Mbora (Part 2) Catatan Perjalanan Pendakian ke Gunung Tambora

103


L. M. Daefullah, Ahad, 27 September 2020


Azan subuh terdengar berkumandang dari berbagai tempat ibadah yang berada disekitaran rumah amaq Rian. Saya bangun sholat subuh.

Inaq Rian udah bangun dari tadi. Kebiasaannya tiap hari masak untuk buat nasi bungkus yang akan dijual disekitar sana pagi harinya. Senyum indahnya menyapa saya yang baru bangun. Wudhu, dingin menggigit hingga menggigil, segar rasanya.

Sholat subuh. Baru cek smartphone, masih belum ada informasi dari bang Agus. Saya biarkan dalam posisi charging, bangunin bang Yon tuk sholat subuh. Bincang-bincang sejenak, bagaimana perjalanan kemarin, tentang tamu-tamu dan crew yang membersamai, tentang kisah bang Yon yang melakukan pendakian dari usia remaja, masih rusuh ria, hingga menjadi pendaki yang safety.

Bang Yon, salah satu favorit saya di organisasi kepencinta alaman yang orangnnya terlihat cuek, masa bodoh, tapi memiki hati yang begitu penyayang, yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata maupun perbuatannya. Namun tatapan matanya yang teduh,menaungi kan mengerti bahwa dia itu keren.

Pagi ini saya belajar lagi dengan bang Yon, pendaki sederhana asal Penakak, Masbagik, guide Rinjani yang mengerti jalur dan apa yang mesti dilakukan ketika di lapangan, dan merupakan salah satu anggota terbaik di Organisasi Pencinta Alam Sangkareang serta merupakan anggota relawan unit SAR Lotim. Sikapnya terhadap tamu kan selalu diingat bahwa dia memiliki keunikan tersendiri.

Amaq datang dengan rokok lilitan tembakaunya yang khas. Baru aja selesai nelpon dengan amaq Fadil, bahwa kita bertiga positif berangkat ke Sumbawa. Kami langsung packing, bawa apa saja yang perlu dibawa. Peralatan masak, camp, pribadi, dan berbagai peralatan tambahan lainnya. InsyaAllah nanti kita kan disupport ma tim yang di Tambora.

Mandi, pakai celana pendek, baju lengan panjang dan kalungkan sarung, pakaian yang bersih yang tersisa selain pakaian untuk di lapangan.

TIM yang di Mataram akan berangkat pada pukul 08.30, kami siap-siap dan berangkat pukul 09.00 menggunakan mobil bak yang terbuka di belakang, mobil grand max yang dipiloti oleh amaq Opick alias amaq Fina.

Amaq dah ganti style, yang biasanya manggul keranjang ala porter Sembalun, sekarang menggunakan carrier 65 L co track, topi pad, bandana, wistbag yang diselempangkan di tubuhnya, haha, asli senior turun gunung.

Amaq Fadil dengan style guide professionalnya, hitungannya hanya tamu bang Agus aja yang dibawa lokal Indonesia, biasanya Amaq Fadil bawa tourist dari manca negara,sejak dibukanya Rinjani akhir Agustus hingga akhir september ini, bang Fadil dah melakukan pendakian sebanyak 4 kali, 3 yang pertama bawa touris manca negara, dan akhir bulan ini bawa tamu lokal Indonesia. Pengetahuannya tentang tamu dan Rinjani sangat layak tuk dijempoli. Bekal 8 tahun, dari menjadi porter pikul keranjang, carrier, guide ikut-ikutan, hingga guide mandiri professional.

Bang Yon menggunakan sepeda motor saya untuk turun. Perjalanan dimulai, ndak terasa, kemarin turun dari Rinjani, hari ini dah bersiap menuju pulau seberang. Berhenti sebentar di depan puskesmas, bang Fadil kelupaan dompetnya, lanjut lagi setelah lengkap. Berhenti lagi karena ada ibu dan anaknya yang akan ikut turun ke Karang Baru. Lanjut lagi.

Jalanan yang berkelok-kelok membuat perut terasa mual. Nanjak dan berkelok-kelok, hingga pusuk sembalun tiba. Turun berkelok-kelok, perut dan kepala mulai pening. Saya coba tidur dengan amaq Fadil dan amaq Rian, bisa juga. Saat berhenti di Karang Baru, ibu dan anak yang ikut numpang turun, amaq pindah posisi ke depan temani amaq Fina. Saya dan bang Fadil berdiri berpegangan di belakang jok mobil depan. Menikmati terpaan angin, hingga sampai di perempatan Aikmel.

Ambil lajur kiri cari tempat teduh, dan rehat. Bang Yon datang, kami duduk berempat, ada yang jual es campur, kami minum dan menanti bang Agus serta rombongan. Tak lama kemudian, setelah tiap gelas dari minuman kami habis, rombongan datang menggunakan mobil Hiaci, isuzu warna silver. Kami langsung packing, dan masuk. Berpisah dengan amaq Opick dan bang Yon.

Menaiki mobil, meninggalkan Lombok, semakin jauh, jauh …


Bersambung ke part 3

Comments are closed.