Surat dari Ibu Seksi, Cerbung Siapa Ayahku

66

Menyalakan lampu dan mata. Manatap sekeliling dengan nuansa penuh tanya. Sepi tapi rapi. Ranjang tempat dibaringkan tadi berubah bersih dan wangi. Bukan itu yang kumau. Kemana Tini ibunya Saciko? Bingung dan harus bagaimana.

Baju, mana bajuku?.

Terlihat diatas gantungan. Segera kuambil dan terasa ada yang beda. Lumayan berat, seperti ada sesuatu di kantongnya. Sebuah kertas beberapa lembaran merah dan rantai emas berbuah logam mulia bertuliskan Laju. Teringat pembicaraan waktu di Mobil. Segera berlari keluar menatap photo yang menyita perhatian waktu pertama menginjak rumah ini. Photo beberapa bayi berlatar di kuburan dan photonya Saciko.

Semakin penasaran. Kubuka lembaran yang membungkus logam mulia itu. Berisi rintihan seorang Ibu.

“Nak,,,
Bunda yakin kamu anak baik. Pristiwa yang tadi meneliti siapa kamu dan Bunda yakin kamu tak pernah menyentuh Sachiko, anakku, meski pembantuku bercerita kamu sering berduaan dalam kamar.
Saya percaya sama kamu nak. Bunda serahkan Sachiko kepadamu. Sachiko punya saudara namanya Laju dan kini Bunda sedang mencarinya. Jangan ceritakan tentang peristiwa tadi sama siapapun.
Kamu bebas memasuki rumah ini kapan pun dan Kamu akan segera bertemu dengan orang-orang kepercayaanku. Sedangkan kita tak kan bertemu lagi. Keluargaku punya sejarah pahit dan Aku tak ingin darah dagingku bernasib sepertiku.
Saya percaya kepadamu Nak….
Jaga perawannya Saciko dan hentikan kebiasaan mirasnya.

Bunda Tini.

Aku bingung harus bagaimana. Tertegun diam dalam kontemplasi. Teringat bagaimana Bunda Tini yang kusangka ingin memperkosa. Alhamdulillah ya Allah. Engkau punya rencana. Engkau selamatkan hamba dan kini Engkau mengujiku lagi.

Menggenggam erat surat, lembaran merah dan liontin emas itu, teringat bahwa Shalat Dzuhur tentu sudah berlalu. “Astagfirullah” gumamku dalam hati. Segera mengambil air whuduq dirumah yang masih asing itu.

Aku tak peduli dimana kini berada. Yang jelas Allah ada dimana-mana. Allah tidak suka hambanya cengeng. Diselamatkan dari lembah zina saja sudah anugerah tiada terhingga, gumamku. Teringat kalimat emas “Selama Kamu menjaga Shalat, maka Kamu pasti dijaga Allah dan segala ujian pasti ada hikmahnya”.

****

Bersujud dalam hening. Walau ada ketukan di pintu depan rumah asing itu, Aku tak peduli. Allah lebih penting dari suasana apapun. Ketukan itu beralih ke jendela dekat lokasi terdampar siang tadi. Beralih lagi ke kamar tempat pristiwa yang masih ngeri bagiku. Tapi tetap kulanjutkan Shalatku sampai salam dan doa.

Kuintip suasana di luar. Ada mobil mewah. Terdengar lagi ketukan itu dan segera ku bukakan. Kembali berhadapan dengan wajah seksi tapi muda dan terlihat seusia Saciko.

“Maaf mba, , saya….ujarku terbata, karena masih merasa asing dirumah itu.
“Sudah, saya pesuruhnya Bu Tini, boleh masuk?
“Silahkan,,ujarku dan Dia langsung ke ruang utama kamar itu. Aku mengikutinya dari belakang.
“Oya mba’ saya langsung pulang aja ya, takut bikin orang tua saya khawatir.

Perempuan itu diam sambil menatapku tajam dan pura-pura akrab.

Comments are closed.