Bencana Kekeringan Melanda, Seriuskah Pemda Menanganinya.?

217

Oleh: Ahmad Riadi

Opini, LOMBOKim.com. Kekeringan pada dasarnya adalah kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan (beberapa bulan hingga bertahun-tahun).

Kekeringan sebagai salah satu
masalah yang sering muncul, dengan seringnya muncul tentu harus menjadi perhatian serius dalam menanggulanginya, Seperti halnya yang di alami oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bencana kekeringan melanda 74 kecamatan dan 318 desa. Dan tidak kurang dari 651.735 jiwa penduduk terdampak kekeringan di sembilan kabupaten/kota di Daerah Nusa Tenggara Barat (Sumber, Lombok Post).

Daerah yang saat ini dilanda sebagian besar merupakan langganan kekeringan. Daerah-daerah yang dimaksud salah satunya adalah kabupaten Lombok Timur.

Perlu di ketahui bahwa terdapat sebanyak 13 kecamatan di Lombok timur yang rawan kekeringan. Diantaranya, Kecamatan Jerowaru, Keruak, Sakra Timur, Sembalun, Sambelia, Suela, Terara, Aikmel, Sikur, Montong Gading, Sakra, Lenek dan Selong dengan jumlah terdampak sebanyak 39.691 KK atau 127.155 jiwa. (Sumber: suara NTB)

BACA JUGA  Marak Aksi Pencurian, Warga Dusun Batu Sela Galakkan Ronda Malam

Salah satu yang paling kering di Kabupaten Lombok Timur wilayah selatan, yakni Kecamatan Jerowaru, Keruak, dan Sakra Timur. Kondisinya yang berada di pesisir dan tidak memiliki cekungan air tanah menyebabkan penduduk tidak hanya mengalami kesulitan dalam kepentingan pertanian, namun juga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Dalam menanggulangi krisis kekeringan, adalah tanggung jawab pemerintah baik pusat maupun daerah. Sebab Kekeringan dapat berdampak pada kelangsungan hidup, karna air sebagai sumber utama penopang sendi kehidupan.

BACA JUGA  Kasus Tilang ZA, Duka Dibalik Berita-Berita Polres Lombok Timur

Untuk mengetahui bentuk tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten Lombok Timur dalam menanggulangi kekeringan khususnya di Kecamatan Jerowaru dengan dibangunnya SPAM Tutuk.

Hadirnya SPAM Tutuk yang dianggarkan Rp. 3.987.196.000.00, oleh masyarakat diharapkan sebagai Solusi ternyata hanyalah sebuah mimpi, hal demikian di karnakan sampai tulisan ini dibuat, SPAM tersebut pernah di uji coba dan mengalami kebocoran pipa, dan sampai sekarang tidak pernah beroperasi lagi. Kemudian Terindikasi sebagai proyek gagal oleh aktivis selatan.

Langkah demi langkah coba di lakukan dalam menanggulangi krisis Kekeringan, sehingga pada tahun anggaran selanjutnya pada 2021 pihak PUPR menargetkan penambahan debit air, untuk dialiri ke kawasan selatan Lotim yang rentan mengalami krisis air bersih. (Sumber; Corong rakyat.com).

Strategi rancangan penanganan krisis tersebut, yakni melalui Penambahan debit air yang diambil dari tiga mata air baru di kawasan utara Lotim. Dimana Ketiga mata air tersebut, yakni mata air Jurit Sentul di Desa Jenggik Utara, mata air Duren, dan mata air Bawak Odang yang terletak di Desa Tete Batu.

BACA JUGA  Dorong Infrastruktur Digital, NTB Percepat Pembangunan Tol Langit

Akankah langkah ini mampu mengakhiri kekeringan…?

Kita semua mungkin sepakat dengan nerasi sederhana “Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka akan menuai hasil yang diharapkan,” Dalam hal ini tentu yang menjadi pertanyaan kita semua adalah kesungguhan pemerintah, terlebih anggaran yang rencanakan pada proyek 2021 sejumlah 40 Miliyar.

Berkaca dari masa lalu, sudah banyak langkah yang dilakukan dalam menanggulangi kekeringan namun tidak ada satupun dari langkah-langkah serius, yang menghasilkan hasil sesuai harapan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.