Di Ruang BK, Cerbung 4

57
Cerbung Aku Lelah Bagian 4 : Pagi jam 07.15. Teman-teman sekolah mulai berbaris usai mengikuti kegiatan Imtaq bergiliran. Beberapa teman pengurus OSIS Devisi  Aksos dan Humbaga (Aksi Sosial dan Hubungan Antar Lembaga) menjadi komando barisan untuk do’a bersama. Sementara Devisi K3S (Keamanan, Ketertiban dan Keindahan Sekolah) membantu mengatur barisan dari belakang.

Seperti biasa sebelum berdo’a diawali CTM (Ceramah Tujuh Menit). Hari ini giliran kelas XII Bahasa A. Sebelum ceramah sebagai ketua OSIS, saya dipersilahkan menyampaikan kata sambutan. Biasanya Wakil kepala bidang kesiswaan, kadang pula Pembina OSIS dan Pembina lain terkait kegiatan ekstrakurikuler, untuk memberikan pengarahan pentingnya berorganisasi.

Tapi hari ini karena mereka tidak ada maka teman OSIS Devisi Aksos dan Humbaga mempersilahkan ketua OSIS.  

“Karena kemarin pengurus OSIS ada yang tidak masuk,,

“Kita rindu walau sehari tak bertemu, maka kami persilahkan Ketua OSIS menyampaikan Sambutan, Kepada yang terhormat “Mala Januarti Rizkita,” disilahkan”. Hendra menyebut nama lengkapku. Gempa terasa mendengar nama itu. Kembali terngiang mengingat kliping. Tapi segera berusaha menstabilkan emosi, karena didepanku ada sekitar 600 orang memandang, melirik dengan berbagai karakter.
Segera kuraih gagang mic yang diberikan Hendra.

“Assalamualaikum,warahmatullahibarakatuh, ucapku dengan melanjutkannya bersama kata-kata penghomatan kepada Kepala Sekolah, Wakil Kepala, Guru BK, segenap dewan guru dan semua siswa.
“Ingin rasanya  mengeluarkan air mata hari ini, tapi karena air mata ini tidak berguna untuk teman-teman semua, maka cukup saya simpan duka ini dibenak terdalam. Bersyukurlah karena kalian lebih bahagia dan saya berdoa semoga Allah SWT hanya memberikan penderitaan cukup kepada saya, bukan kepada teman-teman yang saya sayangi,” ujarku tanpa menyadari dimana saya bicara.

Saya lupa kalimat terakhir yang terlontar. Yang saya tau tubuh ini tergeletak diatas busa yang biasa ditempati sebagai tempat pingsan peserta upacara yang di bawa ke ruang Palang Merah Remaja (PMR), bersama beberapa pengurus PMR dan pengurus OSIS didampingi guru Bimbingan Konseling.
“Laju udah bangun pak,” teriak Hendra serentak bersama Tiara bendahara PMR.

“Ini, belikan Laju Roti, nasi Bungkus, dan Pocari Swet, Dia pingsan karena problema bukan karena kekurangan darah jadi jangan buatkan air gula,,” suara pak Mizwar, guru BK yang kuangap sebagai Ayah ke-dua setelah Ayah yang kini membuatku bingung. Apakah Ayah kandung atau bukan.
“Ada kas PMR pak, kita gunakan ini saja ya pak, ndak usah pakai uang bapak, nanti habis saku bapak, hehe,” tolak Tiara sambil tersenyum.

“Hemmm,,,Tiara kira uang ini berasal dari gaji bapak, ini dari Allah, semakin banyak bershadakah, semakin banyak rizki yang datang. Udah cepat belikan ketua OSISnya sana, tabung saja kas itu untuk Lomba besok, itukan dari pengeluaran swadaya kalian, bukan dari sekolah kan?. Tanya pak Azwar bijak.

Tiara, Hendra, dan Pradana Pramuka bernama Dedi keluar dari ruang PMR memenuhi perintah. Sembari menunggu tiga aktivis sekolah itu, di ruang PMR suasana hening. Saya tergeletak lemah. Pak Azwar hanya mondar-mandir. Tidak biasanya guru ini diam. Biasanya selalu berbicara penuh semangat.

“Pak,,bingung sekali kelihatannya,”tanyaku

Ada apa pak?,”tanyaku.

“Mikiran Laju, dan kata-kata laju tadi,”jawab Pak Azwar

Sensitif sekali kalimat itu di telinga bapak. Nanti kalau sudah agak bugar, kamu ke ruang bapak ya, bapak pergi dulu”. Pak Azwar langsung berlalu.

