dukun cabul memainkan mantra, korban dukun cabul mengadukan masalah yang bergantung pada peruntungan. “Sembuh Enggak Ya”. Kalau judi “Menang Enggak Ya”.

Nah, letak perbedaannya, tentu saja si pasien jangan atau tidak bisa disebut sebagai pelaku perjudian. Intinya, tidak mirip di kronologi atau aturan hukumnya, tapi mirip di pelanggarannya yaitu melanggar norma dan kesusilaan yang tindakan hukum untuk menjerat oknum semoga bisa dengan tindak pidana tangkap tangan.

BACA JUGA  Calon Pasangan yang Malas Mengemis Cinta itu Bernama Egois?

Mengapa tangkap tangan, karena kembali lagi ke Aib Keluarga dan juga kondisi psikologi korban perkara. Untuk bisa menjerat pelaku dukun diduga cabul dengan tindak pidana tangkap tangan pun sebenarnya sedikit ruwet juga. Namun bercermin pada Pasal 39 ayat (1) KUHAP disebutkan mengenai apa-apa saja yang dapat disita, yaitu:

a.      benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana;

b.      benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya;

c.      benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana;

d.      benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana;

e.      benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan.

Yang bisa sebagai corpus delicti atau barang bukti atau alat bukti terkait yang diharapkan bisa diperjuangan dengan cara dan atau strategi demi kemaslahatan hukum, mengantisipasi jatuhnya korban, mengurangi syirik, dan pelecehan berkedok pengobatan lainnya. Wallahu’alam Bissawab.

Penulis : Hamzanide*, Ketua Lombokim Foundation.
*Kajian dalam artikel terkait disajikan sebagai sumbangsih untuk Solidaritas Keluarga Korban Perkara (LINGKAR) di internal Grassroot atau Kaum Mustadh’afin guna membantu terapan Hati untuk Keadilan demi hukum yang mulia pun membantu aparat yang kerap dilema (mungkin) faktor semua insan punya HAM.

Leave A Reply

Your email address will not be published.