Diskusi Maraton Digelar KTK Pujut,Sorot Pemkab Loteng

26

LOTENG,LOMBOKIM.Com-Karang Taruna Kecamatan (KTK) Pujut, Kabupaten Lombok Tengah menggelar diskusi publik jilid III di Raja Hotel Kuta Mandalika,Senin (8|11).

Hadir dalam diskusi tersebut Sekda Loteng, Lalu Firman Wijaya, pegiat dan pemerhati pariwisata dan Kepala Desa di wilayah Kecamatan Pujut dan masyarakat umum.‎‎

Ketua KTK Pujut, Sri Anom Putra Sanjaya dalam sambutannya mengatakan kegiatan diskusi ini  sangat penting sebagai wadah menyampaikan dan menyalurkan persepsi, ide, gagasan, strategi serta media sosialisasi yang sangat produktif.‎

“Kami laksanakan setiap tahun,sedangkan masalah KEK sudah siap dan jadi tinggal dioperasikan, tapi satu sisi kita masih jadi penonton,” terangnya.

Menurutnya, segara upaya telah dilakukan KTK Pujut ‎dengan menjalin koordinasi dan komunikasi dengan MGPA, ITDC, Pemda hingga aksi demo. 

BACA JUGA  Kepergok Mencuri HP, Pasutri di Loteng Diamuk Massa

Maka melalui momen diskusi ini Pemkab lebih proaktif dan membina masyarakat dan pelaku UMKM. Dengan harapan agar produk-produk UMKM lulus kurasi atau layak masuk di stand-stand dan layak di jadikan oleh-oleh bagi penonton mancanegara maupun domestik.

“Produk kita sebetulnya banyak dan berkualitas,tapi  perlu polesan di pengemasan termasuk pencantuman logo MotoGP atau sirkuit,tentunya Pemkab Loteng punya pekerjaan,” paparnya.

Ditempat sama Presiden Solidaritas Warga Inter Mandalika (SWIM), Lalu Alamin mengatakan bahwa ITDC ini berada di KEK Mandalika,akan tapi pemerintah daerah belum memiliki peranan untuk memperlakukan warga sekitar dalam untuk diakomodir dalam pergerakan ekonomi KEK.

” Wajar selama ini masyarakat terus bersuara lantang dan kadang brutal  dalam menyuarakan aspirasinya,” ujarnya.

Kemudian Ketua Blok Pujut, Lale Yasmin melihat  Pemkab Loteng seperti orang yang tak tahu arah melihat geliat pembangunan di KEK.Bahkan sampai menjelang digelarnya event-event internasional di Sirkuit Mandalika, antara kawasan penyangga serta destinasinya, tidak jelas perannya. 

” Contoh terdapat 54 desa wisata yang sudah di SK-kan bupati,tapi sebagian besar pengelola belum tahu apa dampak yang akan diperoleh dalam pergelaran internasional tersebut,” cetusnya.

BACA JUGA  Tempat Latihan Karate di Desa Kelebuh, Lombok Tengah

Sekda Loteng, Lalu Firman Wijaya mengatakan kalau melihat  isu yang berkembang pada diskusi ini, berkutat pada isu tenaga kerja dan pelibatan warga lokal.Tapi yang penting diketahui bahwa dunia pariwisata itu tidak hanya berbicara soal tenaga kerja tapi juga sektor penggerak ekonomi dan industri kreatif. 

” Pemkab Loteng mendorong itu semua agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

” Semua saran dan kritikan tentunya akan kami catat nantinya untuk kemudian dirumuskan nantinya bersama dengan OPD terkait,termasuk melaporkan ke Bupati dan Wakil Bupati hasil pertemuan hari ini,” tandas Sekda Loteng.(KIM).

Comments are closed.