Kini hanya saya sendiri di Ruang PMR, menunggu teman-teman aktivis yang repot dengan sikapku. Saya merasa bersalah tapi lelah yang kurasakan membawaku larut tertidur di ruang itu sendiri. Sekitar jam 09.45. Aku terbangun dan melirik jam serta keadaan di sekelilingku.

Ada dua botol minuman, beberapa snack dan nasi bungkus dengan minyaknya terlihat tembus membasahi bungkus nasi itu. Teman-teman aktivis itu meninggalkan aku sendiri di ruang dalam keadaan tidur sedangkan mereka pergi belajar seperti biasa.

Aku tidak sadar mereka datang dan pergi setelah memenuhi perintah dari guru yang kami sebut sebagai Ayah di sekolah. Pak Azwar memang sangat baik, seringkali kami curhat kepadanya. Pak Azwar juga sering curhat kepada kami.

Diantara yang kami banggakan kepada guru ini, apa yang dicurhatkan Pak Azwar tidak pernah terlihat sebagai keluhan karena kami juga merasakan apa yang dirasakannya. Beliau mendidik kami bersikap tegar, walaupun keluhan sering menggoda untuk dikeluarkan karena kesenjangan yang terjadi di lingkungan sekolah kami.

Kesenjangan yang mengakibatkan amburadulnya program sekolah dan melahirkan pola didikan yang Apatis. Kesenjangan karena persaingan kekuasaan antara wakil kepala sekolah yang satu dengan yang lain. Kesenjangan antar Pembina ekstrakurikuler, kesenjangan antara wali kelas dengan guru-guru yang sering menjadi perbincangan ketika di kantin dan beranda setiap kelas.

“Hmm,”desahku.

Segera mengambil nasi bungkus yang disediakan. Perut keroncongan kembali menyakiti karena di rumah belum sempat sarapan. Seperti biasa kebiasaan sebelum makan, terlebih dahulu meneguk minuman kesukaanku “Aqua” mengantisipasi mah karena kosongnya perut yang lama tidak terisi.
Dalam minum dan makan teringat pesan Guru BK. Selesai makan langsung minum sambil memperbaiki jilbab dan pakaian. Memasang sepatu dan bercermin di kaca yang ada di ruang PMR. Aku melangkah menuju ruang BK.

Suasana di luar kelas terlihat sepi karena semua guru jam itu masuk mengajar yang membuat teman-teman tidak keluar ngobrol. Kesempatan itu Aku gunakan untuk secepatnya ke Ruang BK.

“Assalamualikum.

Maaf pak, saya kelamaan, tadi tertidur.

“Ya, Tidak apa-apa,”jawab Pak Azwar bijak

Tunggu dulu ya saya mau selesaikan draf nama-nama teman kamu untuk Home Visit minggu ini,”sambungnya sambil terlihat sibuk di depan computer yang ada di ruang BK.

Komputer yang juga sebagai tempat file-file program OSIS dan Ekstrakurikuler kami tersimpan. Komputer milik Pak Azwar yang dibawa dari rumahnya karena sekolah tidak menganggarkan fasilitas yang menunjang tugas Guru BK yang sangat berat.

“Assalamualaikum,”tamu datang.

Belum sempat berbicara terkait apa yang mau disampaikan Pak Azwar, seorang tamu muda datang dan langsung disambut. Ternyata pak Azwar kenal baik dengan pemuda itu, bahkan sepertinya sudah membuat janji. Pemuda itu duduk dan cuek disela-sela Pak Azwar kembali untuk save file, kemudian mematikan komputernya.

Kini kami duduk bertiga. Aku yang dicuekin pemuda itu cuek juga bahkan tidak menyapa Pak Azwar ketika kembali sesudah mematikan komputernya. Kesal rasanya, karena selain pemuda itu cuek, dia juga mengganggu agenda.

“Minim pak, tapi ada peluang,”kata Pemuda itu setelah duduk di samping Pak Azwar.

“Tidak apa-apa, kita harus tetap semangat karena ini penting untuk menambah kesibukan anak-anak. Prinsip saya berbagai kegiatan yang bisa mengurangi aktivitas yang kurang baik harus terus digalakkan, kita akan perbanyak kegiatannya,”jawab Pak Azwar.

“Apa pak, apa nanti bapak tidak kelabakan,”Tanya pemuda itu.

