Bidadari Pondok Pesantren

268

Cerpen, LOMBOKim.com – Matahari menyinar terik, menghentikan aktivitas manusia dengan berteduh menyelamatkan kulit dari sengatannya.

“Ilham, bangun bangun bangun!” Akupun sontak terbangun dari istirahat yang menyejukan raga.

“Ada apa Lam?” tanyaku.

“Itu Ham ayahmu bertengkar masalah tanah harta warisan dengan saudara-saudaranya.”

Hem,,, ini bukan masalah yang baru yang dapat membuatku terkejut. Karena saat aku SMA sampai selesai kuliah, masalah tanah harta warisan ini tidak pernah ada habisnya jadi bahan pertengkaran.

Jika ada masalah sepele yang membuat ayahku dan saudaranya tersinggung pasti nanti ujung-ujungnya akan mengungkit harta warisa lagi.

“Udah Lam biarkan saja, mereka sudah tua tapi masih saja sifat mereka kayak anak kecil. Mending tuh Lam kita bicarakan Anak pak Haji yang baru pindah dari Jawa itu.”

BACA JUGA  Bab 2 Pendekar Seragam Bebas

“Pak Haji siapa maksudmu Ham?”

“Itu loh Pak Haji Musri.”

“Oh Pak Haji Musri itu. Emang Beliau punya anak Cewek?”

“Ada Lam. Kemarin pas Aku bantu pindahin barangnya beliau, Aku tidak sengaja melihat foto anak ceweknya. Ayu tenan Lam wkwk.”

“Emang dimana sekarang anaknya beliau Ham?”

“Anaknya beliau sedang dipondok pesantren jawa, tapi tau gak! Denger-denger nih anak beliau mau  pulang.”

“Wah yang bener Ham?”

“Bener masak Aku bohong.”

Saat Aku dan Alam sedang asiknya membicarakan anak Pak Haji Musri. Tiba-tiba, Pak Haji Musri dan keluarganya lewat didepan rumah. Dan benar saja ada anak pak Haji Musri yang baru pulang dari Pondok. Semua mata tertuju pada anak beliau yang memiliki kecantikan bak bidadari yang tak bersayap.  Sampai-sampai aku sendiri tidak bisa berkedip.

“Nak Ilham!” Panggil Pak Haji Musri

BACA JUGA  Danau Saksi Galau, Cerbung 5

Saya mendengar beliau memanggil namun karena saking menikmati keindahan kecantikan bukti kebesaran Allah jadi saya tidak bisa fokus mendengar.

“Ilham, kamu dipanggil sama Pak Haji Musri itu,” tegur Alam yang menyadarkanku dari lamunan.

“Apa! pak Haji Musri manggil?”

“Iya Kamu aja yang tidak dengan.”

Waduh perasaanku bercampur aduk ada apa gerangan pak Haji Musri memanggilku. Apakah ada kaitanya dengan Aku yang memandang anaknya terlalu lama. Segelumat pemikiran terus menghantui sembari memaksakan diri berjalan ditengah terik matahari siang untuk menemui Pak Haji Musri…To be Continue (Izhar Ependi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.