Beritakan Nenek Miskin Tak Terima Bantuan, Wartawan Di Lombok Dipukul Oknum Kadus

286

Kediri, LOMBOKim.com – Akibat mewabahnya virus Covid-19 mengakibatkan terjadinya distrub terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini membuat masyarakat menengah kebawah merasakan dampak negatifnya. Bagimana tidak, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka harus bekerja setiap hari. Jika tidak, mereka tidak bisa makan. Sedangkan untuk meminimalisir penyebaran wabah ini, masyarakat dihimbau untuk tetap diam di rumah.

Dengan keadaan yang memprihatikan seperti ini, pemerintah mulai menggelontorkan bantuan sosial baik dalam bentun sembako maupun uang tunai. Namun, dengan banyaknya bantuan sosial yang ada, memungkinkan terjadinya penyaluran kurang tepat sasaran akibat human error atau bahkan karena unsur kesengajaan.

Ha ini lah yang membuat salah satu jurnalis siber media online Ahmad Saheb menyoroti dan memuat berita tentang bantuan sosial tak tepat sasaran. Ia iba dengan salah seorang nenek tua renta asal Dusun Karang Bedil Utara, Desa Kediri Induk, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, yang kehidupannya dibawah garis kemiskinan. Dalam berita tersebut diterangkan bahwa nenek tua itu jarang mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, terutama disinyalir minim perhatian dari pemerintah setempat.

Berita ini pun sempat viral dan menuai protes serta tanggapan dari netizen. Namun, bukannya mendapat respon positif, oknum kadus malah mencaci makinya dengan bermacam pernyataan.

“Saat sedang berbuka puasa tiba-tiba dia datang sambil memaki-maki saya, dan melemparkan pukulan ke arah hidung dan mulut saya dan akhirnya saya bertengkar denganya,” ungkap Saheb sambil merintih kesakitan, Rabu (13/05/2020).

Radi petugas Puskesmas Kediri mengatakan kondisi korban sangat kritis mengingat tulang hidunnya mengalami patah ringan, dan rahangnya juga mengalami luka sehingga berlumuran darah.

“Saat ini, pasien dalam perawatan dan akan dirujuk ke rumah sakit Umum Patuh Patuh Patju,” jelas Radi.

Menanggapi kejadiaan ini, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) wilayah NTB mengecam keras kasus tersebut. Oknum Kadus sebagai  penganiaya harus diproses secara hukum.

“Peliputan dan pemberitaan yang dilakukan rekan kita sesuai dengan tupoksinya sebagai jurnalis. Tidak ada indikasi pelanggaran kode etik. Semestinya semua pihak dapat memahami hal itu, karena haknya dijamin oleh Undang-Undang Kebebasan Pers,” tegas Fauzan Zakaria, Ketua AMSI NTB.

Fuzan menjelaskan, fungsi media adalah sebagai sarana kontrol sosial. Sehingga selalu berjalan dengan tantangan dan resiko. Namun permasalahan dalam pemberitaan seharusnya disikapi menggunakan sarana dalam UU Pers, yaitu hak jawab dan klarifikasi. (Izhar Ependi)

Comments are closed.