Mereka terus berdiskusi dan semakin membuatku suntuk di Ruang BK. Sampai akhirnya aku mengeluarkan desahan yang membuat Pemuda itu menoleh kepadaku. Kami saling bertatapan. Aku langsung membuang muka dengan wajah kesal.

“Maaf pak mungkin adik ini ada keperluan penting, dilayani dulu, nanti saya belakangan,”ujar Pemuda itu yang dianggukkan Pak Azwar. Pak Azwar masih konsentrasi ingin melanjutkan diskusinya. Entah seberapa penting tema yang mereka bahas sehingga Pak Azwar terlihat lupa jika Ia memanggilku.

“Ya dah sekarang coba susun sasaran proposalnya ke semua Instansi, walaupun tidak cair tapi kita bisa tunjukkan semangat kita sekaligus sebagai promosi kegiatan untuk anak-anak,”papar Pak Azwar.
“Siap pak!” jawabnya.

Pemuda itu melangkah ke kursi Komputer tanpa permisi, sedangkan pak Azwar menghadapku kemudian meminta maaf dan langsung memperkenalkan pemuda itu. Dalam pengenalannya hanya profesinya yang saya ingat, sebagai seorang wartawan sekaligus aktivis LSM. Sedangkan namanya belum jelas.

Sanjungan dan berbagai profil terhadap pemuda itu tidak kuperhatikan karena selain agak muak dengan tingkahnya, mungkin pula karena kondisi psikologiku saat itu. Disaat dijelaskan siapa dia, pemuda itu juga terlihat cuek, meskipun Pak Azwar segera melayaniku karena permohonannya dia juga. Tapi malas rasanya menghargai jasanya.

“Bapak memanggil kamu karena kemarin Ayahmu datang ke rumah. Ada hal penting yang disampaikan,” ujar Pak Azwar membuka pembicaraan.

“Apa pak?” jawabku spontan.

“Saya harap kamu tabah dan bersabar sampai kamu menyelesaikan sekolahmu. Yang jelas kamu adalah orang yang beruntung, apa yang kamu pikikan saat ini tidak seperti apa yang kamu rasakan dan sangka-sangka. Tapi, Sekali lagi kamu,,,

“Teeet…Teeet….Teeet….,”

Bel berbunyi tiga kali sebagai pertanda waktu keluar main. Pak Azwar melanjutkan penjelasannya yang terputus, “Harus Sabar dan Tabah” sampai tamat SMA. Dijelaskan demikian aku terdiam dan agak lega rasanya. Melihatku diam Pak Azwar tidak menegurku bahkan mengalihkan pandangannya ke Pemuda itu.

“Apa itu artinya bapak tau siapa saya, dan apakah bapak akan membiarkan,,,

“Assalamualaikum,,,,”.

Pembicaraanku terputus karena tiga temanku datang mengucapkan salam.

“Walaikumussalam, jawab kami serentak.

“Oke, lim, kebetulan semua adik-adik ini pengurus OSIS. Merekalah para aktivis yang akan mengukir sejarah dan melajutkan perjuangan kita, silahkan kenalan dulu,”arah Pak Azwar.
Pemuda hanya menengok, tersenyum dan terlihat cuek.

“Sebentar pak saya tertarik dengan salah satu nama dalam pegurus OSIS,,,,,
“Ya, ya itu tidak perlu kau perpanjang, mari kita ke kantin dulu,”sergah Pak Azwar tiba-tiba keras sambil gelagapan. Adik-adik, kalian disini dulu ya, kami mau pergi, lanjut pak Azwar sambil melangkah menarik pemuda itu dan mereka keluar bersamaan.

“Hemm, tadi serius banget, sekarang kok malah pergi anneh,”celetuk Tiara.
“Iya,ya! jawab dua temanku serentak.

***

Jantungku kembali berdetak kencang dengan sikap pak Azwar yang aneh. Sudah berapa tanda menyakitkan yang ditunjukan orang-orang disekelilingku.Aku segera keluar dari ruang BK, ingin mengejar dan menelusuri kemana Pak Azwar dan Pemuda itu. Ke Kantin tapi disana tidak ada.

Hanya beberapa mata dari teman-temanku yang memandangku kasian.

Aku menyikapinya dengan cuek, bahkan disana ada teman cowok yang sering mampir dihatiku. Dia sedang berbelanja dan merayuku dengan kalimat “kalau cemberut gitu, hilang lo cantiknya”. Tapi semua itu tidak berdampak sedikitpun. Aku hanya mendesah payah.

Bersambung KE SINI (klik)

Comments are closed.