Berkandang Miris, Potret Ternak Kerbau Di Desa Ketangga Jeraeng Bikin Bapper

172

Ketangga Jeraeng, LOMBOKim – Meskipun hasilnya tergolong menjanjikan, kegiatan beternak sampai sekarang masih di jadikan sebagai pekerjaan sampingan bagi sebagian masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kebiasaan para peternak, hasil peternakannya akan di jual ketika dibutuhkan. Sederhananya beternak masih dijadikan sebagai cara lain untuk menabung.

Semoga menjadi referensi, bahwa secara nasional di tahun 2008 Indonesia menghabiskan anggaran untuk impor daging sebanyak 50 triliun, dengan konsumsi daging sebesar 7,1 kg perkapita pertahun (suhubdy 2013). Untuk tahun 2019 konsumsi daging di Indonesia hanya 2.6 kg perkapita pertahun, angka yang cukup mengharukan untuk di perdebatkan.

Di Nusa Tenggara Barat pada tahun 2014 memiliki program BSS (Bumi sejuta Sapi) oleh Gubernur pada waktu itu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat serta memenuhi kebutuhan daging masyarakat. Walaupun dengan adanya program BSS dari pemerintah, sepertinya masih belum bisa memenuhi kebutuhan konsumsi daging yang masih kurang.

BACA JUGA  Satlantas Sumbawa Barat Peduli Banget Sih, Bagi - bagi Nasi Kotak di Taliwang

Padahal daging sangat penting untuk memenuhi kebutuhan protein hewani seperti gagasan yang di plopori oleh dosen fakultas Peternakan Universitas Mataram, Prof. Ir. Suhubdy ph. D yang berbunyi “Ternak Sehat Negara Kuat” Pernyataan tersebut yang mengartikan bahwa peternakan sangat penting untuk di kembangkan pada suatu wilayah.

Patut menjadi inspirasi atas keseksesan Inaq Dirayat dan Inaq Masni, salah satu sumber LOMBOKim terkait bagaimana hasil dari peternakan ini. Kepada LOMBOKim.com, Kamis (2/4) suami istri tersebut bercerita bahwa Ia sudah lebih dari 3 tahun sebagai peternak kerbau dangan kesan yang sangat memuaskan dari hasil ternak kerbau tersebut.

Diceritakannya, satu kali menjual, paling sedikit Ia mendapatkan hasil sebesar Rp10.100.000. Berdasarkan pengalamannnya, pernah mendapakan sampai Rp 60.000.000 dalam jangka setahun beroperasi. Iq. Masni juga bercerita mengenai sistem perkandangan yang di gunakan yaitu semi ekstensif.

“Dari jam 12 siang ternak selalu di gembala untuk mencari pakan dan di masukan ke kandang pada jam 5 sore,” tuturnya

Beternak kerbau bagi keluarganya sangat membantu dari segi perekonomian, begitupun dengan waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk perawatan “Perekonomian, Alhamdulillah. Beternak kerbau juga tidak begitu sulit karna rata-rata kerbau Saya tidak agresif, dan tidak memilah pakan yang di berikan.,” imbuhnya.

Namun demikian, layaknya manusia, hewan pun dirasakan pasangan ini butuh perhatian nan kesehatan. Banyak sekali Harapan dari Inaq Masni dan mamiq Dirayat terkait peternakan yang selama ini tidak ada campur tangan dari pihak pemerintah setempat. LOMBOKim.com merangkum harapannya, Kamis 02 April 2020, diantaranya :

BACA JUGA  Sosialisasi New Normal Life, Kapolda NTB Terjun Langsung Sasar Pengguna Jalan
  1. Ia ingin diberdayakan, baik dalam bentuk pelatihan atau training dari pihak dinas Peternakan setempat terkait optimlisasi hasil ternak.
  2. Berharap bantuan pemerintah setempat dalam bentuk uang untuk di pergunakan merenovasi kandang miliknya yang dirasakan sangat mengenaskan guna mencegah banyaknya resiko pada ternak.

Secara umum pelaku peternakan tersebut juga berharap agar kegiatan beternak ini mendapatkan perhatian yang serius, “Karena sampai sekarang yang saya rasakan tidak ada sama sekali perhatian dan keseriusan pemerintah dan dinas setempat untuk mengembangkan peternakan ini,” pantau Inaq Masni (Muhammad Khalid Rozani)

Partisipasi Publik terkait Informasi ini membutuhkan jawaban pihak terkait. Apabila ada hak jawab atas informasi ini, Saya, Muhammad Khalid Rozani siap berdedikasi untuk menyuarakan kembali, demi output kemaslahatan bersama.

Leave A Reply

Your email address will not be published.